Sejarah Geografi Dan Suku Bangsa

Diposting pada

Definisi Geografi

Pengertian Geografi Menurut Para Ahli. Perbedaan pendapat mengenai sesuatu, merupakan hal yang sangat wajar bagi manusia, demikian juga dengan definisi atau pengertian geografi. Banyak para ahli, para tokoh dunia yang memaparkan berbagai pengertian/definisi geografi, namun pada dasarnya mempunyai inti yang sama.
Istilah geografi untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Erastothenes pada abad ke 1. Menurut Erastothenes geografi berasal dari kata geographica yang berarti penulisan atau penggambaran mengenai bumi. Berdasarkan pendapat tersebut, maka para ahli geografi (geograf) sependapat bahwa Erastothenes dianggap sebagai peletak dasar pengetahuan geografi.

Pada awal abad ke-2, muncul tokoh baru yaitu Claudius Ptolomaeus mengatakan bahwa geografi adalah suatu penyajian melalui peta dari sebagian dan seluruh permukaan bumi. Jadi Claudius Ptolomaeus mementingkan peta untuk memberikan informasi tentang permukaan bumi secara umum. Kumpulan dari peta Claudius Ptolomaeus dibukukan, diberi nama ‘Atlas Ptolomaeus’.

Menjelang akhir abad ke-18, perkembangan geografi semakin pesat. Pada masa ini berkembang aliran fisis determinis dengan tokohnya yaitu seorang geograf terkenal dari USA yaitu Ellsworth Hunthington. Di Perancis faham posibilis terkenal dengan tokoh geografnya yaitu Paul Vidal de la Blache, sumbangannya yang terkenal adalah “Gen re de vie”. Perbedaan kedua faham tersebut, kalau fisis determinis memandang manusia sebagai figur yang pasif sehingga hidupnya dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Sedangkan posibilisme memandang manusia sebagai makhluk yang aktif, yang dapat membudidayakan alam untuk menunjang hidupnya.
Di bawah ini duniabaca.com sajikan beberapa definisi geografi yang akan saling melengkapi dan dengan demikian diharapkan dapat menyingkap inti masalah atau pokok kajian geografi.


Perkembangan Pandangan Geografi

Ilmu geografi mengalami perkembangan dalam sudut pandangnya, secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

  • 1. Geografi Ortodoks

Bidang kajiannya adalah suatu wilayah (region) dan analisis terhadap sifat sistematiknya, meliputi :
a. Geografi Fisik
Mempelajari tentang gejala fisik dari permukaan bumi yang meliputi tanah, air dan udara dengan segala prosesnya. Ilmu penunjang geografi fisik antara lain geologi, geomorfologi, pedologi, meteorologi, klimatologi dan oseanograsi.
b. Geografi Manusia
Mempelajari tentang kependudukan, aktivitas ekonomi, politik, sosial dan budaya. Ilmu penunjang geografi manusia antara lain geografi ekonomi, geografi penduduk, geografi perdesaan dan geografi perkotaan.
c. Geografi Regional
Mempelajari perwilayahan, misalnya daerah tropik, arid, kutub. Kajian ini menitikberatkan pada kultur suatu wilayah misalnya Afrika Utara, Eropa Barat, Asia Utara.
d. Geografi Teknik
Kajian ini merupakan kajian geograi yang lebih bersifat teknis dan babyak memanfaatkan teknologi dan metode-metode penelitian. lmu penunjang pada kajian ini misalnya Sistem Informasi Geografis, Kartografi, Penginderaan Jauh


  • 2. Geografi Terintegrasi

Merupakan kajian geografi dengan pendekatan terpadu, yaitu integrasi elemen-elemen geografi sistematik yang terdiri dari geografi fisik dan geografi manusia dengan geografi regional. Dalam mengkaji suatu fenomena/gejala alam menggunakan pendekatan analisis keruangan, ekologi dan wilayah.


