Cerita Rakyat Bali

Diposting pada

Cerita Legenda Putri Ayu dari Bali

Cerita Legenda Putri Ayu dari Bali – Pada zaman dahulu 4 orang anak raja,yaitu 2 laki-laki dan dua perempuan ingin sekali keluar mencari hal baru diluar istana,maklum sebagai anak raja mereka tidak diperbolehkan pergi jauh dari lingkungan istana.

Suatu hari keempatnya mencium sesuatu yang harum sekali merekapun tertarik untuk mengetahui asal dari bau tersebut. Lalu mereka meminta izin kepada orang tuanya untuk mencari dari mana bau harum itu berasal.mereka berjalan kearah timut menyusuri pantai utara bahkan smpai menyebrangi pulau bali.perjalanan mereka pun menempuh rintangan teasuk bertemu dengan binatangbuas.sepwrti harimau dan ular, tapi mereka dapat melaluinya dengan baik.setibanya di kaki gunung bartur sang putri bungsu jatuh conta dengan pemandangan disana. Dan memutuskan untuk berdiam dipure bartur dilereng gunung bartur. Ketiga kakaknya tidak setuju namun sang putri tetap pada pendiriannya. Akhirnya ia ditinggal sendirian disana.

Ketiga kakaknya pun kembali meneruskan perjalanan kembali mencari bau harum yang belum juga mereka temui, ketika mereka tiba di suatu tempat yang datar disebelah barat daya danau ketiganya mendengar kicauan seekor burung karena girangnya mendengar suara burung saudara ketiga berteriak- teriak. ” aku mau menangkap burung itu”

Sang kakak tertua tidak suka dengan kelakuan adik laki-lakinya itu. Ia segera meminta adiknya untuk berhenti, ” jangan teruskan keingannmu itu, perjalanan kita masih jauh”.
“Tidak aku masih mau mengejar burung itu dan menangkapnya,” sang adik pun tidak menghiraukan perkataan kakaknya hanya mengejar terus burung itu. Akhirnya kedua kakaknya meninggaknnya karena tidak menurut. Ketika meteka tiba disuatu daerah lain, mereka menemukan 2 wanita seorang diantaranya sedang mencari kutu dikepala yang lainnya. Adik kedua yang berjenis kelamin perempuan mendadak tertarik sekali untuk ikut bersama dua wanita yang sedang mencari kutu itu. Kakak tertua yangbl mengetahui hal itu kembali marah dan meminta adiknya itu untuk meneruskan kembali perjalanan atau tinggal saja disana. Sang adik memilih tinggal saja disana. Kakak tertua itu pun akhirnya meneruskan sendiri perjalanannya.

Tiba didesa Trunyan bali sang kakak tertua itu beristirahat dibawah sebuah pohon paru menyan, ketika hidungnya mengendus-endus bau harum yang semerbak disekitarnya barulah ia sadar bahwa bau harum yang selama ini ia cari itu berasal dari pohon itu, berbarengan dengan itu sekonyong-konyong ia melihat seorang putri yang cantik sekali, sang kakak terpesona karenanya. ” Duhai putri ayu siapakah gerangan dikau, apakah kau seorang dewi”. Putri ayu itu tersenyum ” aku hanya manusia biasa penduduk disini,jika kau ingin mengetahuii siapa aku tinggalah disini dan datanglah kepada keluargaku”.
Maka tanpa ragu ia pun berniat hendak tinggal didesa itu, tak lama putra sulung itu kemudian menikahi putri ayu dan bahkan menjadi kepala desa disana. Kakak tertua itupun hidup berbahagia bersama anak-anaknya.


Cerita Rakyat Bali : Kesuna & Bawang

Mungkin Ada Sedikit Perbedaan dengan cerita ini,kalau dibuku bacaan saya,Kesuna yang jahat,tapi di blog Bawang yang jahat…..Cerita ini sih Bawang Yang jahat.

  • Kesuna & Bawang

Bawang adalah anak yang manja,hampir semua pekerjaan rumah Kesuna yang mengerjakannya,namun karena Bawang pandai mengambil hati orang tuanya,maka dialah yang paling disayang orang tuanya.

Pada suatu hari ayah mereka ke sawah dan ibu ke pasar,Kesuna minta bantuan Bawang untuk mengerjakan pekerjaan rumah,namun Bawang selalu menolaknya,dan akhirnya Kesuna mengerjakan semuanya sendiri.Setelah semua beres,Kesuna pergi ke sungai untuk mandi.Ketika Kesuna masih di sungai,ibu mereka pulang,Bawang segera melumuri dirinya dengan debu dan mengatakan bahwa seharian ini dia mengerjakannya sendiri sementara Kesuna bermain – main.

Ketika Kesuna pulang dari sungai,ia dimarahin ibunya dan diusir dengan sapu lidi.Kesuna dengan sedih pergi berlari ke hutan.Dilihatnya banyak burung Crukcuk Kuning.

” Crukcuk Kuning,
patuklah kepalaku,
agar aku cepat mati “

Burung Crukcuk Kuningpun mematuk kepalanya Kesuna,namun Kesuna tidak mati,malah mahkota emas ada di kepalanya.

” Crukcuk Kuning,
patuklah leherku,
agar urat nadiku cepat putus “

Namun kelung emas muncul di lehernya,begitu juga dengan telinga,pergelangan tangan,pergelangan kaki,dan jari jarinya,tubuhnya dipenuhi oleh emas.Kesuna sangat kaget,ia menginap dirumah neneknya.

