Kota Utama Di Jepang

Diposting pada

Fungsi Atau Perannya Kota Jepang


  • Tokyo

Tokyo adalah ibukota Jepang sekaligus sebagai salah satu kota terbesar di dunia, dengan populasi lebih dari 13 juta jiwa. Tokyo sebelumnya dikenal dengan nama Edo, dan diubah ketika menjadi ibukota kekaisaran pada tahun 1868. Kota ini diberi nama Tokyo yang artinya “ibukota timur” untuk membedakannya dari bekas ibukota, Kyoto, di Honshu barat. Tokyo tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, akan tetapi juga sebagai pusat industri, perdagangan, keuangan, dan pendidikan.

Kota Utama Di Jepang

  • Yokohama

Yokohama terletak tepat di sebelah selatan Tokyo, Yokohama adalah kota terbesar kedua dan pelabuhan terbesar  yang ada di Jepang. Yokohama merupakan pusat industri berat, contohnya seperti pembuatan baja, galangan kapal, dan pembuatan truk serta kendaraan bermotor lainnya. Pada awalnya Yokohama merupakan sebuah desa nelayan kecil, yang kemudian berkembang pesat setelah perdagangan luar negeri dibuka di tahun 1858. Kota ini rusak berat dikarenakan pemboman pada Perang Dunia II, tetapi telah dibangun kembali dengan jalan-jalan lebar serta arsitektur modern. Populasi di yokohama sekitar 3,6 juta jiwa.


  • Osaka

Kota osaka terletak di Osaka Bay, di lengan timur Laut Pedalaman, Osaka sebagai salah satu kota pelabuhan terkemuka yang ada di Jepang, bersama dengan Yokohama dan juga kota Kobe. Sering disamakan dengan kota Chicago di AS, Osaka adalah salah satu kota industri di Jepang. Selain itu Osaka juga merupakan kota terbesar ketiga setelah Tokyo dan Yokohama, dengan jumlah populasinya sekitar 2,6 juta jiwa. Secara historis kota osaka dikenal sebagai kota pedagang. Osaka sering disebut sebagai “dapur bangsa” serta menjadi pusat perdagangan beras pada periode Edo.


  • Kyoto

Kyoto merupakan ibukota Jepang selama lebih dari 1.000 tahun, hingga pusat pemerintahan dipindahkan ke Tokyo di tahun 1868. Kota ini masih menjadi pusat agama serta seni tradisional Jepang. Dahulu, kota ini pernah disebut sebagai “Kota Sepuluh Ribu Kuil”. Yang terletak di tengah pulau Honshu, Kyoto mempunyai populasi sekitar 1,4 juta jiwa. Industri utama di Kyoto ialah teknologi informasi dan elektronik. Pariwisata juga menjadi pendongkrak perekonomian yang ada Kyoto. Semua ini berkat kekayaan budaya yang ada di kota ini.


  • Nagoya

Nagoya lataknya hampir di tengah-tengah Honshu. Terletak di Ise Bay, kota ini juga mempunyai pelabuhan yang sangat baik. Nagoya merupakan pusat industri otomotif Jepang. Kota ini juga terkenal dengan produksi tembikar, porselen, serta enamel yang indah. Penduduk di Nagoya sekitar 2,2 juta jiwa. Selain itu Nagoya juga dikenal dengan objek wisatanya yang mengagumkan, contohnya seperti kuil, benteng, museum, dan lain sebagainya. Kota ini terus mengembangkan di sektor industrinya, salah satunya industri teknologi robot yang sedang berkembang pesat di zaman sekarang.


  • Sapporo

Sebagai ibu kota Hokkaido, Sapporo merupakan kota yang berkembang pesat. Industri utamanya yaitu meliputi pengolahan makanan, mesin perbaikan, percetakan, konstruksi, dan juga pertambangan. Kota ini paling dikenang sebagai tuan rumah Olimpiade pada Musim Dingin di tahun 1972. Dengan jumlah penduduknya sekitar 1,9 juta jiwa, Sapporo menjadi kota dengan populasi terbesar keempat yang ada di Jepang. Sapporo juga menjadi tujuan utama bagi para pecinta olahraga musim dingin dan kegiatan pada musim panas karena iklimnya yang nyaman.


