Apa Itu Inflasi

Diposting pada

Pengertian Inflasi

Inflasi adalah sebuah keadaan perekonomian di suatu negara dimana terjadi kecenderungan kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum dalam waktu yang panjang (kontinu) dikarenakan tidak seimbangnya arus uang dan barang.

Apa Itu Inflasi

Kenaikan harga yang sifatnya sementara tak termasuk dalam inflasi, contohnya kenaikan harga-harga menjelang hari raya Idul Fitri. Pada umumnya inflasi terjadi saat jumlah uang yang beredar di masyarakat lebih banyak daripada yang dibutuhkan.

Inflasi merupakan gejala ekonomi yang tidak mungkin dihilangkan secara tuntas. Berbagai macam upaya yang dilakukan biasanya hanya sebatas pengendalian inflasi saja.


Penyebab Inflasi


  • Meningkatnya Permintaan (Demand Pull Inflation)

Inflasi yang terjadi dikarenakan peningkatan permintaan untuk jenis barang atau jasa tertentu. Dalam hal ini, peningkatan permintaan jenis barang atau jasa tersebut terjadi secara agregat (agregat demand).

Hal ini terjadi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

  • Naiknya belanja pemerintah,
  • Naiknya permintaan barang untuk diekspor.
  • Naiknya permintaan barang untuk swasta.

  • Meningkatnya Biaya Produksi (Cost Pull Inflation)

Inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi Adajuga peningkatan biaya produksi dikarenakan kenaikan harga bahan-bahan baku, contohna:

  • Harga bahan bakar naik.
  • Upah buruh naik.

  • Tingginya Peredaran Uang

Inflasi yang terjadi karena uang yang beredar di masyarakat lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Ketika jumlah barang tetap sementara uang yang beredar meningkat 2 kali lipat, maka bisa terjadi kenaikan harga-harga hingga 100%.

Hal tersebut dapat terjadi saat pemerintah menerapkan sistem anggaran defisit, dimana kekurangan anggaran itu diatasi dengan mencetak uang baru. Tapi hal itu membuat jumlah uang yang beredar di masyarakat semakin bertambah dan mengakibatkan inflasi.


Jenis-Jenis Inflasi


  • Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Inflasi Ringan

Inflasi Ringan adalah inflasi yang mudah untuk dikendalikan dan belum begitu menganggu perekonomian sebuah negara. Terjadi kenaikan harga barang atau jasa secara umum, yakni di bawah 10% per tahun dan bisa dikendalikan.


Inflasi Sedang

Inflasi Sedang adalah inflasi yang bisa menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat berpenghasilan tetap, tapi belum membahayakan aktivitas perekonomian sebuah negara. Inflasi ini berada di kisaran 10% hingga 30% per tahun.


Inflasi Berat

Inflasi Berat adalah inflasi yang mengakibatkan kekacauan perekonomian di sebuah negara. Pada kondisi ini biasanya masyarakat lebih memilih menyimpan barang dan tak mau menabung karena bunganya jauh lebih rendah ketimbang nilai inflasi. Inflasi ini berada di kisaran 30% hingga100% per tahun.


Inflasi Sangat Berat (Hyperinflation)

Inflasi Sangar Berat adalahh inflasi yang sudah mengacaukan perekonomian sebuah negara dan sangat sulit untuk dikendalikan walaupun dilakukan kebijakan moneter dan fiskal. Inflasi tersebut berada di kisaran 100% ke atas per tahun.


  • Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Demand pull inflation

Adalah inflasi yang terjadi karena permintaan akan barang atau  jasa lebih tinggi dari yang dapat dipenuhi oleh produsen.

Cost push inflation

Adalah inflasi yang terjadi karena terjadi kenaikan biaya produksi hingga harga penawaran barang naik.

Bottle neck inflation

Adalah inflasi campuran yang dikarenakan oleh faktor penawaran atau faktor permintaan.


  • Jenis Inflasi Berdasarkan Sumbernya

Domestic inflation

Adalah inflasi yang bersumber dari dalam negeri. Inflasi ini terjadi karena jumlah uang di masyarakat lebih banyak dibanding yang dibutuhkan. Inflasi jenis ini juga bisa terjadi saat jumlah barang atau jasa tertentu berkurang sementara permintaan tetap sehingga harga-harga naik.

Baca Juga :  Langkah Mengajar

Imported inflation

Adalah inflasi yang bersumber dari luar negeri. Inflasi ini terjadi pada negara yang melaksanakan perdagangan bebas dimana ada kenaikan harga di luar negeri. Sebagai Contoh, Indonesia melakukan impor barang modal dari negara lain. Ternyata harga barang-barang modal di negara itu naik, kenaikan harga tersebut berdampak untuk Indonesia sehingga mengakibatkan inflasi.