Hakikat dan Ruang LIngkup Studi Geografi

Pada hakikatnya studi geografi adalah pengkajian keruangan tentang fenomena dan masalah kehidupan manusia yang disusun dari hasil obeservasi dengan melakukan analisis fenomena manusia, fenomena alam serta persebaran dan interaksinya dalam ruang. untuk menunjukkan dan menjelaskan fenomena di permukaan bumi diawali dengan mengajukan 6 (enam) pertanyaan pokok, yaitu what, where, when, why, who(m) dan how (5W1H).
Pertanyaan pokok tersebut untuk menjelaskan:

1. Fenomena apa yang terjadi
2. Di mana fenomena itu terjadi
3. Kapan fenomena tersebut terjadi
4. Mengapa fenomena itu terjadi
5. Siapa saja yang mengalami
6. Bagaimana usaha-usaha mengatasi

Rhoads Murphey (1966) dalam bukunya The Scope of Geography menjelaskan bahwa pokok-pokok ruang lingkup ilmu geografi adalah :

1. Persebaran dan keterkaitan antara penduduk di permukaan bumi dan aspek-aspek keruangan, serta usaha manusai untuk memanfaatkannya.
2. Interelasi antara manusia dengan lingkungan fisik sebagai bagian dari studi perbedaan wilayah.
3. Kerangka wilayah dan analisis wilayah secara khusus.

Daftar Suku Bangsa di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Lihat pula: Suku Bangsa di Indonesia