  • Kobe

Kobe terletak di bagian barat pulau Honshu di Osaka Bay, di seberang kota Osaka, Kobe merupakan salah satu pelabuhan kedua Jepang yang paling penting. Kobe adalah kota industri yang memproduksi kapal, besi dan baja, serta tekstil. Kobe mempunyai penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa. Kobe juga sebagai salah satu dari kota-kota di Jepang yang pertama membuka perdagangan dengan Barat menyusul dengan berakhirnya kebijakan isolasi di tahun 1853. Sejak itu, Kobe dikenal dengan kota pelabuhan kosmopolitan. Sampai saat ini, Kobe dikenal sebagai salah satu pelabuhan kontainer tersibuk yang ada di Jepang yang mengalahkan Osaka.


Kehidupan Pendesan di Jepang


  1. Hanya Bertani Penduduk Desa di Jepang Berpenghasilan 2,85 miliar.

Desa dengan hanya memiliki satu persimpangan jalan ini pendudunya berpenghasilan rata-rata per orang 25 juta yen (setara 2,85 miliar rupiah-red). Desa Kawakami di Minamisaku-gun, perfektur Nagano, adalh desa yang dapat ditemukan dengan 3 jam berkereta dari Tokyo dengan biaya satu kali perjalanan 6.290 yen. Saat ini menjadi sorotan banyak warga Jepang karena penghasilan penduduknya sangat tinggi di atas rata-rata penghasilan penduduk desa di Jepang yang sekitar sepuluh jutaan yen, ungkap TBS TV, Selasa  (19/11/2013).

Penghasilan utama dari pertanian, terutama selada (lettuce) yang terkenal sangat enak di antara Selada lain yang ada di Jepang. Bahkan beberapa negara sudah mulai pesan dari sana seperti Hongkong dan Taiwan.

Bukan hanya enak sekali, harganya ternyata relatif murah. Paling mahal lettuce dari Fukuoka. Dibandingkan lettuce dari Tokyo, Nagoya, Osaka, selada dari desa ini masih lebih murah.

Penghasilan kedua desa ini adalah dari TV kabel yang memang diperuntukkan bagi desa itu saja. Isinya umumnya mengenai informasi pertanian sehingga mendukung sekali kerja pertanian di sana. Misalnya harga-harga selada di berbagai tempat di Jepang per hari menjadi berapa yen dan sebagainya. Sehingga para petani tersebut dapat bersaing dengan baik, dengan kualitas terbaiknya.

Desa ini menyandarkan kehidupan warganya dari pertanian selada, oleh karennya pada musim dingin mereka tidak tak bisa berproduksi. Saat musim panas mereka gencar memanfaatkan tanah pertaniannya agar produksinya berlimpah, sehingga saat jatuh musim dingin dan salju tiba, banyak dari penduduk bersantai, sampai musim berganti dan dapat bekerja lagi dengan giat di persawahan dan perkebunannya.

Fasilitas yang dimiliki desa adalah perpustakaan buka 24 jam, rumah sakit buka 24 jam, perawatan atau kunjungan dokter ke rumah bagi yang lanjut usia. Lebih menarik lagi, karakter masyarakat desa ini sangat terbuka, menerima baik orang asing yang masuk ke desa itu.

Pemandangan desa sangat cantik, bisa mendaki guning, main golf, barbeque di alam terbuka, berkemah, mancing dan sebagainya. Meskipun demikian mereka tak menyandarkan penghasilan dari pariwisata. Hampir 100 persen dari hasil pertanian terutama selada tersebut.


  1. Desa Di Jepang ini Penduduknya Hampir Musnah, Berganti Dengan Boneka-Boneka.

Desa Nagoro, yang terletak terpencil di selatan kawasan  pegunungan Jepang, dulu adalah rumah bagi beratus-ratus keluarga. Namun saat ini hanya tinggal 35 orang saja. Hal ini akibat penuaan dini dan meninggal dunia, tak sebanding dengan angka kelahiran.