Dampak Inflasi


  • Dampak Inflasi Terhadap Pendapatan

Inflasi bisas memberikan dampak positif dan negatif pada pendapatan masyarakat. Pada kondisi tertentu, contohnya inflasi lunak, justru akan mendorong para pengusaha untuk memperluas produksi sehingga meningkatkan perekonomian.

Tapi, inflasi akan berdampak buruk untuk mereka yang berpenghasilan tetap karena nilai uangnya tetap sementara harga barang atau jasa naik.


  • Dampak Inflasi Terhadap Ekspor

Kemampuan ekspor sebuah negara akan berkurang saat mengalami inflasi, karena biaya ekspor akan lebih mahal. Selain itu, daya saing barang ekspor juga mengalami penurunan, yang pada akhirnya pendapatan dari devisa juga berkurang.


  • Dampak Inflasi Terhadap Minat Menabung

Seperti yang sudah disebutkan pada pengertian inflasi di atas, pada kondisi inflasi minat menabung sebagian besar orang akan berkurang. Alasannya adalah karena pendapatan dari bunga tabungan jauh lebih kecil sementara penabung harus membayar biaya administrasi tabungannya.


  • Dampak Inflasi Terhadap Kalkulasi Harga Pokok

Kondisi inflasi akan mengakibatkan perhitungan penetapan harga pokok menjadi sulit karena dapat menjadi terlalu kecil atau terlalu besar. Persentase inflasi yang terjadi di masa depan seringkali tidak bisa diprediksi dengan akurat.

Hal ini lalu akan membuat proses penetapan harga pokok dan harga jual menjadi tidak akurat. Pada kondisi tertentu, inflasi akan membuat para produsen kesulitan serta mengakibatkan kekacauan perekonomian.


Teori Inflasi


  • Terori Kuantitas

Seperti yang sudah disebutkan pada pengertian inflasi di atas, semakin banyak uang yang beredar maka harga barang atau harga jasa akan naik.


  • Teori Keynes

Menurut Teori Keynes, inflasi dapat terjadi saat sebuah golongan masyarakat ingin hidup melebihi batas kemampuan ekonominya dengan membeli barang dan jasa secara berlebihan. Sesuai hukum ekonomi, semakin banyak permintaan sementara penawaran tetap, maka harga-harga akan naik.


  • Teori Struktural

Inflasi juga bisa terjadi saat produsen tidak bisa mengantisipasi dengan cepat terjadinya kenaikan permintaan akibat pertambahan penduduk.


Indikator Inflasi

Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu perekonomian sedang dilanda inflasi atau tidak. Indikator tersebut diantaranya :

  1. Indeks Harga Konsumen (IHK), ialah suatu indeks yang menghitung rata-rata perubahan harga dalam suatu periode, dari suatu kumpulan barang dan jasa yang dikonsumsi oleh penduduk atau rumah tangga dalam kurun waktu tertentu. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Indikator ini merupakan indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi.

  2. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB), merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga dari komoditi-komoditi yang diperdagangkan pada tingkat produsen di suatu daerah pada suatu periode tertentu. Jika pada IHK yang diamati adalah barang-barang akhir yang dikonsumsi masyarakat, pada IHPB yang diamati adalah barang-barang mentah dan barang-barang setengah jadi yang merupakan input bagi produsen.

  3. Deflator Produk Domestik Bruto(PDB), merupakan indikator yang menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.

Penggolongan Inflasi

Inflasi dapat digolongkan menjadi 3 jenis berdasarkan tingkat keparahannya, penyebab terjadinya dan asal usul terjadinya.


Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dibedakan menjadi :

  1. Inflasi ringan, yaitu inflasi dengan tingkat keparahan dibawah 10% setahun,
  2. Inflasi sedang, yaitu inflasi dengan tingkat keparahan berkisar antara 10% s/d 30% setahun,
  3. Inflasi berat, yaitu inflasi dengan tingkat keparahan berkisar antara 30% s/d 100% setahun,
  4. Hiperinflasi, merupakan inflasi yang sangat parah dengan tingkat keparahannya diatas 100% setahun.

Berdasarkan penyebab terjadinya, inflasi dibedakan enjadi :

  • Demand Pull Inflation, atau Demand-Side Inflation, atau Demand Shock Inflation, yaitu inflasi yang timbul karena desakan permintaan masyarakat akan barang dan jasa yang begitu kuat. Inflasi ini muncul karena naiknya tingkat pendapatan masyarakat, sehingga masyarakat cenderung membeli barang dan jasa lebih banyak dari yang biasa mereka gunakan.

