Asal Muasal Kota Palembang

Diposting pada

Pengertian Kota Palembang

Kota Palembang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan(Sum-Sel) yang terkenal sebagai kota “empek-empek” berpotensi mengembangkan wisata makanan, mengingat beberapa makanan rakyat khas daeran ini yang diminati warga setempat maupun para pendatang, termasuk turis domestik dan manca Negara. Penelusuran di lokasi pusat jajanan makanan khas di kota Palembang menunjukan adanya variasi jenis makanan khas terkenal terutama pempek dalam berbagai jenis dan harga yang bervariasi.

Palembang dan wilayah provinsi Sum-Sel dikenal sebagai penghasil empek-empek dengan berbagai jenis, antara lain; pempek telur besar, pempek lenjer, pempek kecil, model/tekwan, mie tahu/gado-gado, mie ayam, otak-otak, lenggang, serta berbagai jenis kerupuk/kemplang; seperti kerupuk keriting, kemplang peser/kulit, kemplang panggang dan lempok durian.

Diketahui setiap pendatang atau turis masuk ke kota Palembang dan sekitarnya, di pastikan akan mencari dan mencoba mengkonsumsi makanan khas tersebut. Sampai saat ini untuk mendapatkan makanan itu baik aneka jenis pempek maupun kerupuk dan kemplang relatif mudah karena tersebar di berbagai lokasi pusat jajanan di kota Palembang ini. Hal itu diharapkan menjadi target kunjungan wisatawan dan berpengaruh secara ekonomi bagi warga daerah Palembang.


Makanan Khas Palembang

  • Asal Mula pempek

Menurut sejarahnya pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Palembang Darussalam. Nama pempek atau empek-empek diyakini berasal dari sebutan “apek” yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.

Berdasarkan cerita rakyat sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru.
Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan ”pek . . . apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai “empek-empek” atau “pempek”.


  • Jenis Empek-Empek

1. Pempek merupakan produk pangan tradisional yang dapat digolongkan sebagai gel ikan, sama halnya seperti otak-otak atau kamaboko di Jepang.

2. Bahan baku utamanya adalah ikan, tapioka, air, dan garam. Prinsip pengolahannya terdiri dari penggilingan daging ikan, pencampuran bahan, pembentukan, dan pemasakan. Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.

3. Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut seperti tenggiri, kakap merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah.

4. Jenis pempek di pasaran sangat bervariasi tergantung bahan baku dan cara pemasakannya. Jenisnya antara lain adalah pempek, celimpungan,getotan, telur (kapal selam), pastel (kates), kerupuk (keriting), tahu, lenggang, panggang, serta adaan. Dari sekian jenis pempek, yang paling populer adalah lenjeran (silinder) yang adonannya merupakan adonan dasar bagi jenis pempek lainnya.

Sejarah Palembang

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Batu-bersurat (prasasti) itu ditemukan oleh Controleur Batenberg di tepi sungai Kedukan Bukit, yakni diantara Bukit Seguntang dengan Situs Karanganyar pada tahun 1926 dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno. Prasasti tersebut oleh penduduk kampung Kedukan Bukit waktu itu dijadikan semacam tumbal bila akan mengikuti lomba Bidar, yakni dengan cara meletakkan di haluan Bidar yang akan diperlombakan.

Konon, Bidar atau Perahu yang digentoli dengan batu “sakti-bertuah” itu senantiasa menang berlomba. Kemudian Batu-bersurat Kedukan Bukit itu ditelaah oleh para pakar sejarah dan kebudayaan, diantaranya Prof. M. Yamin yang menyatakan, itulah proklamasi (penggalian/pemindahan) ibukota Sriwijaya (dari tempat lain) ke Bukit Seguntang.
Prasasti Kedukan Bukit itu berbunyi sebagai berikut:

  • (1) Swasti cri cakawarsatita 605 ekadaci cu
  • (2) klapaksa wulan waicakha dapunta hiyang nayik di
  • (3) samwau manalap siddhayatra disaptami cuklapaksa
  • (4) wulan jyesta dapunta hiyang marlapas dari Minanga
  • (5) Tamvan mamawa yam wala dualaksa danan koca (6) duaratus cara di samwau danan jalan sariwu
  • (7) tluratus sapulu dua wannakna datam di Mukha Upang
  • (8) Sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan
  • (9) laghu mudita datam marwuat wanua
  • (10) Criwijava siddhayatra subhiksa.

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka.

Baca Juga :  Cerita Dongeng Batu Menangis

Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Berbicara mengenai asal usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga sekitar abad ke-12 di bawah Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta Salendra dengan Bala Putra Dewa sebagai Raja Pertama.

Pada abad ke-17 kota Palembang menjadi ibukota Kesultanan Palembang Darussalam yang diproklamirkan oleh Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (atau lebih dikenal Kimas Hindi/Kimas Cinde) sebagai sultan pertama (1643-1651), terlepas dari pengaruh kerajaan Mataram (Jawa). Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama.

Kemudian kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16 Februari 1942. Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI. Berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A. Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1948, Palembang dijadikan Kota Besar. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang.


Sejarah Jembatan Ampera

Berada di jantung kota Palembang, Jembatan Ampera merupakan penghubung Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan dengan panjang 1.117m yang memiliki dua menara ini sudah menjadi lambang dan merupakan kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan khususnya Palembang.

Sejarah Monpera

MONPERA atau yang akrab kita sebut Monumen Perjuangan Rak yat dibangun untuk mengenang sejarah pejuang Perang Lima Hari Lima Malam. Terletak di Jalan Merdeka No. 1,Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, Sumatera Selatan.
Awal terjadinya Perang Lima Hari Lima Malam, 1 hingga 5 Januari tahun 1947 lalu, karena pejuang tidak berkenan Belanda menjajah kembali Indonesia, temasuk di Palembang usai proklamasi kemerdekaan. Awalnya sekutu datang untuk melucuti senjata tentara Jepang.

Tapi dibelakangnya ada tentara NICA (Nederlands Indies Civil Administration) yang juga tentara Belanda dengan maksud menjajah kembali Indonesia termasuk Palembang. Inilah yang menyulut Perang Lima Hari Lima Malam. Dalam Perang Lima Hari Lima Malam, yang mengakibatkan banyak para pahlawan yang gugur. Untuk mengenang para pahlawan tersebut maka dibangunlah Monumen Perjuangan Rakyat atau sering disebut MONPERA.

Pendirian monumen, diawali dengan peletakan batu pertama. Sekaligus pemancangan tiang bangunan HUT Kemerdekaan RI ke-30, 17 Agustus 1975. Saat itu, merupakan masa pergantian tampuk kepemimpinan gubernur Sumsel dari H Asnawi Mangku Alam ke H Sainan Sagiman pengganti Pak Asnawi meneruskan pembangunan Monpera itu. Diresmikan penggunaannya tanggal 23 Februari 1988 oleh mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) RI H Alamsyah Ratuperwiranegara. Sekarang MONPERA menjadi salah satu museum, dan menjadi objek wisata di kota Palembang.


Asal Muasal Kota Palembang

Alkisah Zaman dahul kala daerah Sumatra Selatan dan sebagian Provinsi Jambi masih hutan belantara yang unik dan indah. Puluhan sungai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Barisan ,pegunungan di sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wilayah tersebut. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Batanghari Sembilan. Sungai besar yang mengalir di wilayah tersebut di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Sungai Rawas, serta beberapa sungai yang bermuara di Sungai Musi. Ada 2 Sungai Musi yang bermuara di laut di daerah yang berdekatan, yakni Sungai Musi yang lewat Palembang dan Sungai Musi Banyuasin di sebelah utara.