Sekarang penduduk-penduduk desa yang indah dan jauh dari polusi ini digantikan dengan ratusan boneka-boneka.  Desa ini menjadi sepi, sunyi dan di sana-sini hanya terlihat boneka-boneka besar. Menjadi desa sepi dengan penghuni boneka-boneka aneh.

Boneka itu dibuat oleh seorang ibu tua bernama Tsukimi Ayano dan beberapa warga desa ini untuk  menggantikan tetangga-tetangganya yang telah meninggal atau pergi meninggalkan desa. Pada tahun 1965, Tsukimi Ayano adalah salah satu warga muda di Desa Nagoro. Dia pindah kembali dari Osaka ke Nagoro. Ia datang untuk menjaga ayahnya yang sudah berumur 85 tahun.

Baca Juga :  Sumber Daya Alam Yang Tidak Dapat di Perbaharui

Jika datang ke desa ini, pasti kita akan merasa aneh, karena ada banyak boneka-boneka seukuruan manusia menempati rumah kosong, di beranda rumah,  sejumlah boneka di halte bus, bertengger di pagar dan pohon, meringkuk di toko-toko,  dan dimanapun.

“Orang tua dulu suka minum sake dan bercerita. Ini mengingatkan saya pada masa lalu, ketika mereka masih hidup dan sehat,” katanya sambil menunjukkan boneka berwujud perempuan tua.

Secara umum, anak kelahiran di Jepang merosot tajam, sekaligus penduduknya mengalami penuaan dini. Nagoro adalah satu dari sejumlah desa di Jepang yang menjadi desa boneka, desa yang dulu ramai sekarang sunyi sepi ditinggal mati penduduknya.

Sekolah-sekolah di desa ini tutup, rumah-rumah dan toko terkunci sepi, tutup selamanya. Terakhir, sekolah dasar di desa ini tutup dua tahun lalu.   Boneka anak-anak dan guru mengisi kelas di sekolah dasar  yang kosong di Desa Nagoro, Jepang. (Newser/Elaine Kurtenbach)

Populasi Jepang mulai menurun pada tahun 2010 dari puncaknya 128 juta. Tanpa peningkatan drastis angka kelahiran dan semakin banyak penduduk yang migrasi maka diperkirakan akan turun menjadi 108 juta pada tahun 2050 dan menjadi 87 juta pada 2060.


  1. Ada Desa Modern di Jepang

Sanno – Sebuah desa kecil di Jepang, menerapkan konsep hunian modern, dengan produksi tenaga listrik swadaya memanfaatkan tenaga matahari. Beberapa panel sengaja dipasang, dan dari sini mereka dapat menghidupkan listrik di semua rumah yang ada di kawasan ini.

Lebih hijau dan ramah lingkungan, sepertinya manfaat ini bisa didapat dari penerapan konsep modern di Sanno, sebuah desa kecil distrik Hyogo di Jepang. Dengan menggunakan 216 panel, desa ini memiliki pembangkit listriknya sendiri. Dari sini, kebutuhan listrik puluhan rumah di desa yang ditinggali sekitar 42 orang Manula ini dapat terpenuhi dengan baik.

Seperti dikutip dari Weirdasianews, ide ini muncul setelah kawasan ini mengalami depopulasi, setelah sebagian besar penduduknya sudah berusia manula. Kendala kemudian muncul, terutama dalam hal biaya. Maka dari itu, ide konsep modern ini kemudian muncul dan memaksimalkan sumber daya yang ada di desa ini. Selain minim biaya perawatan, cara ini juga sesuai dengan gaya hidup sehat masyarakat sekitar.

Sebuah konstruksi panel surya raksasa dibangun di tempat ini menggunakan dana pemerintah lokal setempat. Melalui renovasi rutin, warga berharap tak aka nada biaya berarti yang dikeluarkan setiap tahunnya berkat keberadaan alat ini.

Meski didominasi manula, poin penting yang dapat kita pelajari dari penduduk Sanno kali ini adalah semangat mereka untuk selalu mandiri, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi produksi sumber energi yang mungkin akan ada di konsep hunian masa depan. Di Jepang, masyarakat Sanno kehidupan masyarakat Sanno menjadi inspirasi bagi desa-desa lain.