Halaman ini merupakan daftar suku bangsa yang hidup di Indonesia, diikuti dengan nama wilayah yang dijadikan tempat tinggal mayoritas suku masing-masing. Daftar berikut ini diurutkan berdasarkan nama suku, bukan nama wilayah:
Daftar ini belumlah lengkap. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya.
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Menurut abjad
A
 Suku Aceh di Aceh: kabupaten Aceh Besar
 Suku Alas di kabupaten Aceh Tenggara
 Suku Alor di NTT: kabupaten Alor
 Suku Ambon di kota Ambon
 Suku Ampana di Sulawesi Tengah
 Suku Anak Dalam di Jambi
 Suku Aneuk Jamee di kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Barat Daya
 Suku Arab-Indonesia
 Suku Aru di Maluku: Kepulauan Aru
 Suku Asmat di Papua
 Suku Abung di Lampung
B
 Suku Bali di Bali terdiri :
 Suku Bali Majapahit di sebagian besar Pulau Bali
 Suku Bali Aga di Karangasem dan Kintamani
 Suku Balantak di Sulawesi Tengah
 Suku Banggai di Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai Kepulauan
 Suku Baduy di Banten
 Suku Bajau di Kalimantan Timur
 Suku Bangka di Bangka Belitung
 Suku Banjar di Kalimantan Selatan
 Suku Batak di Sumatera Utara terdiri :
 Suku Karo di kabupaten Karo
 Suku Mandailing di kabupaten Mandailing Natal
 Suku Angkola di kabupaten Tapanuli Selatan
 Suku Toba di kabupaten Toba Samosir
 Suku Pakpak di kabupaten Pakpak Bharat
 Suku Simalungun di kabupaten Simalungun
 Suku Batin di Jambi
 Suku Bawean di Jawa Timur: Gresik
 Suku Belitung di Bangka Belitung
 Suku Bentong di Sulawesi Selatan
 Suku Berau di Kalimantan Timur: kabupaten Berau
 Suku Betawi di Jakarta
 Suku Bima NTB: kota Bima
 Suku Boti di kabupaten Timor Tengah Selatan
 Suku Bolang Mongondow di Sulawesi Utara: Kabupaten Bolaang Mongondow
 Suku Bugis di Sulawesi Selatan
 Orang Bugis Pagatan di Kalimantan Selatan, Kusan Hilir, Tanah Bumbu
 Suku Bungku di Sulawesi Tengah: Kabupaten Morowali
 Suku Buru di Maluku: Kabupaten Buru
 Suku Buol di Sulawesi Tengah: Kabupaten Buol
 Suku Buton di Sulawesi Tenggara: Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau
 Suku Bonai di Riau: Kabupaten Rokan Hilir
D
 Suku Damal di Mimika
 Suku Dampeles di Sulawesi Tengah
 Suku Dani di Papua: Lembah Baliem
 Suku Dayak terdiri :
 Suku Punan di Kalimantan Tengah
 Suku Kanayatn di Kalimantan Barat
 Suku Iban di Kalimantan Barat
 Suku Mualang di Kalimantan Barat: Sekadau, Sintang
 Suku Bidayuh di Kalimantan Barat: Sanggau
 Suku Mali di Kalimantan Barat
 Suku Seberuang di Kalimantan Barat: Sintang
 Suku Sekujam di Kalimantan Barat: Sintang
 Suku Sekubang di Kalimantan Barat: Sintang
 Suku Ketungau di Kalimantan Barat
 Suku Desa di Kalimantan Barat
 Suku Kantuk di Kalimantan Barat
 Suku Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
 Suku Limbai di Kalimantan Barat
 Suku Kebahan di Kalimantan Barat
 Suku Pawan di Kalimantan Barat
 Suku Tebidah di Kalimantan Barat
 Suku Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
 Orang Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
 Suku Bukit di Kalimantan Selatan
 Orang Dayak Pitap di Tebing Tinggi, Balangan, Kalsel
 Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
 Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
 Suku Dusun Deyah di Kalimantan Selatan: Tabalong
 Suku Ngaju di Kalimantan Tengah: Kabupaten Kapuas
 Suku Siang Murung di Kalimantan Tengah: Murung Raya
 Suku Bara Dia di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
 Suku Ot Danum di Kalimantan Tengah
 Suku Lawangan di Kalimantan Tengah
 Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
 Suku Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
 Suku Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
 Suku Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
 Suku Bukat, Kutai Barat
 Suku Busang, Kutai Barat
 Suku Ohong, Kutai Barat
 Suku Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
 Suku Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
 Suku Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
 Suku Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
 Suku Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
 Suku Basap, Bontang-Kutai Timur
 Suku Ahe di Kabupaten Berau
 Suku Tagol, Malinau, rumpun Murut
 Suku Brusu, Malinau, rumpun Murut
 Suku Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
 Suku Lundayeh, Malinau
 Suku Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
 Suku Dusun di Kalimantan Tengah
 Suku Maanyan di Kalimantan Tengah: Barito Timur
 Orang Maanyan Paju Sapuluh
 Orang Maanyan Paju Epat
 Orang Maanyan Dayu
 Orang Maanyan Paku
 Orang Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
 Orang Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
 Suku Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
 Suku Dompu NTB: Kabupaten Dompu
 Suku Donggo, Bima
 Suku Duri Terletak di bagian utara Kabupaten Enrekang berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, meliputi tiga kecamatan induk Anggeraja, Baraka, dan Alla di Sulawesi Selatan