Suatu hari,Bawang pergi kerumah neneknya untuk meminta kayu bakar,dilihatnya Kesuna dipenuhi oleh emas,ditanyakannya cara Kesuna mendapatkannya,karena Kesuna adalah anak yang baik dan jujur maka diberitahulah oleh Kesuna.Dengan cepat Bawang pulang dan pura pura dimarahi oleh ibunya,iapun menangis lalu pergi kehutan.

” Crukcuk Kuning,
patuklah kepalaku,
berikanlah aku mahkota emas “

Crukcuk Kuning mematuk kepala Bawang,namun bukan Mahkota yang muncul,melainkan lintah besar dikepalanya,namu Bawang tidak menyadarinya.Crukcuk kuning mematuk seluruh tubuh Bawang,namun luka serta ular mengelilingi leher Bawang dan lipan di jari Bawang.Bawang pun berteriak minta tolong,namun tidak ada yang mendengarnya,ia sangat menyesal.


Cerita Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah

Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu). Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain: Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.
Ibu Calonarang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali, berparas cantik jelita, tetapi putrinya tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.

Karena Diah Ratna Mangali diduga bisa ngelelak, dengan di dasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau Ibunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu, begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Ibu Calonarang.

Mendengar pengaduan tersebut, tampak nafas Ibu Calonarang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calonarang dan mendidih, terasa muncrat dan tumpah ke otak. Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Ibu Calonarang menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri.

Ibu Calonarang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak. Amarah Ibu Calonarang membara, kemudian muncullah niatnya untuk membalas dendam pada rakyat Kediri yang telah menyebar fitnah terhadap Putrinya. Maka diutuslah Nyi Larung untuk menciptakan gerubug di Kerajaan Kediri.

Diceritakan Rakyat Kerajaan Kediri di siang harinya yang ramai seperti biasanya. Masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani di sawah dengan menanam padi dan palawija. Bagi yang mempunyai waktu luang yang laki-laki biasanya diisi dengan mengelus-elus ayam aduan, dan bagi yang perempuan digunakan untuk mencari kutu rambut.
Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.

Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. Suasananya menjadi sangat gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.

Ketika penduduk Rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para murid atau sisya Ibu Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke Desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah. Angin dingin yang tadinya mendesir sejuk, tiba-tiba hilang dan menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam.

Lolongan anjing saling bersahutan seketika. Demikian pula suara goak atau burung gagak terdengar di tengah malam. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.

Ketika malam itu, ada seorang masyarakat memberanikan diri untuk mengintip dari balik jendela rumahnya. Untuk mengetahui situasi di luar rumah. Namun apa yang dilihatnya? Sangat terkejut orang tersebut menyaksikan kejadian di luar. Orang tersebut, karena saking takutnya, segera ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat, serta segera memohon kehadapan Hyang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan. Kemudian orang tersebut mengalami sakit ngeeb atau ketakutan yang berlebihan dan tidak mau bicara.

Para murid atau sisya Ibu Calonarang yang berjumlah tiga puluh empat orang ditambah dengan empat orang muridnya yang sudah senior yaitu Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa, semua sudah berada di desa pesisir. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya yakni Ibu Calonarang.
Diceritakan keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Masyarakat desa menjadi panik. Karena mendadak sebagian penduduk mengalami muntah dan mencret. Bahkan pagi itu, ada beberapa yang telah meninggal. Beberapa lagi belum ada yang sempat diberi obat, tiba-tiba sudah meninggal. Demikian semakin panik masyarakat di desa.

Segera saja yang meninggal dikuburkan di setra atau tempat pemakaman mayat, namun ketika pulang dari setra, tiba-tiba saja yang tadinya ikut mengubur menjadi sakit dan meninggal. Demikian seterusnya. Penduduk desa dihantui oleh bahaya maut. Seolah-olah kematian ada di depan hidung mereka. Sungguh mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri ketika itu. Kerajaan Kediri gempar, sehari-hari orang mengusung mayat kekuburan dalam selisih waktu yang sangat singkat.

Baca Juga :  √Cuaca: Pengertian, Unsur dan Macam-macamnya

Menghadapi situasi demikian beberapa penduduk dan prajuru desa mencoba untuk menanyakan kepada para balian atau dukun untuk minta pertolongan. Para balian pun didatangkan ke desa-desa yang kena bencana wabah gerubug. Ternyata mereka juga tidak dapat berbuat banyak menghadapi penyakit gerubug yang dialami penduduk desa. Bahkan, si balian atau dukun yang didatangkan tersebut mengalami mutah berak dan meninggal.

Setelah berberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan dan ketakutan, akhirnya para prajuru desa atau Pengurus Desa, para penglingsir atau tetua, dan para pemangku, mengadakan pertemuan di salah satu Balai Banjar di Desa Girah. Mereka berencana memohon kehadapan Raja Airlangga agar beliau berkenan untuk datang ke desa-dewa wilayah pesisir Kerajaan Kediri meninjau rakyatnya yang sedang ditimpa musibah penyakit atau gerubug.

Keesokan harinya para prajuru desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kediri. Setelah memberikan penghormatan kehadapan Sang Prabu, rombongan tersebut kemudian menjelaskan segala sesuatu maksud dan tujuannya mengahap ke Istana. Dijelaskan pula secara panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Mereka kemudian memohon agar Sang Prabu berkenan untuk meninjau ke desa-desa.


Cerita Rakyat Bali: Manik Angkeran, Asal Mula Selat Bali

Pada zaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang bernama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran.

Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau mernberi sedikit hartanya.”

Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.

Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur.
Setelah sampai di kawah Gunung Agung,Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, “Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma.”

Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.
Mendengar kernatian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali.

Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.

“Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini,” katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.


Cerita Kebo Iwa

Alkisah, Di suatu desa di Bali, tinggallah suami istri yang rukun dan kaya raya. Tetapi kebahagiaan mereka belum sempurna karena setelah lama menikah, mereka belum juga dikaruniai seorang anak.