Kehidupan Di Perkotaan Di Jepang

Gemerlap Cahaya Warna-Warni Kehidupan Malam di Jepang

Jepang adalah negara dengan berbagai keunikan tersendiri. Sebagai negara maju dibidang ekonomi, kota-kota besar di Jepang adalah pusat bisnis dunia yang seolah tidak pernah tidur. Salah satu ciri khas unik kota-kota besar di Jepang adalah gemerlapnya lampu-lampu papan iklan neon yang berwarna-warni, menerangi jantung kota dengan berbagai macam aktivitas penduduknya di malam hari.

Darimana semuanya ini bermulai? Papan iklan neon dipasang di tempat publik pertama kali pada tahun 1926 di Tokyo Hibiya Park. Segera setelah itu, para pengusaha melihat peluang untuk tetap dapat menampilkan iklan produk-produk mereka pada malam hati dengan lampu neon.

Pada bulan Desember 1957, papan iklan neon raksasa dengan tinggi hampir 11 meter di tengah kota Ginza dipasang dengan menampilkan tulisan “SONY”. Setiap huruf yang melekat di papan beratnya sekitar 264 kg! Peristiwa ini menandai awal penggunaan papan iklan neon di jalanan kota-kota besar Jepang.

Saat ini papan iklan neon dengan berbagai ukuran dapat dijumpai disetiap kota-kota besar Jepang seperti di Tokyo, Hokkaido dan Osaka – menampilkan berbagai tawaran, serasa berada di dalam hutan iklan yang dipenuhi papan-papan dengan gemerlap cahaya warna-warni


  • Tokyo – Shinjuku & Ginza

Shinjuku adalah pusat perniagaan dan pemerintahan, sekaligus lokasi salah satu stasiun pergantian(interchange) transportasi umum terbesar di Tokyo, Stasiun Shinjuku. Shinjuku adalah tempat di mana Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo, gedung tertinggi di Tokyo, berada. Shinjuku dapat dibilang adalah ibukotanya Tokyo. Selain itu terdapat department store, bioskop, hotel dan bar.


  • Ginza

Kawasan ini dikenal sebagai kawasan mewah di Tokyo. Di tempat ini terdapat berbagai toko serba ada, butik, restoran dan kafe. Ginza dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di dunia. Toko-toko utama dari merek busana elite berada di sini, Chanel, Dior, Abercrombie & Fitch, Gucci, dan Louis Vuitton. Di sini juga terdapat ruang pamer Sony dan Apple Store Ginza.

Hancur oleh pemboman saat perang dunia ke II, perekonomian Ginza mulai bangkit kembali dengan ditandai munculnya papan iklan neon yang berwarna-warni.


  • Hokkaido – Sapporo

Bahkan, di Jepang bagian utara yaitu pulau Hokkaido, suasana unik papan neon ini masih terasa. Kawasan hiburan Susukino di distrik Sapporo termasuk salah satu yang paling terkenal di Jepang – memiliki pemandangan papan iklan neon dengan warna-warna yang khas. Kota ini terkenal dengan ramen Sapporo rasa miso dan merek bir Sapporo.


  • Osaka – Namba & Shinsaibashi

Beralih ke Osaka, kota terbesar kedua di Jepang dan rival abadi kota Tokyo, gemerlap cahaya papan neon berwarna-warni juga menghiasai kota ini. Daerah Namba dan Shinsaibashi merupakan daerah dengan toko-toko dan restoran yang paling ramai dikunjungi wisatawan di akhir pekan dan hari libur. Di sekitar jembatan Dotombori bisa disaksikan papan neon raksasa yang paling terkenal: restoran berbentuk kepiting raksasa, ikan buntal raksasa dan papan iklan neon perusahaan permen Glico.

Gemerlap kota-kota besar telah menjadi ciri khas unik di Jepang yang dapat membuat kagum setiap orang yang pernah mengunjunginya. Suasana yang khas menjadi pengalaman yang unik bagi pelajar, wisatawan dan pekerja yang pernah berada di kota-kota “gemerlap” ini.