E
 Suku Eropa-Indonesia (orang Indo atau peranakan Eropa-Indonesia)
F
 Suku Flores di NTT: Flores Timur
G
 Suku Gayo di Aceh: Gayo Lues Aceh Tengah Bener Meriah
 Suku Gorontalo di Gorontalo: Kota Gorontalo
 Suku Gumai di Sumatera Selatan: Lahat
I
 Suku India-Indonesia
J
 Suku Banten di Banten
 Suku Cirebon di Jawa Barat: Kota Cirebon
 Suku Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur
 Suku Tengger di Jawa Timur
 Suku Osing di Jawa Timur: Banyuwangi
 Suku Samin di Jawa Tengah: Purwodadi
 Suku Jambi di Jambi: Kota Jambi
K
 Suku Kei di Maluku Tenggara: Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual
 Suku Kaili di Sulawesi Tengah: Kota Palu
 Suku Kaur di Bengkulu: Kabupaten Kaur
 Suku Kayu Agung di Sumatera Selatan
 Suku Kerinci di Jambi: Kabupaten Kerinci
 Suku Komering di Sumatera Selatan: Kabupaten Ogan Komering Ilir, Baturaja
 Suku Konjo Pegunungan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
 Suku Konjo Pesisir, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
 Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan
 Suku Kulawi di Sulawesi Tengah
 Suku Kutai di Kalimantan Timur: Kutai Kartanegara
 Suku Kluet di Aceh: Aceh Selatan
 Suku Krui di Lampung
L
 Suku Laut, Kepulauan Riau
 Suku Lampung di Lampung
 Suku Lematang di Sumatera Selatan
 Suku Lembak, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
 Suku Lintang, Sumatera Selatan
 Suku Lom, Bangka Belitung
 Suku Lore, Sulawesi Tengah
 Suku Lubu, daerah perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat
M
 Suku Madura di Jawa Timur
 Suku Makassar di Sulawesi Selatan: Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba (sebagian), Kabupaten Sinjai (bagian perbatasan Kab Gowa)Kabupaten Maros (sebagian) Kabupaten Pangkep (sebagian)Kota Makassar
 Suku Mamasa (Toraja Barat) di Sulawesi Barat: Kabupaten Mamasa
 Suku Mandar Sulawesi Barat: Polewali Mandar
 Suku Melayu
 Suku Melayu Riau di Riau
 Suku Melayu Tamiang di Aceh: Aceh Tamiang
 Suku Mentawai di Sumatera Barat: Kabupaten Kepulauan Mentawai
 Suku Minahasa di Sulawesi Utara: Kabupaten Minahasa terdiri 9 subetnik :
 Suku Babontehu
 Suku Bantik
 Suku Pasan Ratahan
 Suku Ponosakan
 Suku Tonsea
 Suku Tontemboan
 Suku Toulour
 Suku Tonsawang
 Suku Tombulu
 Suku Minangkabau, Sumatera Barat
 Suku Mori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah
 Suku Muko-Muko di Bengkulu: Kabupaten Mukomuko
 Suku Muna di Sulawesi Tenggara: Kabupaten Muna
 Suku Muyu di Kabupaten Boven Digoel, Papua
 Suku Mekongga di Sulawes Tenggara: Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Kolaka Utara
N
 Suku Nias di Sumatera Utara: Kabupaten Nias, Nias Selatan
O
 Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur
 Suku Ogan di Sumatera Selatan
P
 Suku Papua/Irian
 Suku Asmat di Kabupaten Asmat
 Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor
 Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
 Suku Ekagi, daerah Paniai, Abepura, Papua
 Suku Amungme di Mimika
 Suku Bauzi, Mamberamo hilir, Papua utara
 Suku Arfak di Manokwari
 Suku Kamoro di Mimika
 Suku Palembang di Sumatera Selatan: Kota Palembang
 Suku Pamona di Sulawesi Tengah: Kabupaten Poso
 Suku Pasemah di Sumatera Selatan
 Suku Pesisi di Sumatera Utara: Tapanuli Tengah
 Suku Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
R
 Suku Rawa, Rokan Hilir, Riau
 Suku Rejang di Bengkulu: Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong
 Suku Rote di NTT: Kabupaten Rote Ndao
 Suku Rongga di NTT Kabupaten Manggarai Timur
S
 Suku Saluan di Sulawesi Tengah
 Suku Sambas (Melayu Sambas) di Kalimantan Barat: Kabupaten Sambas
 Suku Sangir di Sulawesi Utara: Kepulauan Sangihe
 Suku Sasak di NTB, Lombok
 Suku Sekak Bangka
 Suku Sekayu di Sumatera Selatan
 Suku Semendo di Bengkulu, Sumatera Selatan: Muara Enim
 Suku Serawai di Bengkulu: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma
 Suku Simeulue di Aceh: Kabupaten Simeulue
 Suku Sigulai di Aceh: Kabupaten Simeulue bagian utara
 Suku Sumbawa Di NTB: Kabupaten Sumbawa
 Suku Sumba di NTT: Sumba Barat, Sumba Timur
 Suku Sunda di Jawa Barat
T
 Suku Talaud di Sulawesi Utara: Kepulauan Talaud
 Suku Talang Mamak di Riau: Indragiri Hulu
 Suku Tamiang di Aceh: Kabupaten Aceh Tamiang
 Suku Tengger di Jawa Timur Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo lereng G. Bromo
 Suku Ternate di Maluku Utara: Kota Ternate
 Suku Tidore di Maluku Utara: Kota Tidore
 Suku Timor di NTT, Kota Kupang
 Suku Tionghoa-Indonesia
 Orang Cina Parit di Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel
 Suku Tojo di Sulawesi Tengah: Kabupaten Tojo Una-Una
 Suku Toraja di Sulawesi Selatan: Tana Toraja
 Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara: Kendari
 Suku Toli Toli di Sulawesi Tengah: Kabupaten Toli-Toli
 Suku Tomini di Sulawesi Tengah: Kabupaten Parigi Moutong
U
 Suku Una-una di Sulawesi Tengah: Kabupaten Tojo Una-Una
 Suku Ulu di Sumatera utara: mandailing natal
W
 Suku Wolio di Sulawesi Tenggara: Buton