√ Cerita Rakyat Bali

Tak  berputus-putusnya mereka berdoa dan meminta dikaruniai seorang anak. Doa dan permintaan mereka akhirnya dikabulkan Sang Hyang Widi Wasa,Sang istri mengandung lalu melahirkan seorang bayi lelaki.

Bayi lelaki tersebut tumbuh sangat cepat. Dia sangat kuat nafsu makannya. Walau masih bayi, nafsu makannya sudah setara dengan sepuluh orang dewasa. Seiring bergulirnya sang waktu, si bayi berubah menjadi anak-anak. Sangat besar tubuhnya serta kian meningkat kuat nafsu makannya. Dia pun diberi nama Kebo Iwa, paman kerbau arti namanya.

Bertambah hari semakin bertambah besar tubuh Kebo Iwa. Bertambah kuat juga nafsu makannya. Sehari kebutuhan makannya sama dengan kebutuhan makan 100 orang dewasa. Kedua orangtuanya benar-benar kesusahan memenuhi hasrat makan Kebo Iwa.

Kebo Iwa dikenal pemarah. Kemarahannya mudah sekali meledak, terutama kalau dia tidak mendapatkan makanan yang cukup. Kalau dia telah marah, dia akan merusak apa saja yang ditemuinya. Dia biasa merusak rumah-rumah penduduk. Bahkan, pura tempat ibadah pun tanpa takut-takut akan dihancurkannya kalau kemarahannya sudah meninggi. Penduduk desa akan sangat ketakutan kalau mendapati Kebo Iwa sudah marah. Tetapi demikian, sesungguhnya Kebo Iwa bersedia membantu penduduk desa yang membutuhkan bantuan tenaganya. Dia bersedia membuatkan sumur, memindahkan rumah, meratakan tanah berbukit-bukit, membendung sungai, serta mengangkut batu-batu besar. Dia akan cepat melaksanakan pekerjaan yang sangat berat dilakukan kebanyakan manusia biasanya. Tentu saja dia meminta imbalan berupa makanan dalam jumlah yang cukup untuk membuatnya kenyang.

Selama para penduduk yang kebanyakan menjadi petani tersebut mendapatkan hasil panen yang cukup, penduduk masih dapat bergotong royong memberikan makanannya untuk Kebo Iwa. Tetapi, saat terjadi musim paceklik, penduduk mulai kesulitan serta kewalahan untuk menyediakan makanan untuk Kebo Iwa.

Penduduk menjadi sangat khawatir. Mereka tak hanya cemas memikirkan cara mencari bahan makanan untuk keluarga masing-masing, mereka pun cemas memikirkan Kebo Iwa. Apa yang harus diberikan kepada Kebo Iwa kalau mereka tidak memiliki bahan makanan? Kebo Iwa pasti tak mau mengerti keadaan yang sedang mereka alami. Bagi Kebo Iwa, kalau dia mendapatkan makanan yang cukup, maka dia akan diam. Tapi, Kalau tidak, dia akan mengamuk sejadi-jadinya.

Warga desa lantas berkumpul untuk membahas masalah yang mereka hadapi berhubungan dengan Kebo Iwa itu. Mereka merencanakan sebuah siasat untuk menghadapi Kebo Iwa. Kalau memungkinkan, melenyapkan Kebo Iwa yang sangat meresahkan itu. Sesudah musywarah, warga desa akhirnya menemukan cara untuk mewujudkan rencana mereka.

Semua warga desa bergotong royong untuk mengumpulkan makanan. Sedikit demi sedikit makanan akhirnya terkumpul sampai cukup jumlahnya untuk menjadi santapan Kebo Iwa. Sebagian warga pun bergotong royong untuk mengumpulkan batu-batu kapur. Setelah makanan dan batu kapur ada, Kepala Desa dengan diiringi beberapa warga langsung menemui Kebo Iwa.

Kebo Iwa sedang bersantai setelah menyantap beberapa ekor hewan ternak milik warga desa. Dia sedikit terperanjat melihat beberapa orang mendatanginya. Katanya,Mau apa kalian ke sini? Apa kalian memiliki makanan yang cukup membuatku kenyang? Aku masih lapar!

Kami memiliki makanan yang lebih dari cukup untuk membuatmu kenyang, kata Kepala Desa.

Kami akan memberikan semuanya kepadamu asal kau bersedia membantu kami.

Mendengar ada makanan cukup untuk membuat perutnya kenyang, Kebo Iwa cepat bangkit dari rebahannya dan berkata, Aku tentu saja mau membantu kalian kalau kalian memberiku makanan. Apa yang dapat kubantu?

Kepala Desa lantas menjelaskan tentang banyaknya rumah warga yang sudah rusak akibat amukan Kebo Iwa.

Itu karena kalian tak bersedia memberiku makanan, kata Kebo Iwa tanpa merasa bersalah.

Kalau kalian memberiku makanan, pasti aku juga tidak akan menghancurkan rumah kalian.”

Seperti yang kamu ketahui, semua itu diakibatkan kegagalan panen yang kami alami. Kegagalan panen tersebut disebabkan ketiadaan air karena musim kemarau yang terus berkepanjangan ini kata Kepala Desa. Padahal, di dalam tanah ini sebenarnya ada banyak air, Sangat banyak jumlahnya. Oleh karena itu kita meminta bantuanmu untuk membuatkan sumur yang sangat besar! Air dari sumur besar itu akan kami pakai untuk mengairi sawah-sawah kami. Kalau tanaman-tanaman kami cukup mendapat air, pasti kegagalan panen bisa kami tanggulangi. Kami juga tak lagi kesulitan untuk memberimu makanan. Berapa pun jumlah makanan yang kau butuhkan, kami pasti sanggup untuk memenuhinya.