√ Asal Muasal Kota Palembang Secara Lengkap

Karena banyak sungai besar, dataran rendah yang melingkar dari daerah Jambi, Sumatra Selatan, sampai Provinsi Lampung adalah daerah yang banyak memilki danau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu ialah rawa yang digenangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palembang yang dikenal sekarang menurut sejarah ialah sebuah pulau di Sungai Melayu. Pulau kecil itu masih bukit yang diberi nama Bukit Seguntang Mahameru.

Palembang adalah kota tertua di Indonesia, hal tersebut didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang diartikan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan sebagai hari lahir Kota Palembang.

Baca Juga :  √Apa itu Perusahaan Dagang: Pengertian, Ciri, Jenis dan Contoh

Keunikan tempat itu selain hutan rimbanya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, serta aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah tersebut dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kahyangan yang Sebenarnya bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayangnya itu mendiami hutan rimba raya, lereng, serta puncak Bukit Barisan dan kepulauan yang sekarang dikenal dengan Malaysia. Mereka suka datang ke daerah Batanghari Sembilan untuk bercengkerama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas disertai landa dan panjang.

Karena banyaknya sungai yang bermuara ke laut, maka pada zaman itu para pelayar mudah masuk lewat sungai-sungai itu sampai ke dalam, bahkan hingga ke kaki pegunungan, yang ternyata daerah itu subur dan makmur. Maka terjadilah komunikasi antara para pedagang termasuk pedagang dari Cina terhadap penduduk setempat. Daerah tersebut menjadi ramai oleh perdagangan antara penduduk setempat dengan pedagang cina. Akibatnya dewi-dewi dari kahyangan merasa terganggu serta mencari tempat lain.

Sementara itu  orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk membuat rumah dan menetap di sana. Karena Sumatra Selatan adalah dataran rendah yang berawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.

Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur serta aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada pun menjadi terkenal.

Oleh karena itu, orang yang sudah bermukim di Sungai Melayu, terutama penduduk kota Palembang, sekarang menamakan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang sekarang berubah menjadi penduduk Melayu.

Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang artinya dataran rendah yang banyak digenangi air kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran tinggi yang mau ke Palembang sering mengatakan akan ke Lembang. Begitu pun para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.

Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih ada di Bukit Seguntang Mahameru, ada sebuah kapal yang tiba tiba kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. 3 orang kakak beradik itu adalah putra raja Iskandar Zulkarnain. Namun Mereka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.

Mereka disambut oleh Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sapurba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya menikah dengan keluarga putri tersebut.

Karena Bukit Seguntang Mahameru ada di Sungai Melayu, maka Sang Sapurba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian berkembang serta ikut kegiatan di daerah Lembang dan Nama Lembang semakin terkenal. Kemudian saat orang mau ke Lembang selalu mengatakan akan ke Palembang. Kata pa dalam bahasa Melayu tua berarti menunjukkan daerah atau lokasi. Pertumbuhan ekonomi semakin maju. Sungai Musi dan Sungai Musi Banyuasin menjadi jalur perdagangan kuat terkenal hingga ke negara lain. Nama Lembang pun berubah sekarang menjadi Palembang.


Tempat Wisata Palembang

Palembang merupakan salah satu kota besar di pulau Sumatra. Otomatis Kota Palembang banyak menyuguhkan destinasi wisata menarik yang bisa jadikan tujuan traveling, Selain itu itu Palembang juga terkenal dengan kuliner-nya, hampir seluruh Indonesia tahu kuliner khas palembang yaitu empek-empek palembang yang hampir semua kota di indonesia juga banyak yang menjual kuliner khas yang satu ini, jadi jika penasaran mencoba namun belum bisa berkunjung ke Palembang bisa mencari di kota anda tempat yang menjual empek-empek Palembang.

  • Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak dibangun selama 17 tahun dimulai pada tahun 1780 dan diresmikan pemakaiannya pada Tahun 1797. Pemrakarsa pembangunan benteng ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin l (1724-1758) dan pembangunan dilaksanakan oleh Sultan Mahmud Badaruddin, sebagai pengawas pembangunan dipercayakan pada orang-orang Cina.

benteng kuto besak

Benteng Kuto Besak mempuyai ukuran panjang 288,75 meter dan tinggi 9,99 meter (30 kaki) serta tebal 1,99 meter (60 kaki).disetiap sudutnya terdapat bastion yang terletak di sudut barat laut bentuknya berbeda dengan tiga bastion lainnya. Tiga bastion yang sama tersebut merupakan ciri khas bastion Benteng Kuto Besak, di sisi timur dan selatan dan barat terdapat pintu masuk benteng, pintu masuk gerbang utama yang menghadap ke sungai musi disebut lawang kuto dan pintu masuk lainnya disebut lawang buritan.


  • Sungai Musi

Sungai Musi ini panjangnya 460 km membelah provinsi Sumatra Selatan dari timur ke barat yang bercabang–cabang dengan delapan anak sungai besar diantaranya adalah: Sungai Komering, Ogan, Lematang, Kelingi, Lakitan, Semagus, Rawas, dan Batanghari Leko. Karena itu Sumatra Selatan dikenal dengan julukan Batanghari Sembilan.

jembatan ampera

Biasa pengunjung datang ke sungai musi pada sore hingga malam hari untuk menyaksikan matahari terbenam dan suasana malam yang diterangi lampu-lampu di sekitar sungai. Pada malam Minggu atau malam liburan lainnya, biasanya jumlah pengunjung yang mengunjungi jembatan Ampera dan sekitarnya akan lebih banyak. Sungai Musi menjadi tempat rekreasi untuk tua-muda dan anak-anak, termasuk wisatawan di luar kota Palembang.

Di kawasan ini, pengunjung dapat menyaksikan Rumah Rakit, yaitu rumah tradisional khas Palembang. Untuk memasuki kawasan ini pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk karena Sungai Musi merupakan kawasan terbuka. Untuk menuju ke Sungai Musi, pengunjung dapat menggunakan angkutan kota (angkot) dengan jurusan Ampera atau Pasar 16 Ilir dari terminal Sako Kenten Palembang.

Baca Juga :  Asal Usul Pulau Kemaro

  • Makam Kawah Tekurep

Makam Kawah tengkurep Dibangun tahun 1756 oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (Sultan Mahmud Badaruddin I) yang memerintah Palembang 1724-1758. Komplek ini berisikan makam Sultan Mahmud Badaruddin I, Sultan Mahmud Bahauddin , Sultan Ahmad Najamuddin, Istri-istri SMB I, anak-anak Sultan yang Memiliki signifikasi arstektur khas yaitu bentuk atap yang menyerupai kawah atau kuali besar terbalik yang merupakan Gabungan pengaruh arsitektur Melayu, India dan Cina.

Bangunan ini mempunyai atap dari beton yang berbentuk kuali tertelungkup/terbalik. Tempat ini dibangun pada tahun 1756 oleh sultan mahmud badaruddin jayo wikramo (sultan mahmud badaruddin I) yang memerintah pada tahun 1724 – 1758. Dikompleks ini selain Sultan Mahmud Badaruddin I dimakamkan juga imam (guru beliau) yaitu imam sayid al idrus yang berasal dari Yaman selatan


  • Pulau Kerto

Tempat wisat ini sangat menarik karena di jadikan kawasan pengembangan agropolitan, jika anda mengunjungi pulau kerto ini bisa menyaksikan ribuan burung punai karena tempat ini merupakan Daerah lintasan burung punai. Menurut sejarah Versi asal usul nama pulau Kerto dari petani yang pertama kali menempati pulau tersebut adalah versi lain pulau tersebut di bawah kekuasaan Majapahit yang melarang memasang bubu menghadap hulu.