Baca Juga :  √ Fungsi Kebijakan moneter

Konsep Suku Bangsa

  • Konsep Suatu Ras Dan Ciri Masing-Masing Ras

Ras adalah sekelompok orang yang tinggal terisolasi di suatu daerah yang menampilkan suatu bentuk ciri tubuh tertentu. Bentuk ciri khas ini menjadi kuat karena perkawinan yang cenderung dalam kelompok sendiri atau terisolasi. Ras merupakan kumpulan manusia yang memiliki sejumlah ciri khas yang tampak dalam presentase besar. Ciri khas yang dijadikan tolak ukur pembedaan suatu ras sebagian besar berdasarkan ciri-ciri fenotif yang terdiri dari ciri kualitatif (misalnya warna kulit, bentuk hidung, dan bulu atau rambut, serta mata) dan ciri kuantitatif (misalnya berat badan dan indeks cephalicus) yang dapat dihitung menggunakan metode antropometri. Untuk beberapa hal, dibawah ini terdapat beberapa contoh yang membahas bentuk hidung, mata dan bulu di tubuh.

  • Hidung

Orang beranggapan bahwa setiap ras memiliki bentuk hidung yang berbeda-beda. Misalnya ras negroid cenderung memiliki bentuk hidung yang besar dan lubang hidung yang lebar dan ras kaukasoid yang memiliki hidung kecil dengan lubang hidung sempit. Terdapat beberapa bukti bahwa bentuk hidung berhubungan dengan kondisi alam sekitar ras tersebut. Misalnya bentuk hidung pada ras kaukasoid yang hidup pada kondisi alam dengan suhu dingin dan lembab justru membantu dalam proses menyeimbangkan suhu udara yang masuk dengan suhu normal tubuh.

  • Mata

Mata sebagai focus penelitian antropologi ragawi dipandang sebagai ciri penanda atas kelompok ras. Lipatan sudut mata yang menutupi mata dibeberapa kelompok telah lama menjadi bahan penelitian yang menarik bagi antropologi. Misalnya ras negroid yang memiliki kelopak matalurus.

  • Rambut Badan

Rambut diketahui terdapat di tubuh berbagai makhluk kera. Rambut di manusia hanya diketahui berada di bagian kepala. Kehadiran rambut ini dapat ditafsirkan berfungsi untuk melindungi kulit kepala manusia. Ada penandaan yang melihatnya sebagai kejur dan keriting, serta tebal dan tipis. Pembagian dan ketebalan rambut biasanya dihubungkan sebagai suatu bentuk penyesuaian terhadap panas. Rambut keriting di kepala dianggap memberi suatu pengamanan yang mengucilkan udara panas melalui gelombang atau rambut dan kulit di kepala, tetapi kemudian ada anggapan bahwa tidak ada hubungan langsung antara rambut dan iklim.

Baca Juga :  √ Manajemen Persediaan : Pengertian, Tujuan, Jenis dan Contohnya

Ketika ras muncul maka dimulailah upaya untuk mengategorisasikannya, dan beberapa ahli menyarankan dasar dari klasifikasinya menggunakan pengklasifikasian oleh Carolus Linnaeus (1725) yang mengajukan warna kulit sebagai acuannya. Hal ini dapat dimengerti karena hal pertama yang terlihat berbeda adalah warna kulit yang mudah diinderai. namun J.F Blumenbach (1755) kemudian mengombinasikan ciri-ciri morfologi ditambah dengan geografi tempat satu ras tersebut tinggal.

Pengklasifikasian kemudian ditambahkan oleh J. Deniker (1889) yang menggunakan warna rambut sebagai ciri-ciri penting. Sedangkan metode pengklasifikasian berdasarkan filogenetik yaitu pengklasifikasian berdasarkan persamaan dan perbedaan ras serta hubungan asal-usul ras baru muncul pada 1990-an. Metode pengklasifikasian berdasarkan unsur-unsur filogenetik yang paling terkenal adalah metode E.von Eickted dan meyode E.a. Hooton.
Berikut ini sebuah klasifikasi yang dibuat oleh A.L.Kroeber, yang dengan jelas menggambarkan garis besar penggolongan ras-ras yang terpenting di dunia dan hubungannya satu sama lain.

1. Kaukasoid (Eropa)
a) Nordic (Eropa Utara sekitar laut Baltik)
b) Alpine (Eropa Tengah dan Timur)
c) Mediterranean (penduduk sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab dan Iran)
d) Indic (Pakistan, India Bangladesh dan Sri Lanka)
2. Mongoloid (Asia)
a) Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Tengah dan Timur)
b) Malayan Mongoloid (Asia Tenggara, Kep.Indonesia, Malaysia, Filipina dan pendudukl Taiwan)
c) American Mongoloid(penduduk asli Amerika Utara san Selatan yaitu orang eskimo hingga penduduk Terra del Fuego)
3. Negroid (Afrika)
a) African Negroid (benua Afrika)
b) Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Melayu, Filipina)
c) Melanesian (Irian,Melenesia)
4. Australoid (penduduk asli Australia)
5. Ras-ras khusus
a) Bushman (penduduk daerah Gurun Kalahari, Afrika Selatan)
b) Veddoid (penduduk pedalaman Sri Lanka dan Sulawesi Selatan)
c) Polynesian (penduudk kepulauan Mikronesia dan Polynesia)
d) Ainu (penduduk Pulau Karafoto dan Hokkaido, Jepang)

Sejarah Geografi

Balikpapan merupakan sebuah kota yang ada di Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini mempunyai perekonomian paling besar di Kalimantan, total PDRB mencapai Rp79,65 triliun pada 2016. Dari sisi kependudukan, Balikpapan merupakan kota paling besar kedua di Kalimantan Timur dengan total penduduknya mencapai 778.908 jiwa yang dari 21.6 % keseluruhan penduduk Kaltim. Balikpapan juga kota dengan biaya hidup paling mahal se-Indonesia. Logo kota sering disebut Kota Minyak dan Bumi Manuntung ini merupakan beruang madu, maskot Balikpapan yang sudah mulai di ambang kepunahan. Nama asli dari Balikpapan ialah Billipapan atau Balikkappan.

√ Sejarah Geografi Dan Suku Bangsa

Beberapa hikayat populer menceritakan asal usul dari kota yang berada di pesisir timur Kalimantan berikut ini:

