√ Asal Usul Simalungun : Penjelasan, Awal Mula Kisah

Diposting pada

PejelasanNama Simalungun

Daftar Isi Artikel Ini

Simalungun ialah nama salah satu kabupaten yang ada di wilayah Provinsi Sumatra Utara. Dulu, sebelum bernama Simalungun, daerah ini dikenal dengan sebutan Kampung Nagur. tetapi karena adanya sebuah peristiwa, daerah tersebut kemudian dinamai Simalungun.

Awal MulaKisah Nama Simalungun

Dahulu, di wilayah Kampung Nagur Sumatra Utara, ada sebuah kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Tanah Djawo. Kerajaan suku Batak yang bermarga Sinaga ini dipimpin seorang raja yang adil dan juga bijaksana. Didalam melaksanakan tugas pemerintahannya, sang Raja didampingi oleh sejumlah hulubalang yang tangguh serta setia membuat kerajaan ini aman dan tenteram.

Sementara itu, di luar wilayah Nagur, ada juga dua kerajaan suku Batak yang berbeda marga, yakni Kerajaan Silou dari marga Purba Tambak dan juga Kerajaan Raya dari marga Saragih Garingging. Walaupun berlainan marga, kedua kerajaan ini menjalin hubungan persahabatan yang baik dengan Kerajaan Nagur. Rakyat mereka pun saling hidup rukun dan makmur. Kemakmuran ketiga kerajaan kecil ini ternyata menarik perhatian dari kerajaan-kerajaan lain untuk bisa menguasainya.

Pada suatu hari, tersebar kabar bahwa Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa akan dating untuk menyerang Kerajaan Tanah Djawo. Mendengar kabar itu, Raja Tanah Djawo segera meminta bantuan pada Kerajaan Silou dan juga Kerajaan Raya. Kedua kerajaan itu pun mengatakan kesediaan dalam membantu Kerajaan Tanah Djawo untuk menangkal serangan dari Kerajaan Majapahit.

Bantuan yang diberikan oleh Kerajaan Silou dan juga Kerajaan Raya ternyata mampu menangkal bahkan mengusir pasukan dari Majapahit di wilayah Nagur. Hal yang sama pun terjadi ketika Kerajaan Silou mendapatkan serangan dari Kerajaan Aceh. Kedua kerajaan yakni Kerajaan Tanah Djawo dan Kerajaan Raya, membantu Kerajaan Silou sampai akhirnya selamat dari ancaman bahaya.

Baca Juga :  √ Pengertian Fermentasi : Jenis, Ciri, Tujuan, Fungsi, Manfaat, Faktor

Suatu ketika, ribuan tentara yang tidak diketahui dari mana asalnya datang menyerang ketiga kerajaan tersebut dengan bergantian. Pertama-tama, mereka menyerang Kerajaan Tanah Djawo, lalu Kerajaan Silou, dan yang terakhir Kerajaan Raya. Walaupun sudah saling membantu, ketiga kerajaan itu pun akhirnya takluk juga. Serangan tersebut membuat raja terpaksa menyelamatkan dirinya masing-masing. Hal itu pun terjadi pula pada rakyat yang lari tunggang-langgang untuk menghindari sergapan dari musuh. Mereka meninggalkan wilayah itu dengan cara berkelompok. Selama masa pelarian, mereka harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari dari kejaran para musuh.

Nasib para pengungsi tersebut sangatlah menderita. Mereka dilanda kelaparan dan juga terserang berbagai macam penyakit. Untuk bertahan hidup pun, setiap kelompok pengungsi harus mencari tempat tinggal masing-masing yang dirasa cukup aman. Sekelompok pengungsi dari Kampung Nagur lalu menemukan tanah Sahili Misir yang kini dikenal dengan nama pulau Samosir, yakni sebuah pulau yang terdapat di tengah-tengah Danau Toba. Dan di sanalah mereka menetap serta membuka perladangan untuk bercocok tanam.

Setelah sekian lamanya mereka menetap di pulau itu, hidup mereka pun mulai tertata. Bahkan, ada dari mereka yang telah mempunyai anak cucu. Suatu ketika, mereka merindukan kampung halamanannya dan ingin kembali ke Kampung Nagur. Yang pada akhirnya mereka melakukan musyawarah.

“Siapa di antara kalian semua yang ingin kembali ke Kampung Nagur?” tanya seorang sesepuh selaku pemimpin dalam musyawarah.

Mendengar pertanyaan tersebut, sebagian dari peserta tidak mau untuk kembali ke kampung halaman mereka.

“Maaf, Bapak-bapak. Kenapa kalian tidak mau ikut dengan kami? Apakah kalian tidak rindu kampung halaman?” tanya sesepuh itu pada mereka.

“Maaf, Tuan Sesepuh. Sebenarnya kami pun sangat rindu kampung halaman. Akan tetapi, kami sudah merasa betah dan juga nyaman tinggal di pulau ini. Tempat ini sudah seperti kampung halaman sendiri bagi kami. Lagi pula, siapa yang akan menjaga hewan ternak dan juga ladang-ladang apabila kamu semua ikut kembali ke kampung halaman?” jawab seorang peserta musyawarah.

Baca Juga :  √Apa itu Seminar : Pengertian, Fungsi, Susunan , Yg terlibat

“Benar Tuan Sesepuh,  anak serta cucu kami pun merasa senang tinggal di pulau ini,” tambah seorang peserta musyawarah yang lainnya.

“Baiklah, jika begitu. Untuk yang ingin tetap tinggal di sini, ku harap kalian tetap akan merawat baik-baik tempat ini. Bagi yang ingin pulang ke kampung halaman diharapkan segera mempersiapkan segala kebutuhannya,” ujar sesepuh itu.

Para warga yang ingin kembali ke kampung halaman segera menyiapkan persiapan yang seperlunya. Kemudian mereka mulai berangkat menuju Kampung Nagur. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, mereka pada akhirnya tiba di Kampung Nagur. Saat tiba kampung halamannya, beberapa warga terlihat menangis haru. Mereka teringat peristiwa yang menimpa kampung halaman mereka dahulu. Rumah-rumah mereka sudah tiada. Hanya ada tumbuhan semak-belukar dan juga pepohonan yang terlihat tumbuh dengan subur.

“Sima-sima nalungun,” kata mereka semua.

Sejak saat itulahKampung Nagur berubah nama menjadi Sima-sima Nalungun, yang artinya daerah sunyi sepi. Yang kemudian lama-kelamaan, orang-orangmenyebutnya denganSimalungun. Sampai saat ini, kata Simalungun masih dipakai untuk menyebut nama sebuah Kabupaten di ProvinsiSumatra Utara tersebut.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Asal Usul Simalungun : Penjelasan, Awal Mula Kisah, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :