√ Asal Kata Sufisme : Pemikiran dan Karakteristik Neo-Sufisme

√ Asal Kata Sufisme : Pemikiran dan Karakteristik Neo-Sufisme
5 (100%) 1 vote

Asal Kata Sufisme

Kata Sufisme berasal dari kata “sufi”. Istilah “sufi” dan “tasawuf” tak pernah dikenal di masa Nabi Muhammad SAW dan pada masa khulafaurradyidin. Istilah tersebut baru dikenal pada pertengahann abad ketika Hijriyah. Abu Hasyim Al-Khufi merupakan orang pertama memperkenalkan istilah as-sufi dan menambahkan kata as-sufi pada belakang namanya. Secara etimologis, para ahli memiiki perbedaan pendapat mengenai asal kata dari tasawuf.

√ Asal Kata Sufisme : Pemikiran dan Karakteristik Neo-Sufisme

Sebagian besar sepakat jika tasawuf adalah berasal dari kata suf yang artinya adalah bulu domba. Sebagian lagi menyatakan kalau kata tasawuf adalah berasal dari kata suffah yang artinya adalah emper dari masjid Nabawi yang didiami oleh sebagian dari sahabat anshar. Ada juga berpendapat kalau tasawuf adalah berasal dari kata saff, artinya barisan. Dan ada pula berpendapat kalau tasawuf adalah  berasal dari kata safa yang memiliki arti jernih.

Sufisme terdahulu telah mencoba dalam upaya mengungkap kalau meletakkan penghayatan keagamaan paling benar ialah didalam pendekatan batiniyah. Dampak ialah akan timbulnya suatu kepincangan didalam aktualisasi nilai-nilai Islam, karena terlalu mengutamakan batiniyah serta kurang dalam memperhatikan dari aspek lahiriyah. Oleh karena itu wajar jika kaum sufi tak terlalu tertarik pada masalah-masalah dalam sosial kemasyarakatan.


Pemikiran dan Karakteristik Neo-Sufisme

  • Illustrasi Ibn Taymiyyah

Terminologi Neo-Sufisme pertama muncul dari seorang pemikir muslim kontemporer, yang bernama Fazlur Rahman. Menurutnya perintis yang bisa dia sebut Neo-Sufisme adalah Ibn Taimiyah yang pada perjalanannya akhirnya dilanjutkan muridnya yang bernama Ibn Qoyyim.

Dan munculnya lagi sufisme pada abad ke-7 H/13 M merupakan awal sejarah perkembangan dari tradisi Islam masa depan. Dengan semakin berkembang tasawuf yang terutama di abad ke-3 H, kemudian pengaruh eksternal menjadi semakin dapat dirasakan. Salah satunya akibat dipengaruhi macam-macam corak budaya, sehingga timbulah muncul dua corak dari pemikiran tasawuf.

Dua corak itu adalah corak tasawuf materi dasarnya yang memiliki dasar Al-Qur’an dan juga As-Sunnah serta ide dari gagasan dasar pembentukan moralitas di cover para ulama moderat, sedngkan corak satunya adalah tasawuf bersumber dari filsafat yang memiliki kecenderungan mengenai materi-materi berhubungan antara manusia dan Tuhan di usung pemikir yang kadang-kadang mengemukakan dari pengalaman yang susah dalam dipahami yakni contonya hulul, wahdat al wujud  dan sebagainya.


Karakter Dasar Neo-Sufisme

Beberapa karakter dasar dari Neo-Sufisme mempunya dasar pada komentar dari para ahli bidang tasawuf, berikut perbedaan Neo-Sufisme dan sufisme lama ialah :

  1. Menolak praktek tasawuf ekstrim dan ekstatis, contoh ritual dzikir diiringi dengan tarian serta musik, dan juga dzikir heboh yang tak terkendali. Neo-Sufisme terkesan sedikit menyederhanakan berbagai dari metode dan juga akspresi yang dilaksanakan sesuai konsep syari’ah.
  2. Menolak pemujaan secara berlebihan kepada wali- wali-sufi, kuburannya serta tempat kramat yang dianggap Karena terlalu fanatisme dan berlebihan, berakibat menjadi runtuhnya iman serta dapat menghancurkan dasar tauhidullah, dan ini jelas terjadi di negara Saudi Arabia sebelum adanya gerakan Wahabi pada abad ke-18. sikap semacam ini banyak diilhami Ibn Taimiyyah
  3. Menolak ajaran dari wahdah al-wujud. Pemahaman semacam ini menjadi kontroversial dari pemahaman oleh orang awam dan juga ulama’ fikih. Di dalam Neo-Sufisme, konsep semacam ini dipahami sebagai kerangka dari transendensi Tuhan yang akan tetap menjadii Tuhan yang Khaliq.
  4. Penolakan fanatisme murid pada guru biasanya disebut Di dalam tasawuf lama hanya kepatuhan serta loyalitas yang mutlak kepada guru, murid tersebut dapat mecapai kemajuan dalam spiritualnya biasanya disebut maqam tertinggi, dan telah jadi kepercayaan yang mengakar. Di dalam Neo-Sufisme, murid tak harus memenuhi ajaran gurunya apabila terlihat jelas ada yang bertentangan pada syari’at, malah murid itu mempunyai kewajiban melawannya. Dengan hal ini, Neo-Sufisme, hubungan antara guru dan murid berdasar pada komitmen sosial serta moral akhlak sesuai pada al-Quran juga al-Sunnah.
  5. Dalam Neo-Sufisme, posisi syekh tarekatnya ialah Nabi Saw dan bukan para pendiri tarekat. Sehingga Neo-Sufisme menempatkan Nabi Muhammad Saw pendiri tarekat yang selanjutnya dijadikan teladan dalam kegiatan berfikir dan  berdzikir serta suri tauladan dalam segala hal.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Asal Kata Sufisme : Pemikiran dan Karakteristik Neo-Sufisme, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :

Read More  √ Tindakan Sosial : Pengertian, Macam dan Contohnya
Read More  √ Pelestarian Flora dan Fauna: Cara Melestarikan, Faktor, Manfaat
Read More  √ Apa itu Sumber Daya Manusia : Pengertian, Tujuan, Manfaat
Read More  √ Apa itu Pramuka : Pengertian, Sejarah, Tujuan, Fungsi, Prinsip
/* */
Click to Hide Advanced Floating Content

Send this to a friend