Kebo Iwa sangat senang mendengar rencana Kepala Desa. Baiklah, katanya. Itu rencana yang sangat baik, Aku tentu saja mau membantu kalian:’

Kebo Iwa langsung mulai bekerja. Dia mendirikan beberapa rumah seperti yang diminta Kepala Desa. Dia lantas menggali tanah di tempat yang ditentukan Kepala Desa. Tenaganya yang sangat besar itu mulai tercipta. Sementara Kebo Iwa terus menggali, warga desa langsung mengumpulkan batu-batu kapur di dekat tempat Kebo Iwa sedang menggali tanah.

Mengetahui warga desa mengumpulkan batu kapur, Kebo Iwa merasa heran. Untuk apa kalian mengambil batu kapur sebanyak itu ? Tanya kebo iwa.

Setelah kamu selesai membuat sumur besar, kami akan membangunkan rumah untukmu. Rumah yang besar lagi sangat indah. jawab Kepala Desa. Rumah untukmu yang sangat besar itu pasti membutuhkan batu kapur yang sangat banyak, bukan?

Baca Juga :  √Otak Besar: Pengertian, Fungsi dan Strukturnya

Kebo Iwa sangat senang mendengar jawaban Kepala Desa. Dia makin bersemangat menggali tanah. Berhari-hari dia bekerja keras. Semakin jalan waktu semakin besar lagi dalam sumur yang dibuat Kebo Iwa. Air mulai memancar keluar sampai terciptalah sebuah kolam besar. Tetapi, Kepala Desa terus saja memintanya menggali tanah. Kebo Iwa menurut karena terus dijanjikan akan mendapatkan makanan yang sangat banyak dan pula dibuatkan rumah yang sangat besar. Lubang di tanah itu membesar lagi semakin dalam. Air yang memancar keluar pun semakin banyak.

Kebo Iwa terus bekerja sampai dia kelelahan dan juga kelaparan. Dia meminta waktu untuk beristirahat. Mana makanan untukku? teriak Kebo Iwa.

Warga desa berdatangan membawa makanan untuk diberikan kepada Kebo Iwa. Kebo Iwa sangat senang mendapati makanan dalam jumlah yang sangat banyak tersebut. Dia makan dengan amat lahap. Dia terus makan sampai perutnya kekenyangan. Sesudah perutnya kekenyangan, Kebo Iwa mengantuk. Kemudian Dia sudah tertidur dengan mendengkur. Suara dengkurannya keras sekali.

Setelah mendapati Kebo Iwa sudah tertidur, Kepala Desa langsung memerintahkan segenap warga untuk melemparkan batu kapur ke dalam lubang galian yang dibuat Kebo Iwa. Beramai- ramai warga memasukkan batu-batu kapur, sama sekali tanpa disadari Kebo Iwa yang masih tidur .

Air semakin banyak memancar dari dalam tanah dan batu kapur juga semakin banyak dimasukkan warga ke dalam lubang galian. Akibatnya hidung Kebo Iwa menjadi tersumbat, Kebo Iwa pun tersedak dan terbangun. Tetapi, terlambat baginya. Air makin deras memancar dan batu-batu kapur terus dilemparkan ke dalam lubang galian besar yang dibuatnya tadi. Walau memiliki tenaga yang sangat kuat, Kebo Iwa tak berdaya pada akhirnya. Kebo Iwa lalu menghembuskan napas terakhirnya di dalam lubang galian besar yang dibuatnya sendiri.

Air terus memancar sampai meluap dan membanjiri desa tempat tinggal Kebo Iwa. Desa-desa di sekitar desa itu juga turut terbanjiri. Sebuah danau yang besar akhirnya tercipta Danau itu disebut dengan Danau Batur. Timbunan tanah yang di sekitar danau itu lalu berubah menjadi gunung dan disebut Gunung Batur.


Naskah Teater Drama Manik Angkeran

ERJADINYA SELAT BALI
(KISAH MANIK ANGKERAN)

Konon, pada zaman dahulu, daratan Pulau Jawa masih menyatu dengan Pulau Bali. Di sebuah desa bernama Desa Daha hiduplah seorang pendeta yang bernama Pendeta Sidhi Mantra. Ia tinggal bersama istrinya. Lama tak dikaruniai seorang anak, akhirnya sang istri mengandung. Dan lahirlah seorang putra bernama Manik Angkeran.
Pendeta Sidhi Mantra memiliki sebuah padepokan yang sangat terkenal. Hingga orang luar desa tersebut juga berguru di padepokan itu. Murid-muridnya dari anak-anak hingga remaja dan dari berbagai kasta. Semua muridnya mengamalkan ajaran yang diberikan gurunya yaitu dharma. Namun tidak semua muridnya dapat mengamalkan ajaran tersebut. Salah satunya putranya sendiri. Putranya suka menghambur-hamburkan harta dan suka berjudi.

