Pengertian Rawa

Diposting pada
pengertian rawa

Pengertian Rawa

Rawa merupakan bagian permukaan bumi yang tergenang air baik secara terus menerus atau musiman. Rawa mempunyai ciri khusus secara fisika, kimia, serta biologis. Kebanyakan rawa di Indonesia biasanya ada di sungai. Definisi lain dari rawa ialah semua jenis tanah berlumpur yang terbuat secara alami atau buatan manusia. Rawa biasa dianggap pembersih alamiah karena bisa menjadi pencegah polusi. Air rawa biasanya dangkal dengan ketinggian kurang dari 6 meter.


Proses Terbentuknya Rawa


  • Rawa Pantai

Rawa Pantai adalah rawa yang terbentuk disebabkan adanya pasang surut air laut. Rawa tersebut biasanya ada di pinggir pantai. Umumnya pada jenis rawa tersebut ditumbuhi oleh banyak pohon bakau. Rawa jenis tersebut bisa dimanfaatkan untuk wilayah persawahan pasang surut oleh penduduk serta pemerintah. Contohnya rawa pantai bisa ditemukan di teluk Bone Sulawesi Selatan.


  • Rawa Sungai

Rawa Sungai adalah rawa yang terbentuk karena bagian sisi sungai yang lebih rendah dari permukaan sungai sehingga sedikit demi sedikit permukaan yang lebih rendah akan terisi oleh air saat sungai itu meluap. Rawa sungai biasanya di temukan di kalimantan dan sumatera.


  • Rawa Abadi (Cekungan)

Rawa abadi atau rawa cekungan adalah rawa yang terbentuk karena adanya cekungan pada permukaan bumi. Cekungan itu terbentuk disebabkan pengaruh dari tenaga endogen. Biasanya rawa tersebut selalu di isi oleh air sehingga disebut rawa abadi. Contohnya ialah Rawa Pening di Jawa Tengah.


  • Rawa Danau

Rawa danau adalah rawa yang terjadi disebabkan pengaruh aktivitas danau. Saat musim hujan, biasanya air yang menggenangi danau akan meluap, nah air itulah yang menjadi air pada rawa. Namun pada musim kemarau air danau akan surut sehingga rawa juga biasanya kering. Contohnya ialah rawa yang airnya terbentuk dari Danau Tempe di Sulawesi Selatan.


  • Rawa Payau

Rawa payau adalah rawa yang ada di muara sungai dan keadaannya dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Air dari rawa payau berasal dari luapan air sungai yang tergabung dengan air pasang surut laut. Rawa jenis tersebut banyak ditumbuhi rerumputan dan pohon yang tahan air misalnya kayu ulin, bakau, dll. Rawa jenis tersebut biasanya ditemukan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Baca Juga :  Pengertian Etika Bisnis

Ciri-ciri Rawa

  • Rawa mempunyai air asam atau payau yang berwarna coklat sampai kehitaman.
  • Rawa banyak ada di daerah pedalaman daratan, namun ada juga yang ada di dekat pantai.
  • Beberapa bisa diolah menjadi lahan pertanian.
  • Pada bagian dasar rawa biasanya tertutup gambut yang tebal.
  • Rawa yang ada di sekitar pantai, airnya dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Saat air laut pasang, permukaan rawa akan tergenang banyak air, sementara saat air surut permukaannya akan tergenang sedikit air.
  • Rawa yang ada di tepian pantai banyak ditumbuhi pohon bakau, sementara rawa yang ada di pedalaman banyak ditumbuhi oleh pohon palem atau nipah.

Jenis-jenis Rawa


Berdasarkan Rasa Airnya

  • Rawa Asin

Rawa asin adalah rawa yang airnya berasal dari laut.

  • Rawa Payau

Rawa payau adalah rawa yang airnya terbentuk dari pencampuran air asin (dari laut) serta air tawar (dari sungai).

  • Rawa Tawar

Rawa tawar adalah rawa dengan rasa air yang tawar disebabkan airnya berasal dari sungai, hujan, air tanah, serta danau.


Berdasarkan Kondisi Air dan Tumbuhan yang Hidup

  • Swamp

Swamp adalah lahan basah yang selalu digenangi air dengan jenis tumbuhan yang hidup di sekitarnya berupa lumut, semak-semak, serta beberapa pohon kecil.

  • Marsh

Marsh adalah lahan basah yang selalu digenangi air, namun jenis tumbuhan dominan di daerah ini ialah lumur, rerumputan serta alang-alang.

  • Bog

Bog adalah lahan basah yang permukaan tanahnya cendrung kering, sementara di dalam tanahnya bersifat jenuh air. Genangan air dangkal hanya nampak di beberapa tempat.

  • Pasang Surut

Pasang surut adalah rawa yang airnya berasal dari proses pasang surut air laut, tumbuhan yang hidup di tempat ini biasanya ialah tumbuhan bakau.


Berdasarkan Letaknya

  • Rawa Dataran Rendah

Rawa dataran rendah adalah rawa yang terbentuk di daerah dataran rendah dengan permukaan datar atau cekung. Air rawa tesebut berasal dari air hujan, air tanah, air sungai, air laut, serta air danau. Biasanya kaya akan mineral.

  • Rawa Dataran Tinggi

Rawa yang ada pada daerah permukaan tinggi serta mempunyai permukaan cekung. Sumber airnya biasa berasal dari hujan.

  • Rawa Peralihan

Rawa yang sebagian tanahnya bisa dipakai sebagai lahan pertanian.