  • Sebanyak 10 keping papan kembali ke Jenebora dari jumlah 1.000 keping diminta oleh Sultan Kutai sebagai sumbangan bahan pembangunan Istana Baru Kutai Lama. Kesepuluh papan yang kembali disebut orang Kutai Balikpapan Tu. Sehingga daerah sepanjang Teluk Balikpapan, tepatnya terletak di Jenebora disebut Balikpapan.
  • Suku Pasir Balik merupakan keturunan dari kakek dan nenek yang bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga wilayah sepanjang Teluk Balikpapan oleh keturunannya disebut dengan Kuleng-Papan yang artinya Balikpapan.
  • Legenda lain juga menyebutkan asal usul dari Balikpapan, yaitu seorang putri yang dilepas oleh ayahnya yaitu seorang raja yang tak mau putrinya jatuh ke tangan musuh. Sang putri yang masih balita itu diikat di atas pada beberapa keping papan dalam keadaan terbaring. Karena terbawa oelh arus dan diterpa gelombang air, papannya kemudian terbalik. Dan ketika papannya terdampar di tepi pantai dan ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu papannya dibalik ternyata terlihat seorang putri dalam keadaan terikat. Konon putri itu bernama Putri Petung dari Kerajaan Pasir. Sehingga wilayah ditemukannya dinamakan Balikpapan.
  • Hari jadi kota Balikpapan ialah pada tanggal 10 Februari 1897. Penetapan tanggal tersebut adalah hasil Seminar Sejarah Balikpapan pada 1 Desember 1984. Pada 10 Februari 1897 adalah tanggal dimana pengeboran minyak pertama kali di Balikpapan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan Mathilda sebagai bentuk realisasi pasal-pasal kerja sama antara J.H. Menten dengan Mr. Adams dari perusahaan Firma Samuel dan Co.

Baca Juga :  √Apa itu Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Struktur, Fungsi

Definisi Geografi

Kota Balikpapan mempunyai daerah yang 85% berbukit-bukit dan 12% berupa wilayah datar sempit  seperti di Daerah Aliran Sungai, sungai kecil dan pesisir pantai. Kondisi tanah bersifat asam atau gambut dan dominan tanah merah yang notabene kurang subur. Seperti layaknya wilayah lain Indonesia, kota Balikpapan ini memiliki iklim tropis. Kota ini terletak di pesisir timur Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Selat Makassar, mempunyai teluk yang bisa dimanfaatkan sebagai pelabuhan minyak dan pelabuhan laut komersial.

Suku Bangsa Di Kota Balikpapan

Suku asli masyarakat kota Balikpapan ialah Suku Balik yaitu merupakan suku minoritas. Suku Balik biasanya digabung dalam Suku Paser karena dianggap serumpun yang kemudian disebut Paser-Balik, padahal Suku Balik tidak ingin disamakan dengan Suku Paser, karena termempunyai beberapa perbedaan. Seperti halnya yang terjadi di daerah Kalimantan lain, Suku Banjar yang masuk ke Balikpapan menyerap unsur-unsur dari suku lokal melalui perkawinan campur antar suku yaitu seperti Suku Paser dan Suku Balik yang kemudian memunculkan komunitas bernama Banjar-Balik.

Secara garis besar total ada sebanyak lima budaya dasar sukubangsa yang berasal dari Kalimantan yang biasa disebut dengan Rumpun Kalimantan, empat di antaranya berada di Kalimantan Timur, khususnya daerah Balikpapan seperti: Banjar, Kutai, Dayak, Paser yang disingkat menjadi Komunitas BAKUDAPA dan bila ditambah etnis Tidung maka menjadi BAKUDAPATI yaitu akronim Banjar, Kutai, Dayak, Paser dan Tidung. Bila dihitung mencapai jumah sebanyak 31,39% populasi pada tahun 2000. Dan di antara keempat suku yang berasal dari Kalimantan ini, Suku Banjar adalah yang paling banyak di hitung sejak masa kolonial. Tapi selain keempat suku tersebut, banyak juga suku-suku yang berasal dari pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan pulau-pulau lainnya sehingga awal pertumbuhan kota Balikpapan setidaknya terbentuk dari tiga kantong permukiman Jawa , Bugis, dan Banjar.


Macam Suku Bangsa Di Indonesia

  • Suku Sasak

Suku Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari Majapahit. Dalam kitab tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq Mirah Sak-Sak Adhi.” Jika saat kitab tersebut dikarang suku Sasak telah mempunyai sistem budaya yang mapan.

