Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

Diposting pada

Definisi Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

Abraham Maslow mengembangkan teori kepribadian yang telah merajai sejumlah bidang yang berbeda, termasuk pendidikan. Ini pengaruh luas karena sebagian tingginya tingkat efektif teori Maslow. Teori ini akurat dan menggambarkan realitas banyak dari pengalaman pribadi. Banyak orang menemukan bahwa mereka dapat memahami apa kata Maslow. Mereka bisa mengenali beberapa fitur dari pengalaman mereka atau tingkahlaku yang benar dan bisa diidentifikasi tetapi mereka tidak pernah dimasukkan ke dalam kata-kata.

Maslow ialah seorang psikolog humanistik. Humanis berfokus pada kemampuan. Mereka percaya bahwa individu berusaha untuk tingkat atas kemampuan. insan mencari batas-batas kreativitas, tertinggi mencapai kesadaran dan peraturan. Ini sudah diberi label “berfungsi penuh orang”, “kepribadian sehat”, atau sebagai Maslow mengucapkan tingkat ini, “orang-aktualisasi diri.”

Maslow telah membuat teori hierarkhi keperluan. Semua kebutuhan dasar itu ialah instinctoid, setara dengan naluri pada hewan. Manusia mulai dengan disposisi yang sangatlah lemah yang kemudian kuno sepenuhnya sebagai seorang yang tumbuh. Bila lingkungan yang benar, orang akan tumbuh menjadi lurus dan indah, aktualisasi potensi yang mereka sudah mewarisi. bila lingkungan tidak “benar” (dan kebanyakan tidak ada) mereka tidak bisa tumbuh tinggi dan lurus dan indah.


Biofrafi Abraham Maslow

Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara dengan Orang Tua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Pada masa kecilnya, ia dikenal sebagai anak yang kurang berkembang dibanding anak lain sebayanya. “Saya adalah seorang anak Yahudi yang tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas dihuni oleh non Yahudi. Saya merasa terisolasi dan tidak bahagia pada masa itu”.

Selepas SMU Dia mengambil studi hukum di City College of New York (CCNY), sebelum minatnya kemudian beralih pada bidang psikologi, yang dipelajarinya hingga meraih gelar PhD pada tahun 1934 di University of Wisconsin. Setahun kemudian Dia kembali ke New York dan bekerjasama dengan E.L. Thorndike untuk melakukan riset tentang seksualitas manusia (human sexuality) dan menjadi pengajar penuh di Brooklyn College. Maslow kemudian memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia dan masih mendalami subjek yang sama. Di sana ia bertemu dengan mentornya yang lain yaitu Alfred Adler, salah satu kolega awal dari Sigmund Freud.

Pada tahun 1937 hingga tahun 1951, Maslow memperdalam ilmunya di Brooklyn College. Di New York, Ia bertemu dengan dua mentor lainnya yaitu Ruth Benedict seorang antropologis, dan Max Wertheimer seorang Gestalt psikolog, yang ia kagumi secara profesional maupun personal. Kedua orang inilah yang kemudian menjadi perhatian Maslow dalam mendalami perilaku manusia, kesehatan mental dan potensi manusia. Ia menulis dalam subjek subjek ini dengan mendalam.

Tulisannya banyak meminjam dari gagasan-gagasan psikologi, namun dengan pengembangan yang signifikan. Penambahan tersebut khususnya mencakup hirarki kebutuhan, berbagai macam kebutuhan, aktualisasi diri seseorang, dan puncak dari pengalaman. Maslow menjadi pelopor aliran humanistik psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Pada masa ini ia dikenal sebagai “kekuatan ke tiga” di sanping teori Freud dan behaviorisme.

Kontribusi utama Maslow dengan psikologi adalah tangga / piramida kebutuhan dasar, bukti menunjukkan bahwa ia awalnya datang dengan ide di tahun 1940-an. Menampilkan piramida yang beberapa kebutuhan yang lebih kuat daripada yang lain, mulai dari yang paling mendesak untuk yang paling canggih. Kelima kategori yang fisiologis (jenis kelamin, tidur, air, dll makanan), keamanan (keamanan tubuh, kesehatan, dll kerja), milik / cinta (persahabatan, keluarga dan keintiman seksual), harga diri (rasa percaya diri, menghormati orang lain dan oleh orang lain ), dan aktualisasi diri (moralitas, kreativitas dll).