Hampir setiap hari ia pergi pagi pulang malam untuk berjudi.
Suatu hari Sidhi Mantra pergi untuk menyebarkan ilmunya, sehingga ia menyuruh murid-muridnya untuk menjaga padepokan dan tetap belajar. Namun Manik Angkeran tidak melaksanakan perintah tersebut. Ia dengan bebas pergi keluyuran ke sabung ayam dan judi. Ia pergi ke tempat perjudian dan sorenya ke sabung ayam.
***
Kalinda : “Anandini, betapa beruntung dan bangganya kita bisa menuntut ilmu disini
dan diajarkan oleh guru Anandini,”
Anandini : “Benar sekali Kalinda, guru itu baik, ramah dan juga sangat peduli kepada
kita,”
Kalinda : “Kita harus tetap menjaga padepokan ini sama seperti guru menjaganya
Anandini,”
Anandini : “Iya Kalinda kita harus menjaganya,”
Yashna : “Indah sekali padepokan ini Samika, guru pasti sangat susah payah
menjaga padepokan ini,”
Samika : “Sudah pasti Yashna, aku sangat-sangat senng bisa menuntut ilmu disini,”
Kalinda : “Rupanya guru datang, teman-teman,”
Keempat Murid : “Salam guru,”

Sidhi Mantra : “Wahai murid-muridku, agama di desa sebelah mulai meluntur, selama
beberapa hari guru akan memperbaiki keadaan di sana dengan menyebarkan agama dan dharma. Maka guru akan menitipkan padepokan ini kepada kalian muridku,”
Keempat Murid : “Baik guru,”
Sidhi Mantra : “Dan kau anakku Manik Angkeran, aku mempercayai mu penuh untuk
menjaga padepokan ini,”
Manik Angkeran : “Baiklah ayahanda,”
Sidhi Mantra : “Baiklah, guru akan pergi,”
Kalinda : “Berhati-hatilah guru, kami selalu mendoakanmu agar sehat dan selamat
sampai di tujuan,”

Karena Sidhi Mantra sudah pergi, maka Manik Angkeran mulai beraksi. Ia sering melakukan perjudian dan sabung ayam. Dengan kenyataan yang pahit, Manik Angkern selalu kalah dalam sabung ayam yang ia lakukan.
***
Ki Wulung : “Wahai Manik Angkeran, kau kembali lagi, kau sudah siap kalah?
Surya : “Bersiplah untuk kehilangan uangmu Manik,”
Bomantara : “Kau hanya pecundang yang tidak pernah menang sabung ayam,”
Manik Angkeran : “Aku membawa banyak koin emas, tenang saja akan aku kalahkan kalian,”
Ki Wulung : “Lawanlah Made, dia adalah lawan mu hari ini Manik, hahahahaaa…”
Made : Wah Manik memang tidak ada kapok-kapoknya datang kemari, bersiaplah
kau Manik Angkeran,”
Manik Angkeran : “Janganlah kau banyak bicara, cepat lawan aku!”

Manik Angkeran selalu kalah dan ia pun kehabisan hartanya. Ia merasa kebingungan dimana akan mencari harta lagi, di dalam perjalanan pulang Manik Angkeran bertemu dengan seseorang dan terlintas dipikirnya bahwa ia akan meminjam uang kepada orang itu.
***
Manik Angkeran : “Hey nyonya berhentilah sebentar,”
Men Koncreng : “Siapakah engkau wahai anak muda?”
Manik Angkeran : “Aku adalah Manik Angkeran anak dari Pendeta Sidhi Mantra,”
Men Sempeng : “Jadi kau adalah putranya Pendeta Sidhi Mantra, baiklah karena aku kenal
dengannya akan aku pinjaman uang padamu,”
Men Koncreng : “Tunggu, tetapi dengan bunga 2% per hari,”
Manik Angkeran : “Tenang saja nyonya akan aku kembalikan berkali-kali lipat, hahaha…”

Beberapa hari kemudian Sidhi Mantra kembali ke padepokan. Seorang muridnya langsung memberi salam dan menyuguhkan minum.
***
Sidhi Mantra : “Bagaimana keadaan padepokan setelah kutinggal beberapa hari? Apakah
ada pemasalahan atau ada yang berkelahi?”
Anandini : “Baik guru, tidak ada hal yang terjadi. Semuanya aman-aman saja, murid-
murid banyak melakukan derma ke desa-desa lain,”
Sidhi Mantra : “Silahkan kamu bisa pergi, dan panggilkan Kalinda kemari,”
Kalinda : “Benarkan guru memanggil saya?”
Sidhi Mantra : “Benar muridku, menurutmu bagaimana keadaan padepokan setelah
kutinggal? Apakah ada pemasalahan atau ada yang berkelahi?”
Kalinda : “Baik-baik saja guru, tetapi ada hal yang mengganjal tetapi saya tidak tahu
kebenarannya,”
Sidhi Mantra : “Silahkan kamu bisa pergi, dan panggilkan Samika dan Yashna kemari,”
Samika & Yashna : “Benarkan guru memanggil kami kemari?”
Sidhi Mantra : “Iya, muridku, menurutmu bagaimana keadaan padepokan? Apakah ada
banyak pemasalahan atau ada yang berkelahi?”
Samika : “Baik guru, hanya saja ada sedikit permasalah dengan putramu, tetapi aku
tidak berani mengatakan karena belum tahu pasti,”
Sidhi Mantra : “Muridku Yashna, menurutmu bagaimana keadaan padepokan?”
Yashna : “Tidak guru. Putramu, Manik Angkeran melakukan perjudian dan terlibat
sabung ayam di desa-desa lain. Banyak yang mengatakan putramu membuat onar, berhutang dan sangat berbanding terbalik dengan sifat dan sikap guru,”
Sidhi Mantra : “Baiklah akan kuselidiki lebih lanjut, kalian boleh pergi sekarang. Satu
lagi muridku, tolong jagalah dan awasi perilaku dan gerak-gerik Manik Angkeran dan apabila ada hal yang mengganjal laporkan segera padaku”
Samika & Yashna : “Baik guru, kami akan melaksanaknnya. Salam guru,”

Menjelang senja Manik Angkeran muncul di hadapan ayahnya.
***
Manik Angkeran : “Ayahandaku telah datang, aku sangat gembira. Bagaimana kabarmu
setelah melakukan perjalanan?”
Sidhi Mantra : “Aku baik-baik saja anakku,”

Menikmati malam, keempat muridnya berkumpul sambil bertukar pikiran. Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba Manik Angkeran datang dan telah mendengar semua perkataan teman-temannya. Lalu Manik Angkeran marah dan mengancam semua teman-temanya sambil mengepalkan kedua tangannya. Dengan cepatnya Anandini mencari gurunya dan menyampaikan perilaku Manik Angkeran. Akhirnya Sidhi Mantra pun datang dan menghentikannya.
***
Kalinda : “Aku heran mengapa guru masih tidak menindaklanjuti perbuatan
putranya,”
Samika : “Mungkin karena Manik Angkeran putra kesayangan guru dan Manik
Angkeran juga anak sekaligus putra satu-satunya,”

Yashna : “Kalau salah, ya tetap harus dinasehati. Kita semua murid guru harus
menerapkan kebaikan. Tadi aku sudah mengatakan kepada guru tentang perbuatan Manik Angkeran,”
Manik Angkeran : “Hey kau, apa yang kau katakana itu?”
Kalinda : “Tidak Manik, kami hanya sedang bertukar pikiran saja,”
Manik Angkeran : “Hah?? Bertukar pikiran?? Aku sudah dengar kalian menjelek-jelakan ku,”
Samika : “Hei Manik Angkeran tidaklah kau sadar akan perbuatanmu itu, yang
sangat melanggar ajaran agama,”
Manik Angkeran : “Diam kalian, sekali lagi kalian bertindak seperti ini, akan ku lakukan
kekerasan pada kalian.
Yashna : “Untuk apa aku takut padamu?”
Manik Angkeran : “Hei kau!!!!”
***
Sidhi Mantra : “Berhenti putraku, apa yang kalian lakukan disini, pergilah kalian
sekarang,”
Keempat Murid : “Baik guru, maafkanlah perilaku kami ini guru. Salam guru,”

Keesokan harinya Manik Angkeran melakukan perjudian lagi di tempat Ki Wulung, karena Manik Angkeran kalah akhirnya ia meminjam uang lagi kepada pedagang yang ada di sana.
***
Ki Wulung : “Hey anak muda, lagi-lagi kau datang,”
Manik Angkeran : “Jangan salah Ki Wulung akan aku menangkan sabung ayam hari ini, lihat
saja,”
Surya : “Anak bodoh kau, masih saja datang kemari,”
Bomantara : “Hari ini akan benar-benar habis hartamu Manik!”
Made : “Cepat keluarkan ayam mu itu Manik hahaha…”
Manik Angkeran : “Ayamku akan menang bertanding hari ini lihatlah!”
***
Ki Wulung : “Apa yang sudah aku katakana itu pasti terjadi Manik, kau kalah lagi,
kasihannya dirimu anak muda,”
Manik Angkeran : “Tunggu saja pembalasanku nanti Ki Wulung!”
Surya : “Pergilah sana Manik jangan datang kemari lagi,”
***
Manik Angkeran : “Pedagang, berikan aku uang!”
Putu : “Siapa kau anak muda?”
Manik Angkeran : “Tenang saja pedagang, akan aku kembalikan uangmu berkali-kali lipat
bahkan dengan bunga-bunganya,”
Putu : “Baik anak muda, ini uangnya!”

Di sisi lain, Sidhi Mantra pun memanggil keempat muridnya untuk menghadap ke Pak Lurah agar menutup perjudian dan sabung ayam di desa. Karena dilihatnya oleh Manik Angkeran maka ia bertanya kepada ayahnya, mengapa perjudian itu harus ditutup.
***
Sidhi Mantra : “Murid-muridku, pergilah menghadap Pak Lurah. Katakan kalian utusan
Pendeta Sidhi Mantra. Minta kepadanya untuk menghentikan perjudian dan sabung ayam karena itu tidak sesuai dengan aturan agama.”
Keempat Murid : “Baiklah guru, akan kami sampikan pesan guru,”
Sidhi Mantra : “Pelayan kemarilah, bawakan benda itu!”
Pelayan : “Ini barangnya tuanku,”
Sidhi Mantra : “Berikan ini pada Pak Lurah dan katakana ini sebagai tanda pertemanan
ku padanya,”
***
Manik Angkeran : “Kenapa ayah menyuruh mereka ke Pak Lurah? Lalu menutup perjudian,”
Sidhi Mantra : “Judi itu tidak baik anakku. Ayah harap kau tidak terlibat perjudian,”
Manik Angkeran : “Omong kosong,”

Baca Juga :  √Mollusca: Pengertian, Ciri, Jenis dan Strukturnya

Di tengah perjalanan menuju rumah pak lurah, murid-murid bertemu sesorang.
***
Men Koncreng : “Apakah kalian murid Sidhi Mantra?”
Anandini : “Iya benar, ada apa?”
Men Sempeng : “Katakan pada gurumu, putranya si Manik Angkeran berhutang padaku,
hampir dua bulan Si Manik tidak membayar hutangnya!
Men Koncreng : “Jika sampai besok dia belum membayar hutang anaknya, aku akan
melakukan kekerasan padanya sekeluarga!”
Kalinda : “Baiklah nyonya, akan kami sampaikan,”

Sampailah mereka di tempat Pak Lurah.
***
Yashna : “Pagi Pak Lurah, kami ini utusan Pendeta Sidhi Mantra datang ke sini
untuk memohon Pak Lurah agar menghentikan perjudian dan sabung ayam di desa karena tidak sesuai dengan ajaran agama. Sebagi permohonannya beliau memberikan ini kepadamu,”
Pak Lurah : “Terimakasih sudah memberikan ini kepadaku. Nanti akan ku urus agar
perjudian ini dihentikan,”
Keempat Murid : “Baik Pak,”