Di Jepang, Memiliki Mobil adalah Ciri Khas Orang Kampung

Hanya orang-orang kota yang iseng dan tidak keberatan dengan sewa parkir selangit, yang memiliki kendaraan roda empat. Itu pun jarang digunakan. Dia juga harus rela melihat mobilnya berdebu, karena berbulan-bulan tidak dipakai dan nyaris tidak ada tempat pencucian.

Kalaupun dipakai sesekali hanya untuk keluar kota. Sekali lagi ini menegaskan, bahwa hanya orang-orang yang hidup di kampung yang perlu mobil. Jika berbicara masalah tinggal di kota atau kampung dalam konteks Jepang, sama sekali tidak ada kaitannya dengan kualitas hidup, pendidikan atau kemakmuran.

Karena seluruh rakyat Jepang, baik yang tinggal di Sapporo di ujung Utara, atau Tokyo, atau di pulau Kyusu yang berada di Selatan, selalu menyantap makanan yang terbaik. Kualitas makanan premium selalu disantap orang Jepang, dan sisanya, yang tidak terpilih, kemudian diekspor.


Banyak Orang Jepang Tinggal di Warnet

Tokyo – Jepang, sebuah negara maju dengan pendapatan per kapita warganya termasuk tertinggi di dunia. Tapi di tengah gemerlap negeri sakura ini, cukup banyak penduduk mengalami kesukaran hidup. Mereka hanya bisa tinggal di warung internet alias warnet.

Menurut survei dari Kementerian Kesehatan Jepang pada tahun 2007, sebanyak 60.900 orang pernah tinggal di warnet. Dan diestimasi bahwa 5.400 orang tinggal di sana karena tidak memiliki rumah. Sampai sekarang, jumlahnya masih cukup banyak.

Mereka ini biasanya pengangguran atau pegawai tidak tetap sehingga pendapatannya rendah untuk ukuran Jepang. Media Jepang menjuluki orang-orang tersebut sebagai internet cafe refugees atau pengungsi di warnet.

Rupanya, jumlah karyawan tidak tetap perlahan tapi pasti meningkat di Jepang dan nasib mereka tidak kunjung membaik. Pada tahun 2011, tercatat ada sekitar 17,3 juta pegawai tidak tetap di sana. Gaji mereka sudah tentu tak sebaik para karyawan tetap.

Baca Juga :  Apa itu Bibliografi

Salah satu penduduk Jepang yang memilih tinggal di warnet adalah Fumiya. Lelaki berusia 26 tahun tersebut mengaku cukup nyaman tinggal di sebuah warnet di kota Tokyo. Sudah sekitar 10 bulan ia menjalaninya.


Kehidupan Keluarga di Jepang

Kehidupan jepang sangat dipengaruhi oleh teknologi modern, dunia barat, dan norma-norma social yang cepat berubah, tetapi pada saat yang sama dibentuk oleh kekuatan yang menjangkau kembali pada sejara awal budayanya.


  • Perempuan Lajang Tinggal di Rumah

80 sampai 90 persen wanita single jepang tinggal di rumah dengan orang tua mereka. Kebanyakan dari mereka tidak melakukan pekerjaan rumah tangga atau membayar sewa.


  • Keluarga Inti

Sejak Perang Dunia II, keluaga inti terus menyebar keluar menjadi keluarga besar sebagai bentuk paling umum dari kondisi hidup keluarga. Rumah tangga yang terdiri atas tiga generasi sekarang berjumlah kurang dari 30 persen dari total rumah tangga di jepang.


  • Perempuan Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga

Para wanita jepang rata-rata menghabiskan 4½ jam sehari untuk membersihkan rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Sedangkan pria rata-rata hanya menghabiskan 23 menit untuk mengurus rumah.


  • LDR (Long Distance Relationship)

Suami sering pindah ke kota-kota lain untuk bekerja di jepang, yang berarti mereka hanya memiliki kesempatan untuk mengunjungi istri dan keluaga mereka pada akhir pecan.