  • Cost Push Inflation, atau Supply-Side Inflation, atau Supply Shock Inflation, yaitu inflasi yang disebabkan karena naiknya biaya produksi. Beberapa contoh penyebab inflasi yang dapat menyebabkan kenaikan pada biaya produksi adalah kenaikan upah pekerja, kenaikan BBM dan kenaikan tarif listrik serta kenaikan tarif angkutan.

  • Mixed Inflation (inflasi campuran), yaitu inflasi yang disebabkan karena permintaan dan penawaran yang tidak setimbang. Bertambahnya permintaan terhadap barang atau jasa mengakibatkan faktor produksi dan penyediaan barang menjadi turun. Sementara substitusi atau barang penggantinya terbatas atau bahkan tidak ada. Keadaan ini, pada akhirnya menyebabkan harga menjadi naik. Inflasi ini menjadi semakin sulit dikendalikan ketika kenaikan supply (penawaran) lebih tinggi atau setidaknya sama dengan kenaikan demand (permintaan).
Baca Juga :  Sistem Pendidikan Di Finlandia

Berdasarkan asal-usul terjadinya, inflasi dibedakan menjadi :

  1. Domestic Inflation, yaitu inflasi yang berasal atau bersumber dari dalam negeri. Misalnya, pada saat pemerintah mengalami defisit anggaran belanja, pemerintah akan mencetak uang baru, sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat bertambah. Keadaan ini akan mendorong tingkat konsumsi masyarakat menjadi lebih tinggi, sehingga apabila penawaran akan barang tetap, maka hal ini akan mendorong kenaikan harga barang-barang.

  2. Imported Inflation, yaitu inflasi yang berasal dari luar negeri. Misalnya saja di Indonesia. Dalam memenuhi bahan baku dan barang modal lainnya untuk kegiatan produksi, para pengusaha di Indonesia masih banyak yang mengimpor dari negara tetangga. Apabila harga barang-barang yang diimpor itu naik, maka biaya produksi juga akan meningkat, yang pada akhirnya akan menaikkan harga jual barang dan jasa.

Faktor Penyebab Inflasi

Pada prinsipnya, inflasi dapat terjadi karena tidak adanya keserasian antara laju pertambahan uang dengan tingkat pertumbuhan barang dan jasa. Apabila jumlah uang beredar meningkat, sedangkan produksi barang dan jasa tetap, maka hal ini cenderung akan mendorong terjadinya inflasi. Namun demikian, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya inflasi, diantaranya :


  1. Naiknya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa. Contohnya, ketika pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS), biasanya akan diikuti dengan kenaikan permintaan barang dan jasa. Apabila kenaikan permintaan ini tidak diimbangi dengan penambahan jumlah barang dan jasa di pasar, maka hal ini akan berakibat pada naiknya harga barang dan jasa.

  2. Naiknya biaya produksi. Contohnya, pada saat pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), harga barang-barang di pasar juga akan meningkat. Kenaikan harga BBM ini juga berdampak pada kenaikan biaya produksi, akibatnya perusahaan juga akan menaikkan harga jual barang dan jasanya.

  3. Defisit anggaran belanja (APBN). Defisit APBN yang ditutup dengan percetakan uang baru oleh Bank Indonesia, akan berakibat pada bertambahnya jumlah uang beredar, dan pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa.

  4. Menurunnya nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, seperti US dollar, akan berdampak pada semakin mahalnya barang-barang produksi impor. Hal ini akan berakibat pada kenaikan biaya produksi dan pada akhirnya akan meningkatkan harga jual barang.

  5. Perkiraan masyarakat akan kenaikan harga di masa mendatang (expectation).

Teori-Teori Inflasi

Teori inflasi dibagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok menyoroti aspek-aspek tertentu dari proses terjadinya inflasi. Teori-teori terjadinya proses inflasi tersebut adalah sebagai berikut :


  • Teori Kuantitas

Teori ini menyoroti proses terjadinya inflasi dari segi jumlah uang beredar dan harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang (expectations). Inti dari teori ini adalah :

  1. Inflasi hanya bisa terjadi jika ada penambahan jumlah uang yang beredar di masyarakat, baik itu uang giral maupun uang kartal. Perubahan yang terjadi dalam tingkat harga merupakan akibat dari adanya perubahan jumlah uang beredar. Bertambahnya jumlah uang beredar di masyarakat akan mengakibatkan nilai uang menurun. Menurunnya nilai uang mempunyai makna yang sama dengan naiknya tingkat harga.