Pesona Pulau kerto memberikan daya tarik tersendiri, tempatnya yang masih alami bisa untuk tujuan wisata yang menyukai nuasa alam dan ketenangan untuk refresing menghilangkan kepenatan dari kebisingan kota. Lokasi Pulau kerto terletak di Hulu Sungai Musi, di Kecamatan Gandus. Di Kawasan ini sedang dilakukan Program Terpadu Pengembangan Kawasan Agropolitan.


Peta Kota Palembang

Ciri Khas Palembang

Tetapi di palembang ada Hantu Khas palembang yang konon ceritanya menghantui Sungai musi dan anak anak Sungai tersebut , yaitu Hantu Banyu ..

Banyak Cerita yang simpang siur mengenai hantu banyu dari palembang ini , dari cerita yang beredar , hantu ini senang memakan ubun ubun anak kecil dan sumsum tulang belakang mereka .. Tidak pernah ada berita mengenai kemunculan hantu banyu ini , tetapi cerita tentang Hantu banyu ini sangat beredar di masyarakat palembang , awal mula cerita hantu ini bermula adalah ketika anak anak kecil sering bermain di pinggir sungai musi sampai maghrib , jadi orang tua mereka menyuruh mereka pulang cepat dengan cara menakut nakuti mereka dengan cerita hantu , dan cerita rakyat ini pun menyebar luas dan terus eksis sampai sekarang , layaknya cerita sangkuriang , malin kundang.

Konon ada sepasang suami istri , mereka hidup di daerah pinggir sungai .. pagi pagi sang suami pamit ke istri untuk bekerja mengambil ikan di sungai , lalu pada sore hari hantu banyu yang berwujud sebagai suaminya pulang ke rumah , istrinya tidak tahu kalau itu hantu banyu dan ia hanya bingung karena biasanya suaminya itu pulang pagi .. tapi sang hantu banyu berwujud suami tersebut meyakinkan istrinya .. lalu semuanya berjalan seperti biasa , mereka melakukan aktivitas seperti biasa layaknya suami istri , namun keesokan paginya , ketika sang hantu banyu pamit , tiba tiba tak berapa lama sang suami pulang kembali ke rumah ,

tapi lagak suami tersebut seperti tidak ada apa apa , sang istri pun keheranan dan bertanya kenapa pulang padahal baru pamit pergi bekerja , sang suami malah lebih bingung karena dia merasa baru pulang pagi ini dari kemarin pagi melaut .. akhirnya pada sore hari sang hantu banyu kembali ke rumah tersebut dengan wujud sebagai suami , tapi dia tidak mau di tuduh menjadi antu banyu dan malah menuduh suami asli dari istri tersebut adalah antu banyu , akhirnya istri tersebut meminta bantuan kepada sesepuh , sesepuh tersebut memberikan sebuah tantangan , barang siapa yang bisa masuk ke botol maka dia adalah suami asli dan sah dari istri tersebut , sang hantu banyu pun bahagia karena dia bisa dengan mudah masuk ke botol tersebut , lalu ketika tantangan di mulai sang antu banyu langsung masuk ke botol , tetapi yang terjadi botol tersebut malah di tutup oleh sesepuh dan di hanyutkan ke sungai musi


Budaya Palembang

Baju Nya Berkonsep

seperti baju pernikahan para raja jaman sriwijaya , jadi dulu mungkin hanya para bangsawan yang kalau menikah memakai baju adat ini , tetapi sepertinya sekarang baju adat ini dipakai oleh semua kalangan jika ingin menikah memakai budaya palembang .. bahkan istri ibas ( menantu pak SBY ) pun memakai baju adat yang sama pada saat upacara pernikahan dengan Ibas yang bertemakan adat Komering


Website Kota Palembang

https://www.palembang.go.id/new/

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai Asal Muasal Kota Palembang : Pengertian, Sejarah, Makanan Khas, Peta, Tempat Wisata, Ciri Khas, Budaya, Website, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.