Akhirnya Pak Lurah datang ke tempat perjudian itu, dengan sangarnya Ki Wulung menyapa Pak Lurah.
***
Ki Wulung : “Mengapa kau datang ke tempatku?”
Pak Lurah : “Begini, tempat ini yang kau gunakan sebagai tempat judi dan
sabung ayam akan kujadikan sebagai tempat bela diri di desa ini. Jadi sebaiknya perjudian dan sabung ayam ditutup,”
Ki Wulung : “Aku sangat tidak rela tempat ini ditutup, karena tempat ini
adalah tempat mata pencaharianku. Kau tidak bisa seenaknya!”
Pak Lurah : “Ini juga permohonan dari Pendeta Sidhi Mantra,”
Ki Wulung : “Suruh Sidhi Mantra itu datang kemari. Kau tidak perlu ikut
campur, ini tanahku!”
Pak Lurah : “Tapi tempat ini adalah miliki desa, dan aku sebagai Lurah di desa ini,”
Pak Lurah pun langsung meninggalkan tempat itu. Keesokan harinya Sidhi Mantra bersama murid-muridnya datang ke tempat perjudian itu.
***
Sidhi Mantra : “Ki Wulung aku datang kemari untuk memohon agar kau memberhentikan
perjudian di tempat ini. Aku tahu anakku juga berjudi disini, dan itu sangat tidak baik,”
Ki Wulung : “Lawanlah bodanku, jika bodanku kalah kau lawan aku, dan jika aku kalah
akan ku serahkan tempat ini,”

Lalu murid-murid Sidhi Mantra melawan para bondannya itu. Akhirnya Ki Wulung pun dapat dikalahkan. Para pedagang di sekitar area judi dan sabung ayam merasa dirugikan karena tempat itu ditutup.
***
Putu : “Aduhh bagaimana dengan nasib kita? Kita hanya pedagang
kopi di tempat ini tetapi sekarang tempat ini ditutup,”
Kadek : “Gila saja dikira kita akan makan kebaikan, dasar Pendeta sok
suci,”
Komang : “Benar sekali, Pendeta itu tidak memikirkan nasib kita yang
hidup kurang berkecukupan ini,”
Kadek : “Bagaiamana dengan nasib keluarga kita, ayah dan ibuku
sudah tidak bekerja karena sakit, sehingga aku yang menjadi tulang punggung keluargaku,”
Putu : “Belum lagi aku yang sedang mengandung 3 minggu, dimana
aku akan mendapat uang untuk memeriksakan kandunganku,”

Mereka bertiga pun mengeluh dan menangis bersama.
***
Sidhi Mantra : “Tenanglah pedagang, engkau masih bisa mencari nafkah di tempatku,
berhentilah mengeluh dan menangis,”
Komang : “Benarkah pendeta? Baiklah kami akan mengikutimu,”

Karena Manik Angkeran selalu kalah dalam perjudian dan sabung ayam. Dan dia terus meminta uang kepada ayahnya. Sidhi Mantra pun sudah lelah mengurus dan manasehati putranya, akhirnya Sidhi Mantra mencari jalan keluar agar Manik Angkeran dapat beurbah kearah yang baik. Keesokan harinya Sidhi Mantra dan Manik Angkeran pergi ke tempat Dang Hyang Niratha. Di sanalah Sidhi Mantra menitipkan anaknya.
***
Manik Angkeran : “Ayahanda, kita akan pergi kemana?”
Sidhi Mantra : “Anakku kita akan pergi ke tempat temanku,”
Manik Angkeran : “Untuk apa ayahanda?”
Sidhi Mantra : “Aku akan menitipkanmu dengannya,”
Manik Angkeran : “Untuk apa aku dititipkan? Apa ayah tidak sayang lagi?”
Sidhi Mantra : “Bukan begitu anakku, aku ingin kau berubah menjadi lebih baik.
Disana kau akan belajar hidup dan belajar agama,”
Manik Angkeran : “Berapa lama aku harus tinggal disana?”
Sidhi Mantra : “Tidak lama, sampai kamu bisa menjadi lebih baik,”

Akhirnya Sidhi Mantra dan Manik Angkeran sampai di kdiaman Dang Hyang Niratha.
***
Sidhi Mantra : “Wahai temanku, lama tak berjumpa,”
Dang Hyang Niratha : “Kau sangat sibuk sekarang hingga tak ada waktu bertemu
denganku,”
Sidhi Mantra : “Ahh kamu bisa saja, oh iya perkenalkan ini anakku Manik
Angkeran,”
Dang Hyang Niratha : “Apa tujuanmu datang kemari,”
Sidhi Mantra : “Aku ingin menitipkan anakku padamu agar anakku belajar
agama denganmu,”
Dang Hyang Niratha : “Baiklah,”
Manik Angkeran : “Aku akan belajar agama tetapi dengan syarat tidak terpaku,”

Suatu hari Sidhi Mantra pergi ke sebuah goa untuk menemui Naga Besukih. Ternyata Manik Angkeran juga mengikuti ayahnya. Sesampainya di goa Sidhi Mantra membunyikan gentanya lalu muncullah naga kecil. Karena ia merasa curiga Naga Kecil menyerang Sidhi Mantra, dan akhirnya naga Kecil dapat dikalahkan oleh Sidhi Mantra. Lalu Naga kecil menghadap Naga besukih bahwa Sidhi Mantra ingin menemuinya.
***
Naga Kecil : “Siapa kau?”
Sidhi Mantra : “Aku adalah Sidhi mantra teman kakakmu, Naga Besukih”
Naga Kecil : “Siapa kau mengaku teman kakakku?”
Sidhi Mantra : “Aku datang kesini bertujun baik, aku adalah seorang pendeta,”
***
Naga Besukih : “Ada apa kau datang kemari?”
Sidhi Mantra : “Aku datang kemari memohon bantuanmu, hartaku habis digunakan
anakku, aku ingin meminta sedikit hartamu untuk membangun sebuah padepokan,”
Naga Besukih : “Baiklah sahabatku, aku akan memberimu sedikit hartaku.”
Sidhi Mantra : “Terima kasih sahabatku, baiklah kalau begitu aku pamit
pulang,”