Nenek moyang Suku Sasak berasal dari campuran penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa Tengah yang terkenal dengan julukan Mataram, pada jaman Raja yang bernama Rakai Pikatan dan permaisurinya Pramudhawardani. Kata sasak itu sendiri berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan.
Dalam masyarakat Sasak, kelompok kekeraatan terkecil adalah keluarga inti (nuclear family) yang disebut kuren. Keluarga inti umumnya keluarga monogami, meskipun adat membenarkan keluarga inti poligami. Adat menetao sesudah nikah adalah virilokal, meskipun ada yang uxorilokal dan neolokal. Garis keturunan suku Sasak ditarik menuruk sistem patrilineal.

Adat istiadat suku sasak dapat anda saksikan pada saat resepsi perkawinan, dimana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan merarik atau selarian. Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anaknya akan dinikahkan oleh seseorang, ini yang disebut dengan mesejati atau semacam pemberitahuan kepada keluarga perempuan. Setalah selesai makan akan diadakan yang disebut dengan nyelabar atau kesepakatan mengenai biaya resepsi.


  • Suku Bima

Suku Bima tinggal di daerah dataran rendah, wilayah kabupaten Bima, Donggo dan Sangiang, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Suku Bima telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Lingkungan alam suku Bima berbeda-beda karena di daerah utara Lombok tanahnya sangat subur sedangkan sebelah selatan tanahnya gundul dan tidak subur.Kebanyakan dari mereka bermukim sekitar 5 km atau lebih dari pesisirpantai. Mereka juga disebut suku “Oma” (artinya “berpindah-pindah”)karena sering hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yanglain. Suku Bima memiliki hubungan dengan suku Sasak yang tinggalberdekatan di Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Suku ini menggunakan Bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Menurut sejarahnya, suku Bima mempunyai 7 pemimpin di setiap daerah yang disebut Ncuhi. Pada masa pemberontakan di Majapahit, salah satu dari Pandawa Lima, Bima, melarikan diri ke Bima melalui jalur selatan agar tidak ketahuan oleh para pemberontak dan langsung diangkat oleh para Ncuhi sebagai Raja Bima pertama. Namun Sang Bima langsung mengangkat anaknya sebagai raja dan beliau kembali lagi ke Jawa dan menyuruh 2 anaknya untuk memerintah di Kerajaan Bima. Oleh karena itu, sebagian bahasa Jawa Kuna kadang-kadang masih digunakan sebagai bahasa halus di Bima.


  • Suku Sumbawa

Suku Sumbawa adalah suku bangsa yang mendiami pulau Sumbawa dan menggunakan bahasa Sumawa. Suku yg berpopulasi 1,3 juta ini sebagian besar beragama Islam, uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sumbawa, terdapat praktik agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu, namun hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktek ibadah seperti itu.

Populasi Suku Sumbawa yang terus berkembang saat ini merupakan campuran antara keturunan etnik-etnik pendatang atau imigran dari pulau-pulau lain yang telah lama menetap dan mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya serta sanggup berakulturasi dengan para pendatang lain yang masih membawa identitas budaya nenek moyang mereka, baik yang datang sebelum maupun pasca meletusnya Gunung Tambora tahun 1815.

Para pendatang ini terdiri atas etnik Jawa, Madura, Bali, Sasak, Bima, Sulawesi (Bugis,Makassar, Mandar), Sumatera (Padang dan Palembang), Kalimantan (Banjarmasin),dan Cina (Tolkin dan Tartar), serta Arab yang rata-rata mendiami dataran rendah dan pesisir pantai pulau ini, sedangkan sebagian penduduk yang mengklaim diri sebagai pribumi atau tau Samawa asli menempati wilayah pegunungan seperti Tepal, Dodo, dan Labangkar akibat daerah-daerah pesisir dan dataran rendah yang dulunya menjadidaerah pemukiman mereka tidak dapat ditempati lagi pasca bencana alam Tamborayang menewaskan hampir dua pertiga penduduk Sumbawa kala itu.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai Sejarah Geografi Dan Suku Bangsa : Pengertian, Perkembangan, Dafar, Konsep, Definisi, Macam, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.