Baca Juga :  Masa Transisi Menuju Orde Baru

Klasifikasi Wilayah Rawa

Lahan rawa yang berada di daratan dan menempati posisi peralihan antara sungai atau danau dan tanah darat (uplands), ditemukan di depresi, dan cekungan-cekungan di bagian terendah pelembahan sungai, di dataran banjir sungai-sungai besar, dan di wilayah pinggiran danau. Mereka tersebar di dataran rendah, dataran berketinggian sedang, dan dataran tinggi.

Lahan rawa yang tersebar di dataran berketinggian sedang dan dataran tinggi, umumnya sempit atau tidak luas, dan terdapat setempat-setempat. Lahan rawa yang terdapat di dataran rendah, baik yang menempati dataran banjir sungai maupun yang menempati wilayah dataran pantai, khususnya di sekitar muara sungai-sungai besar dan pulau-pulau deltanya adalah yang dominan. Pada kedua wilayah terakhir ini, karena posisinya bersambungan dengan laut terbuka, pengaruh pasang surut dari laut sangat dominan.

Di bagian muara sungai dekat laut, pengaruh pasang surut sangat dominan, dan ke arah hulu atau daratan, pengaruhnya semakin berkurang sejalan dengan semakin jauhnya jarak dari laut. Berdasarkan pengaruh air pasang surut, khususnya sewaktu pasang besar (spring tides) di musim hujan, bagian daerah aliran sungai di bagian bawah (down stream area) dapat dibagi menjadi 3 (tiga) zona. Klasifikasi zona- zona wilayah rawa ini telah diuraikan oleh Widjaja-Adhi et al. (1992), dan agak mendetail oleh Subagyo (1997). Ketiga zona wilayah rawa tersebut adalah:

  • Zona I : Wilayah rawa pasang surut air asin/payau
  • Zona II : Wilayah rawa pasang surut air tawar
  • Zona Ill : Wilayah rawa lebak, atau rawa non-pasang surut

Luas Lahan Rawa

Belum seluruh wilayah lahan rawa di Indonesia diteliti cukup intensif. Dari ketiga pulau besar, Sumatera, Kalimantan, dan Papua, hanya lahan rawa pasang surut di pantai timur Sumatera (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung) telah banyak diteliti dan dipetakan tanahnya antara tahun 1969-1980 dalam rangka pelaksanaan P4S (Proyek Pengembangan Persawahan Pasang Surut), Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (sekarang, Departemen Kimpraswil). Seluruh wilayah Pulau Sumatera, termasuk wilayah lahan rawanya, kemudian dipetakan tanahnya pada tingkat tinjau oleh proyek LREP-I (Land Resource Evaluation and Planning Project) Pusat Penelitian Tanah (sekarang Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian), antara tahun 1986-1990.

Baca Juga :  Laut

Di Papua, baru wilayah di sekitar Merauke, yakni daerah S. Digul- Kabupaten Merauke, dan daerah S. Digul-Pantai Kasuari, seluas 3,7 juta ha sudah dipetakan pada tingkat tinjau oleh Pusat Penelitian Tanah untuk pengembangan wilayah di tempat tersebut (Puslittan, 1985, 1986). Wilayah rawa lainnya, seperti di sekitar Teluk Berau-Bintuni, dan di pantai utara pulau antara Nabire dan Sarmi belum pernah diteliti tanahnya.

Tim peneliti Nedeco/Euroconsult-Biec yang melakukan “Nationwide study of coastal and near coastal swamp land in Sumatra, Kalimantan, and Irian Jaya” pada tahun 1982-1984, diperkirakan pernah meneliti sebagian lahan rawa, khususnya di pantai selatan Pulau Papua ini. Selama pelaksanaan P4S antara tahun 1969- 1984, lahan rawa di Papua belum sempat tertangani oleh pemerintah pusat.


Potensi Lahan Rawa

Dari segi ekonomi lahan rawa mempunyai keragaman lingkungan fisik, sifat dan watak tanah, kesuburan tanah, dan tingkat produktivitas lahan. Sebagai akibatnya keragaman hasil produksi tanaman dan pendapatan petani akan berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, terlebih lagi apabila terdapat perbedaan dalam pemberian masukan, teknologi budidaya dan pengelolaan lahan. Lahan rawa berpotensi menjadi alternatif yang potensial diusahakan, umumnya untuk bidang pertanian.


Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan Rawa

Produktivitas lahan rawa dapat ditingkatkan melalui pendekatan varietas, pengelolaan hara dan air serta penataan lahan. Bila dilakukan optimalisasi lahan rawa dengan teknologi inovasi baru khusus untuk lahan rawa. Untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan pendekatan yang holistik menyangkut aspek perbaikan agrofisik lahan (tanah, air, dan tanaman)

dan kemampuan sosial ekonomi (modal, kelembagaan, dan adaibudaya). Keragaman hasil yang dicapai pertanian lahan rawa cukup memadai walaupun masih beragam akibat keberagaman dari sifat agrofisik lahan (tipologi lahan, tipe luapan, mintakat perairan), teknologi pengelolaan, dan penggunaan masukan (input) seperti varietas, kapur, pupuk, dan lainnya.


Demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id tentang Pengertian Rawa : Proses Terbentuknnya, Ciri, Jenis, Klasifikasi Wilayah, Luas Lahan, Potensi, Upaya Peningkatan Produktivitas, semoga bermanfaat