Teorinya adalah bahwa meskipun tidak memenuhi syarat dari segmen bawah tangga / piramid akan mencegah seseorang naik ke tingkat berikutnya. Mereka yang mencapai puncak piramida adalah orang-actualising diri. Hirarki Kebutuhan Maslow menjadi gagasan diterima di bidang psikologi dan antropologi, serta menyeberang ke bidang kemanusiaan lainnya.

Maslow tidak melakukan revisi teori dan ini berarti bahwa karya-karya besar lainnya Motivation and Personality ‘(1954) dan Menuju Psikologi Menjadi’ (1962) telah diabaikan untuk sebagian besar. Maslow juga mengkritik psikologi mainstream untuk overusing patologi dan tidak melihat individu, ‘diri otentik.

Baca Juga :  Batang Otak

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

Maslow telah membentuk sebuah hirarki dari lima tingkat keperluan dasar. Di luar keperluan tersebut, keperluan tingkat yang lebih tinggi ada. Ini termasuk keperluan untuk memahami, apresiasi estetik dan spiritual keperluan murni. Dalam tingkat dari lima keperluan dasar, orang tidak merasa perlu kedua hingga tuntutan pertama telah puas, ataupun ketiga sampai kedua telah puas, dan sebagainya. Kebutuhan dasar Maslow ialah sebagai berikut:


Teori Kebutuhan Maslow


  • Kebutuhan Fisiologis

Ini ialah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari keperluan oksigen, pangan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka ialah kebutuhan kuat karena bila seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.


  • Kebutuhan Keamanan

apabila semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan tingkahlaku, keperluan keamanan bisa menjadi aktif. Orang dewasa mempunyai sedikit kesadaran keamanan mereka kebutuhan kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering memperlihatkan tanda-tanda rasa tidak aman dan perlu aman.


  • Kebutuhan Cinta, Sayang dan Kepemilikan

apabila kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya keperluan  untuk bercinta, sayang dan kepemilikan bisa muncul. Maslow menyatakan bahwa orang yang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta dan kasih sayang memberikan rasa ingin memiliki.


  • Kebutuhan Esteem

apabila tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga dapat menjadi dominan. Ini melibatkan keperluan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia mempunyai kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Apabila kebutuhan ini terpenuhi, orang akan merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Apabila kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.


  • Kebutuhan Aktualisasi Diri

Apabila semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka ialah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow mengilustrasikan pengaktualan diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan menjalani apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seseorang musisi perlu bermusik, seniman perlu melukis, dan penyair perlu menulis.” keperluan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan.

Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, cemas. Apabila seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurangnya harga diri, sangat mudah untuk dimengerti apa orang itu cemas tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin apabila ada kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Teori hierarkhi keperluan sering digambarkan sebagai piramida,  lebih besar tingkat bawah mewakili keperluan yang lebih rendah, dan titik atas mewakili kebutuhan aktualisasi diri. Maslow meyakini bahwa satu-satunya alasan bahwa orang tidak akan pernah beralih dengan baik apabila di arah aktualisasi diri merupakan karena kendala ditempatkan di jalan mereka oleh rakyat negara.

Dia bahwa pendidikan adalah salah satu kendala. Dia merekomendasikan cara pendidikan bisa beralih dari orang biasa-pengerdilan taktik untuk tumbuh pendekatan orang. Maslow menyatakan bahwa pendidik perlu menanggapi potensi manusia telah untuk tumbuh menjadi orang-aktualisasi diri / jenis-nya sendiri. Sepuluh poin yang pendidik perlu alamat yang terdaftar:

  1. Kita perlu mengajar orang untuk menjadi otentik, untuk menyadari diri batin mereka dan mendengar perasaan mereka-suara batin.
  2. Kita perlu mengajar orang untuk mengatasi pengkondisian budaya mereka dan menjadi warga negara dunia.
  3. Kita perlu membantu orang menemukan panggilan mereka dalam hidup, panggilan mereka, nasib atau takdir. Hal ini terutama difokuskan pada menemukan karier yang tepat dan pasangan yang tepat.
  4. Kita perlu mengajar orang bahwa hidup ini berharga, bahwa ada sukacita yang harus dialami dalam kehidupan, dan bila orang yang terbuka untuk melihat yang baik dan gembira dalam semua jenis situasi, itu membuat hidup layak.
  5. Kita perlu menerima orang seperti dia atau dia dan membantu orang belajar sifat batin mereka. Dari pengetahuan yang sebenarnya bakat dan keterbatasan kita dapat tahu apa yang harus membangun di atas, apa potensi yang benar-benar ada.
  6. Kita perlu melihat itu kebutuhan dasar orang dipenuhi. Ini mencakup keselamatan, belongingness, dan keperluan harga diri.
  7. Kita perlu refreshen kesadaran, mengajar orang untuk menghargai keindahan dan hal-hal yang baik lainnya di alam dan dalam hidup.
  8. Kita perlu mengajar orang bahwa kontrol yang baik, dan lengkap meninggalkan yang buruk. Dibutuhkan kontrol untuk meningkatkan keunggulan hidup di semua daerah.
  9. Kita perlu mengajarkan orang untuk mengatasi masalah sepele dan bergulat dengan masalah serius dalam kehidupan. Ini termasuk dalam masalah ketidakadilan, rasa sakit, penderitaan, dan kematian.
  10. Kita perlu mengajar orang untuk menjadi pemilih yang baik. Mereka harus diberi latihan dalam membuat pilihan yang terbaik tentunya.

Karakteristik Maslow

Berdasar hasil analisis tersebut, Maslow menyusun sejumlah kualifikasi yang mengindikasikan karakteristik pribadi-pribadi yang telah beraktualisasi:

  1. Memusatkan diri pada realitas (reality-centered), yakni melihat sesuatu apa adanya dan mampu melihat persoalan secara jernih, bebas dari bias.

  2. Memusatkan diri pada masalah (problem-centered), yakni melihat persoalan hidup sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dipecahkan, bukan dihindari.

  3. Spontanitas, menjalani kehidupan secara alami, mampu menjadi diri sendiri serta tidak berpura-pura.

  4. Otonomi pribadi, memiliki rasa puas diri yang tinggi, cenderung menyukai kesendirian dan menikmati hubungan persahabatan dengan sedikit orang namun bersifat mendalam.

  5. Penerimaan terhadap diri dan orang lain. Mereka memberi penilaian tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain orang-orang yang telah beraktualisasi diri lebih suka menerima kamu apa adanya ketimbang berusaha mengubah diri kamu.

  6. Rasa humor yang ‘tidak agresif’ (unhostile). Mereka lebih suka membuat lelucon yang menertawakan diri sendiri atau kondisi manusia secara umum (ironi), ketimbang menjadikan orang lain sebagai bahan lawakan dan ejekan.

  7. Kerendahatian dan menghargai orang lain (humility and respect)

  8. Apresiasi yang segar (freshness of appreciation), yakni melihat sesuatu dengan sudut pandang yang orisinil, berbeda dari kebanyakan orang. Kualitas inilah yang membuat orang-orang yang telah beraktualisasi merupakan pribadi-pribadi yang kreatif dan mampu menciptakan sesuatu yang baru.

  9. Memiliki pengalaman spiritual yang disebut Peak experience. Peak experience atau sering disebut juga pengalaman mistik adalah suatu kondisi saat seseorang (secara mental) merasa keluar dari dirinya sendiri, terbebas dari kungkungan tubuh kasarnya. Pengalaman ini membuat kita merasa sangat kecil atau sangat besar, dan seolah-olah menyatu dengan semesta atau keabadian (the infinite and the eternal). Ini bukanlah persoalan klenik atau takhayul, tetapi benar-benar ada dan menjadi kajian khusus dalam Psikologi Transpersonal, suatu (baru klaim) aliran keempat dalam ilmu psikologi setelah psikoanalisis, behaviorisme, dan humanisme, yang banyak mempelajari filosofi timur dan aspek-aspek kesadaran di luar kesadaran normal (Altered States of Consciousness, ASC).

    Peak experience bisa jadi merupakan argumen ilmiah yang valid untuk menjelaskan fenomena para rasul yang menerima wahyu dari Allah, atau pengalaman sufistik yang merasa telah memiliki sifat-sifat ketuhanan. Di sini maksudnya bukan sama persis seperti Tuhan, akan tetapi adalah menerapkan sifat-sifat Tuhan seperti Maha Adil, Maha Tahu, dan lain sebagainya sesuai tataran tingkatan manusia. Karena manusia itu tidaklah bisa menyamai sifat dan kemampuan Tuhan secara persis. (ini hanya sekedar pendapat penulis).


Implikasi Teori Maslow

Pemikiran Maslow tentang Teori Hierarki Kebutuhan Individu sudah dikenal luas, namun aplikasinya untuk kepentingan pendidikan siswa di sekolah tampaknya belum mendapat perhatian penuh. Secara ideal, dalam rangka pencapaian perkembangan diri siswa, sekolah seyogyanya dapat menyediakan dan memenuhi berbagai kebutuhan siswanya.

Berikut ini ringkasan tentang beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan di sekolah dalam mengaplikasikan teori kebutuhan Maslow.

Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis:

  • Menyediakan program makan siang yang murah atau bahkan gratis.
  • Menyediakan ruangan kelas dengan kapasitas yang memadai dan temperatur yang tepat
  • Menyediakan kamar mandi/toilet dalam jumlah yang seimbang.
  • Menyediakan ruangan dan lahan untuk istirahat bagi siswa yang representatif.

Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman:

  • Sikap guru: menyenangkan, mampu menunjukkan penerimaan terhadap siswanya, dan tidak menunjukkan ancaman atau bersifat menghakimi.
  • Adanya ekspektasi yang konsisten
  • Mengendalikan perilaku siswa di kelas/sekolah dengan menerapkan sistem pendisiplinan siswa secara adil.
  • Lebih banyak memberikan penguatan perilaku (reinforcement) melalui pujian/ ganjaran atas segala perilaku positif siswa dari pada pemberian hukuman atas perilaku negatif siswa.

Pemenuhan Kebutuhan Kasih Sayang atau Penerimaan:

  • Hubungan Guru dengan Siswa:
  • Guru dapat menampilkan ciri-ciri kepribadian : empatik, peduli dan intereres terhadap siswa, sabar, adil, terbuka serta dapat menjadi pendengar yang baik.
  • Guru dapat menerapkan pembelajaran individua dan dapat memahami siswanya (kebutuhan, potensi, minat, karakteristik kepribadian dan latar belakangnya)
  • Guru lebih banyak memberikan komentar dan umpan balik yang positif dari pada yang negatif.
  • Guru dapat menghargai dan menghormati setiap pemikiran, pendapat dan keputusan setiap siswanya.
  • Guru dapat menjadi penolong yang bisa diandalkan dan memberikan kepercayaan terhadap siswanya.
  • Hubungan Siswa dengan Siswa:
  • Sekolah mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kerja sama mutualistik dan saling percaya di antara siswa
  • Sekolah dapat menyelenggarakan class meeting, melalui berbagai forum, seperti olah raga atau kesenian.
  • Sekolah mengembangkan diskusi kelas yang tidak hanya untuk kepentingan pembelajaran.
  • Sekolah mengembangkan tutor sebaya
  • Sekolah mengembangkan bentuk-bentuk ekstra kurikuler yang beragam.

Pemenuhan Kebutuhan Harga Diri:

  • Mengembangkan Harga Diri Siswa
  • Mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan latar pengetahuan yang dimiliki siswanya (scaffolding)
  • Mengembangkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa
  • Memfokuskan pada kekuatan dan aset yang dimiliki setiap siswa
  • Mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi
  • Selalu siap memberikan bantuan apabila para siswa mengalami kesulitan
  • Melibatkan seluruh siswa di kelas untuk berpartisipai dan bertanggung jawab.
  • Ketika harus mendisiplinkan siswa, sedapat mengkin dilakukan secara pribadi, tidak di depan umum.
  • Penghargaan dari pihak lain
  • Mengembangkan iklim kelas dan pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa dapat saling menghormati dan mempercayai, tidak saling mencemoohkan.
  • Mengembangkan program “star of the week”
  • Mengembangkan program penghargaan atas pekerjaan, usaha dan prestasi yang diperoleh siswa.
  • Mengembangkan kurikulum yang dapat mengantarkan setiap sisiwa untuk memiliki sikap empatik dan menjadi pendengar yang baik.
  • Berusaha melibatkan para siswa dalam setiap pengambilan keputusan yang terkait dengan kepentingan para siswa itu sendiri.
  • Pengetahuan dan Pemahaman
  • Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengeksplorasi bidang-bidang yang ingin diketahuinya.
  • Menyediakan pembelajaran yang memberikan tantangan intelektual melalui pendekatan discovery-inquiry
  • Menyediakan topik-topik pembelajaran dengan sudut pandang yang beragam
  • Menyediakan kesempatan kepada para siswa untuk berfikir filosofis dan berdiskusi.
  • Estetik
  • Menata ruangan kelas secara rapi dan menarik
  • Menempelkan hal-hal yang menarik dalam dinding ruangan, termasuk di dalamnya memampangkan karya-karya seni siswa yang dianggap menarik.
  • Ruangan dicat dengan warna-warna yang menyenangkan
  • Memelihara sarana dan pra sarana yang ada di sekeliling sekolah
  • Ruangan yang bersih dan wangi
  • Tersedia taman kelas dan sekolah yang tertata indah

Pemenuhan Kebutuhan Akatualisasi Diri

  • Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melakukan yang terbaiknya
  • Memberikan kekebasan kepada siswa untuk menggali dan menjelajah kemampuan dan potensi yang dimilikinya
  • Menciptakan pembelajaran yang bermakna dikaitkan dengan kehidupan nyata.
  • Perencanaan dan proses pembelajaran yang melibatkan aktivitas meta kognitif siswa.
  • Melibatkan siswa dalam proyek atau kegiatan “self expressive” dan kreatif

Pengertian Teori Prilaku

Teori prilaku adalah teori yang menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai / karyawan yaitu teori x atau teori y.


  • Teori X

Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.


  • Teori Y

Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.

Penelitian teori x dan y menghasilkan teori gaya kepemimpinan ohio state yang membagi kepemimpinan berdasarkan skala pertimbangan dan penciptaan struktur. Teori Z dapat anda baca di artikel lain di situs organisasi.org ini. Gunakan fasilitas pencarian yang ada untuk menemukan apa yang anda butuhkan.


Perkembangan Teori Manajemen

Teori dan Aliran Manajemen

Mempelajari teori manajemen membatu kita menjadi seorang manajer yang efektif dalam mengelola organisasi yang semakin kompleks dewasa ini. Manajemen merupakan disiplin ilmu yang berfokus pada hasil yang mudah dilaksanakan. Teori adalah kumpulan prinsip yang disusun secara sistematis. Sedangkan konsep adalah simbol yang dipakai untuk menjelaskan pengertian tertentu dalam teori.

Paling tidak ada 4 (empat) alasan mempelajari teori manajemen antara lain :


  • Teori mengarahkan Keputusan Manajemen.

Mempelajari teori membantu mamahami proses yang pokok dan dapat memilih suatu tindakan yang efektif. Pada hakikatnya suatu teori merupakan kelompok asumsi-asumsi yang koheren/ logis, yang menjelaskan antara dua atau lebih fakta yang dapat di observasi. Teori yang absah, dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada situasi tertentu. Dengan pengetahuan ini, dapat menerapkan teori manajemen yang berbeda terhadap situasi yang berbeda.


  • Teori Membentuk Pandangan Kita Mengenai Organisasi

Mempelajari teori manajemen juga memberi petunjuk kepada kita dimana kita mendapatkan beberapa ide mengenai organisasi dan manusia didalamnya.


  • Teori Membuat Kita Sadar Mengenai Lingkungan Usaha

Dengan mempelajari teori, kita dapat melihat bahwa setiap teori adalah hasil dari lingkungannya – social, ekonomi, politik dan kekuatan teknologi yang ada pada waktu dan tempat terjadinya peristiwa tertentu. Pengetahuan ini akan membantu kita memehami apa sebabnya teori tertentu cocok terhadap keadaan yang berbeda.


  • Teori Merupakan Suatu Sumber Ide Baru

Teori memungkinkan kita pada suatu kesempatan mengambil pandangan yang berbeda dari situasi sehari-hari. Pendekatan “electic”, yaitu praktek meminjam prinsip-prinsip dari teori yang berbeda, seperti yang diperlukan oleh keadaan “State of the Art” dalam teori dan praktek manajemen.


demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai Teori Hierarki Kebutuhan Maslow : Pengertian, Definisi, Biografi, Karakteristik, Implikasi Beserta Perkembangannya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semunaya.