Meskipun tinggal di rumah Manik Angkeran tetaplah berjudi hingga memiliki hutang yang banyak karena hal tersebut Manik Angkeran pun pergi ke rumah Sidhi Mantra untuk mencuri genta ayahnya. Suatu hari Manik Angkeran pergi dari rumah Dang Hyang Niratha menuju tempat dimana ia melihat ayahnya mendapatkan harta, dengan berbekal genta yang tealah diambil dari ayahnya. Karena hanya genta tersebut yang dapat memanggil Naga Besukih. Dengan membunyikan genta tersebut Manik Angkeran bisa memanggil Naga Besukih.
***
Manik Angkeran : “Wahai Naga Besukih, aku Manik Angkeran anak dari Sidhi
Mantra. Aku datang kesini untuk meminta hartamu untuk membayar hutang kepada warga desa,”
Naga Besukih : “Baiklah akan kuberikan sedikit hartaku, dengan syarat kau
harus berhenti berjudi dan sabung ayam,”
Manik Angkeran : “Baiklah aku akan berhenti berjudi dan sabung ayam,”

Lalu Naga Besukih menggerakan badannya lalu mengerluarkan koin emas.
***
Naga Besukih : “Sekarang kau bisa kembali dan membayar hutangmu,”

Namun karena Manik Angkeran merasa masih kurang, akhirnya dia melihat ekor naga besukih yang berkilauan emas dan permata. Dan kalau dijual akan menghasilkan uang banyak. Lalu si manik angkeran tidak berfikir panjang lagi dengan mengambil sebuah pedang dan memotong ekor naga besukih. Naga besukih marah.
***
Naga Besukih : “Berani sekali kau memotong ekorku. Dasar manusia tak tahu diri!”

Naga Besukih pun menyemburkan api ke telapak kaki Manik Angkeran yang membuatnya meninggal, hingga menjadi abu. Namun disaat yang bersamaan Dang Hyang Nirata merasa cemas karena Manik Angkeran belum juga kembali oleh karena itu ia mencari Manik Angkeran ke arah goa di sekitar rumahnya, di perjalanan ia bertemu dengan Naga Basukih, namun Naga Basukih sedang terlihat marah.
***
Dang Hyang Nirata : “Wahai Naga Basukih, ada apa denganmu?.”
Naga Basukih : “Tadi ada serorang pemuda bernama Manik Angkeran yang
dengan beraninya memotong ekorku. Lalu aku menyemburkan api ke arah tapak/ jejak kakinya lalu ia menjadi abu,”
Dang Hyang Nirata : “Apakah benar dia Manik Angkeran?”
Naga Besukih : “Iya, dia datang ke goa untuk meminta sedikit hartaku untuk
membayar hutang-hutangnya. Namun dia tidak puas dan memotong ekorku,”
Dang Hyang Nirata : “Aku akan segera memberitahukan kepada Sidhi Mantra tentang
anaknya,”

Lalu si Dang Hyang Nirata memberi tahu si Sidhi Mantra bahwa anaknya telah menjadi abu karena semburan api Naga Besukih. Akhirnya Dang Hyang Niratha dan Sidhi Mantra pergi ke Goa Naga Besukih untuk meminta anaknya dikemablikan lagi. Dan Manik Angkeran pun kembali hidup. Sedangkan ekor Naga Besukin pun juga dapat tersambung kembali
***
Dang Hyang Nirata : “Pendeta ketahuilah anakmu Manik Angkeran telah menjadi abu karena ia pergi ke Naga Besukih dan meminta sedikit hartnya untuk membayar hutang-hutangnya. Namun karena merasa tidak cukup ia memotong ekor Naga Besukih,”
Sidhi Mantra : “Aku akan menghadap ke Naga Besukih memohon ampun darinya,”

Tibalah Sidhi Mantra di Goa Naga Besukih.
***
Sidhi Mantra : “Tuanku Naga Besukih, maafkanlah perbuatan anakku aku mohon
hidupkan kembali anakku,”
Naga Besukih : “Kau tahu bukan ekorku adalah asal kekayaanku, jika kau bisa
menyambung ekorku, akan kuhidupkan kembali anakmu,”
***
Manik Angkeran : “Aku anak yang berdosa, ayahanda maafkan aku,”
Sidhi Mantra : “Kau telah menjadi korban nafsu, maka kau harus berada di sini dan
menjadi murid Naga Besukih. Agar kau bisa menghapal kitab dan berperilaku Yang baik,”
Manik Angkeran : “Ya, ayahanda aku siap menerima bimbingan dari Naga Besukih,”

Karena khawatir Manik Angkeran akan kembali ke kebiasaan buruknya maka Sidhi Mantra membuat garis batas antara tanah Jawa dan tanah Bali agar Manik Angkeran tidak bisa kembali ke tanah Jawa
***
Terbentuklah “SELAT BALI”

demikianlah artiekl dari duniapendidikan.co.id mengenai Cerita Rakyat Bali : Legenda Putri Ayu, Kesuna & Bawang, Ratu Leak Calonarang, Manik Angkeran, Asal Mula, Kebo Ijo, Naskah Drama, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.