    Maka dari itu, dapat pula dikatakan bahwa bertambahnya jumlah uang beredar mempunyai kecenderungan mengakibatkan naiknya tingkat harga. Sebaliknya, berkurangnya jumlah uang beredar cenderung mengakibatkan turunnya tingkat harga. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa inflasi hanya dapat terjadi apabila terdapat penambahan jumlah uang beredar. Apabila jumlah uang beredar di masyarakat tidak ditambah, maka inflasi akan berhenti secara otomatis.


  2. Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar di masyarakat dan harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang (expectations). Sehubungan dengan pengaruh harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang (expectation), terdapat beberapa kemungkinan keadaan yang menimbulkan inflasi,
Baca Juga :  Asal Usul Simalungun

  • Teori Keynes

Berdasarkan teori ini, inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan perekonomiannya. Terjadinya inflasi melalui proses perebutan bagian rezeki di antara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar dari yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses perebutan ini akhirnya diwujudkan dalam permintaan efektif, sehingga menyebabkan permintaan masyarakat akan barang-barang lebih besar dari barang-barang yang sanggup disediakan oleh kapasitas yang tersedia.

Hal ini akan menyebabkan inflationary gap yang timbul karena kelompok-kelompok masyarakat tersebut berhasil memperoleh dana, yang digunakan untuk mewujudkan keinginan mereka menjadi permintaan efektif akan barang-barang. Akibatnya, akan terjadi kenaikan harga-harga barang.


  • Teori Strukturalis

Teori strukturalis menekankan pada struktur perekonomian negara-negara sedang berkembang yang didasarkan atas pengalaman dari negara Amerika Latin. Menurut teori ini, inflasi dikaitkan dengan faktor struktur perekonomian, dimana faktor struktur perekonomiannya hanya bisa berubah secara bertahap dan dalam jangka panjang, sehingga inflasi ini disebut inflasi jangka panjang. Maka dari itu, yang akan ditelusuri dalam teori ini adalah faktor-faktor jangka panjang manakah yang menyebabkan inflasi dalam struktur perekonomian.


Penanggulangan Inflasi

Dalam menyikapi inflasi agar tidak menjadi masalah yang berkepanjangan dan tidak berpengaruh yang besar terhadap kondisi perekonomian Indonesia, maka pemerintah melakukan berbagai kebijakan untuk mengatasi inflasi tersebut, diantaranya sebagai  berikut.


  • Melalui Kebijakan Moneter.

Kebijakan moneter adalah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang beredar. Dalam hal ini, peran Bank Sentral (Bank Indonesia) sangat penting. Pemerintah Indonesia lebih banyak menggunakan pendekatan moneter dalam upaya mengendalikan tingkat harga umum.


  • Melalui Kebijakan Fiskal.

Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang berhubungan dengan finansial pemerintah


  • Melalui Kebijakan Non-Moneter.

Kebijakan Non-Moneter dapat dilakukan dengan cara :

  1. Meningkatkan hasil produksi. Cara ini cukup efektif, mengingat inflasi disebabkan oleh kenaikan jumlah barang konsumsi yang tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar.

  2. Kebijakan upah, merupakan upaya menstabilkan upah gaji. Hal ini dapat dilakukan dengan tidak sering dinaikkan, karena kenaikan yang relatif sering dilakukan akan meningkatkan daya beli dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan, sehingga menimbulkan inflasi.

  3. Pengawasan harga dan distribusi barang. Hal ini dimaksudkan agar harga tidak mengalami kenaikan. Pengendalian harga yang baik tidak akan berhasil tanpa ada pengawasan. Pengawasan yang baik biasanya akan menimbulkan pasar gelap. Untuk menghindari pasar gelap maka distribusi barang harus dapat dilakukan dengan lancar.

  4. Kebijakan yang berkaitan dengan output.  Kenaikan jumlah output dapat dicapai misalnya dengan kebijakan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung meningkat. Dengan bertambahnya jumlah barang di dalam negeri cenderung akan menurunkan harga.

  • Melalui Kebijakan Sektor Riil.

  • Pemerintah mendorong bank untuk memberikan kredit lebih spesifik kepada UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Contohnya bank BRI mencanangkan tahun ini sebagai Microyear.
  • Menekan arus barang impor dengan cara menaikkan pajak.
  • Mendorong masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai Apa Itu Inflasi : Pengertian, Penyebab, Jenis, Dampak, Teori, Indikator, Penggolongan, Faktor, Penanggunlannya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.