  • Ayah Sering Tidur Sendiri

Di jepang, ibu sering tidur sendiri di ranjang yang sama dengan anak-anak sementra suami di tempat tidurnya sendiri di ruang lain.


  • Majikan Member Tunjangan Pernikahan

Hal ini umumnya terjadi di jepapng di mana pengusaha member tinjangan pernikaha pada karyawannya mereka hingga 10 persen dan menyediakan perumahan murah bagi keluarga.


  • Anak Sah

Pada tahun 2001, hanya 1 persen dari anakk-anak jepang yang lahir di luar nikah. Di Amerika, 32 persen anak-anak terdaftar dengan status “non-perkawinan”.


  • Pria Lajang Juga Tinggal di Rumah

Setengah dari pria single jepang di usia 20-an tinggal di rumah bersama orang tua mereka.


  • Gundik Atau Wanita Simpanan Kadang-kadang Diterima

Secara tradisonal seorang pria jepang boleh memiliki wanita simpanan jika istrinya tidak bias melahirkan seorang anak. Jika wanita tersebut melahirkan seorang anak, anak itu bias tinggal bersama sang pria dan istrinya.


  • Perjodohan

Pernikahan sering dimulai sebagai perjodohan antara dua orang asing tetapi memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dari Amerika Serikat dimana perjodohan jarang terjadi.


Etika di Jepang

Tata etika di setiap negara berbeda oleh karena adanya perbedaan budaya, kebiasaan, agama. Tetapi ada juga persamaannya, yaitu pengetahuan agar semua orang dapat hidup dengan tenang satu sama lain. Penulis pernah hidup di Jepang dalam jangka waktu cukup lama, dengan informasi ini diharapkan agar kita dapat mengerti tentang Jepang dan orang Jepang. Di Jepang terdapat peribahasa “Gou ni itte wa gou ni shitagae” yang artinya adalah dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, oleh karena itu penting sekali untuk membiasakan diri dengan tata etika dan kebiasaan masyarakat Jepang.

Masyarakat Jepang akhir-akhir ini, terutama anak-anak muda banyak yang tata etikanya kurang baik, sehingga menyebabkan orang-orang di sekelilingnya merasa terganggu. Perasaan terkejut pernah penulis alami ketika melihat etika orang-orang di dalam kereta. Tiga siswi SMU yang mengobrol dengan suara keras, wanita yang mengeluarkan alat riasnya dan mulai berhias, orang-orang yang sama sekali tidak memberikan tempat duduknya kepada nenek-nenek. Penulis berpikir bahwa Jepang hanya memperhatikan kemajuan ekonominya saja, dan kehilangan respek kepada orang tua serta acuh kepada orang di sekeliling.

Di bawah ini adalah contoh-contoh sopan santun atau etika yang perlu diperhatikan dan dilakukan semua orang, bukan hanya untuk para pendatang saja, melainkan juga termasuk orang Jepang.


  • Merokok

Bagi orang yang tidak merokok, sangat terganggu apabila orang di sebelahnya merokok, atau ada bau rokok di dalam mobil atau ruangan. Asap rokok banyak mengandung zat beracun akibat pembakaran yang tidak sempurna, sehingga mengganggu kesehatan manusia.

Akhir-akhir ini mulai diberlakukan penanggulangan untuk melindungi perokok pasif, dengan cara melarang merokok di tempat kerja, di restoran, di dalam transportasi umum, di jalanan. Misalnya di tempat yang tidak ada larangan merokok sekalipun, sebaiknya kita tetap memegang etika meminta izin dulu kepada orang di sekitar kita, tidak merokok sambil berjalan, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.


  • Telepon Seluler

Di dalam bus atau kereta, telepon seluler diset agar tidak bordering (manner mode), dan sebisa mungkin janganlah berbicara di telepon. Apabila duduk di tempat duduk khusus (untuk lansia), matikanlah telepon karena sinyalnya dapat mengganggu peralatan medis yang dipakai seseorang. Selain itu, naik sepeda atau berjalan sambil menelepon akan mengurangi kehati-hatian sehingga merupakan pangkal kecelakaan.


  • Menggunakan Transportasi Umum

Sekarang ini sering penulis lihat orang-orang naik kereta yang penuh dengan tas tetap di punggung atau dibahu. Di dalam kendaraan, sebaiknya tas kita diturunkan, dan ditaruh di tubuh bagian depan.


  • Mengucapkan Salam

Ucapan salam sangat penting dalam pergaulan sesama. Apabila kita mengucapkan salam dengan senyuman kepada tetangga atau rekan sekerja, tentunya akan berkenan di hati mereka. Jadi biasakan untuk memulai mengucapkan salam. Ini ada hubungannya dengan pertumbuhan kita sebagai manusia. Mulailah dengan salam “Ohayou gozaimasu” (selamat pagi), “Konnichiwa” ( selamat siang), ”Konbanwa”  (selamat malam).


  • Menepati Janji

Menepati janji di tempat kerja ataupun dalam kehidupan sehari-hari merupakan dasar dari pergaulan sesama manusia. Apakah Anda pernah melanggar janji ? Bagaimana perasaan Anda waktu itu? Walaupun mempunyai kemampuan tinggi sekalipun, tetapi orang yang tidak bisa memegang janji akan kehilangan kepercayaan dari orang lain, dan tidak akan dihiraukan lagi. Apabila ternyata tidak bisa menepati janji yang kita buat, maka segeralah memberitahukan untuk membatalkan janji tersebut. Oleh karena itu, janji harus dibuat dengan serius.


  • Menepati Waktu

Waktu tidak bisa dilihat dengan mata, sehingga kita tidak menyadari bahwa kita telah menyia-nyiakan waktu. Misalnya : Anda terlambat 10 menit dari janji menemui teman, tetapi ada 6 orang teman yang menunggu, sehingga keterlambatan Anda telah mengakibatkan 10 menit x 6 = 60 menit atau 1 jam telah tersia-sia. Dan apabila kita terlambat dari jam penerbangan pesawat, maka pesawat juga akan terbang tanpa menunggu kita.

Dalam rapat pertemuan, mungkin saja anggota lainnya akan menunggu kita, tetapi kepercayaan terhadap kita juga menjadi hilang. Gara-gara keterlambatan kita, telah menyebabkan banyak anggota lainnya kehilangan waktu mereka yang berharga, jadi perhatikanlah hal ini. Di Jepang sejak dulu ada peribahasa “Toki wa kane nari” (waktu s ama dengan uang), yang artinya waktu itu sangat berharga sehingga jangan disia-siakan. Adalah kebiasaan bagi orang Jepang untuk tiba beberapa saat sebelum waktu yang dijanjikan.


  • Memisahkan Urusan Umum Dengan Urusan Pribadi

Pemisahan urusan pribadi dan umum ini bukan hanya tentang benda saja, melainkan juga harus memperhatikan soal waktu yang harus dipisahkan antara pribadi dan umum. Misalnya, sewaktu sedang kerja, kalau kita mengobrol di telepon untuk waktu lama, maka itu berarti kita telah menggunakan waktu yang seharusnya dipergunakan untuk kerja.  Karena nila setitik, rusak susu sebelanga, semuanya bisa dimulai dengan pandangan hanya sekedar sebuah telepon tapi ini merupakan awal dari melemahnya batasan umum dan pribadi.


Kebiasaan di Jepang Yang Membuatnya Menjadi Negara Maju


  • Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku Koran. Tidak peduli duduk atau berdiri banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca.

Banyak penerbit yang membuat man-ga(komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb. Disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb).

Baca Juga :  Ciri Hewan Peliharaan

Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.


  • Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas.

Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.


  • Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30.

Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.


  • Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.


  • Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu.

Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.

Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.


  • Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.

Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia.

Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) .

Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya.

Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini.


  • Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).

Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.


  • Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang.

Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.


  • Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak Orang Indonesia yang bekerja di Jepang yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya.

Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.


  • Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang.

Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia


demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai Kota Utama Di Jepang : Fungsi, Peran, Kehidupan Pedesaan, Perkotaan, Ciri Khas, Keluarga, Etika, Kebiasaan,  semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya