Danau

Diposting pada
Danau

Pengertian Danau

Danau merupakan cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi air, baik air asin maupun air tawar, semua cekungan itu dikelilingi oleh daratan. Danau biasanya sering dijumpai di daerah pegunungan adallah air tawar. Danau biasa dijadikan tempat untuk berwisata karena panorama yang tersaji biasanya cukup indah.

Ada sejumlah danau di negara-negara di dunia. Danau terbesar di dunia ialah Laut Kaspia yang luasnya hampir sama dengan 6 kali luas danau besar. Di Indonesia pun ada sejumlah danau, yakni terdiri dari sekitar 840 danau-danau besar dan 735 danau-danau kecil. Danau terbesar di Indonesia ialah danau toba yang ada di Provinsi Sumatera Utara.


Jenis-jenis Danau


  • Danau Tektonik

Danau Tektonik adalah danau yang terbentuk dari proses tektonik, yakni berupa proses lipatan, patahan, serta gerakan kulit bumi sehingga sebagian tanah di permukaan bumi mengalami penurunan. Contoh dari danau tektonik ialah Danau Toba di Sumatera Utara.


  • Danau Vulkanik

Danau Vulkanik adalah danau yang terbentuk dari letusan gunung berapi. Letusan tersebut bisa mengubah bentuk gunung dari berbentuk kerucut menjadi berentuk cekungan. Contoh dari danau vulkanik ialah Danau Maninjau di Sumatera, Danau Matana di Sulawesi, serta Danau Karimutu di Flores.


  • Danau Karst

Danau Karst adalah danau yang terbentuk akibat pelarutan bahan kapur oleh air sampai terbentuklah cekungan. Contohnya dari danau karst ialah lokva Bendogede di Kecamatan Ponjong di daerah Gunung Kidul.


  • Danau Erosi

Danau erosi adalah danau yang terbentuk karena peristiwa erosi atau pun pendalaman dasar lembar oleh gletser (gumpalan es) dengan massa es yang besar. Contoh dari danau erosi ialah The Great Lake di Amerika Utara serta Danau Finger di New York.


  • Danau Tapal Kuda

Danau Tapal Kuda adalah danau yang terbentuk berasal dari aliran sungai yang berkelok yang melintasi daratan lalu mengambil jalan pintas sampai meninggalkan potongan-potongan. Kelokan yang ditinggalkan dan terpotong itu akhirnya menghasilkan sebuah danau. Contoh dari danau tapal kuda ialah Danau di daerah hilir Sungai Mahakam, Kalimantan.


  • Danau Bendungan Alami

Danau bendungan alami adalah danau yang terbentuk akibat longsoran tebing yang menutupi aliran sebuah sungai. Contoh dari danau bendungan alami ialah Danau Pengilon di Dieng serta Telaga Sarangan terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain danau-danau alami, ada juga danau buatan. Danau buatan adalah danau yang terbentuk lewat rekayasa manusia. Danau buatan biasanya disebut dengan istilah waduk. Contoh dari danau buatan atau waduk ini ialah Waduk Jatiluhur yang ada di Jawa Barat.


Fungsi Danau


  • Sebagai Sumber Persediaan Air Bersih

Persediaan di danau sering tak habisnya walaupun dilanda kemarau. Keadaan tersebut disebabkan daya tampung air yang cukup besar oleh danau. Biasanya danau adalah air tawar sehingga sering dipakai oleh manusia untuk kebutuhan air bersih sehari-hari.


  • Untuk Sarana Irigasi

Jika di pemukiman di sekitar danau banyak lahan pertanian ataupun perkebunan, danau bisa dimantfaatkan oleh penduduk sebagai sarana irigasi guna memenuhi kebutuhan dari lahan-lahan tersebut. Terutama ketika musim kemarau datang, danau sangat terjangkau untuk dipakai sebagai sumber air untuk kelangsungan pemberdayaan lahan-lahan di sekitarnya.


  • Sebagai Kendali Terhadap Bencana Alam

Indonesia sering mengalami perubahan cuaca sampai sering terjadi hujan maupun kemarau. Ketika musim kemarau, danau bisa menjadi sumber air untuk makhluk hidup di sekitarnya. Ketika musim hujan, danau juga bisa membantu mengendalikan bencana banjir dengan cara menampung kelebihan air hujan dengan daya tampungnya yang besar.


  • Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Lebih kurang 20% listrik dunia memakai pembangkit tenaga air. Pembangkit listrik tenaga air mempunyai respon yang sangat cepat. Energi air diubah menjadi energi mekanik serta diubah lagi menjadi energi listrik. Caranya ialah dengan menghubungkan generator ke turbin serta digerakkan oleh tenaga aliran air. Energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air biasanya disebut dengan hidroelektrik.


  • Menjadi Habitat Flora dan Fauna

Danau mengandung sejumlah nutrisi sehingga menjadikannya sebagai habitat yang baik untuk banyak jenis flora dan fauna. Fakta itu menunjukkan bahwa danau adalah salah satu sumber kekayaan hayati yang ada di bumi.


  • Sarana Budidaya Perikanan Darat

Penduduk di sekitar danau dapat memanfaatkan danau sebagai sarana budidaya perikanan darat. Salah satu caranya ialah dengan sistem jala terapung. Sejumlah daerah di Indonesia sudah memakai sistem tersebut.


  • Sarana Penelitian dan Pendidikan

Danau dapat dijadikan sebagai sarana penelitian dan pendidikan. Banyak peneliti yang sudah melakukan penelitiannya mengenai berbagai hal tentang danau,hewan serta tumbuhan yang terkandung di dalam danau.

Baca Juga :  Perubahan Amandemen

  • Sebagai Objek Wisata

Danau mempunyai daya tarik visual yang sangat indah sehingga bisa mengikat wisatawan untuk datang mengunjungi. Wisatawan bisa melakukan berbagai hal disana contohnya berekreasi dan berolahraga. Kunjungan wisatawan itu sekaligus bisa meningkatkan perekonomian penduduk di sekitar danau.


Proses Terbentuknya Danau

Danau adalah sebuah cekungan besar yang digenangi air, baik berupa air tawar ataupun air asin cekungan itu dikelilingi daratan.

Danau terbentuk disebabkan beberapa peristiwa yaitu sebagai berikut :

  • Penurunan muka bumi disebabkan pergeseran lempeng atau patahan.
  • Aktivitas gunung berapi.
  • Pembentukan lembah sungai disebabkan aliran lava ketika erupsi.
  • Pelarutan tanah kapur.
  • Mencairnya es di daerah yang awalnya adalah daerah yang berupa es

Sifat-sifat Fisik dan Kimia pada Danau

Sifat fisik pada danau meliputi morfometri danau, anggaran air danau, sedimentasi, dan cahaya. Berikut adalah penjelasannya:


  1. Morfometri Danau

Morfometri danau mengacu pada bentuk, ukuran, struktur yang menentukan cekungan danau. Perbandingan permukaan dan volume menunjuk pada apa yang disebut sebagai rasio permukaan dengan volume (S/V). Secara umum, danau yang memiliki area permukaan yang lebih kecil dan memiliki kedalaman yang tinggi (S/V rendah) memiliki kualitas air yang lebih baik daripada danau yang area permukaannya lebih luas dan dangkal (S/V besar).

Pada danau terdapat daerah litoral yakni bagian dari cekungan danau dimana terdapat penetrasi cahaya dalam jumlah yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan alga. Kedalaman dan luas daerah litoral tersebut adalah bagian yang penting dalam morfometri danau. Parameter morfometrik diperlukan untuk mengevaluasi erosi, tingkat beban nutrien, senyawa kimia, kandungan panas, stabilitas panas, produktivitas biologi, dan efektivitas pertumbuhan struktur serta fungsi dari komponen ekosistem. Teknik pengelolaan danau seperti beban masukan, kerusakan komunitas, juga tergantung pada morfometri dan karakteristik arus.


  1. Anggaran Air Danau

Air yang berada di danau merupakan keseimbangan antara karakteristik hidrologi dalam penyimpanan air yang diatur melalui masukan dari berbagai sumber dikurangi dengan hilangnya air. Informasi tersebut merupakan anggaran air danau. Masukan air berasal dari aliran permukaan dan  sumber air bawah tanah. Air danau berkurang atau hilang melalui anak sungai, rembesan air bawah tanah, dan evapotranspirasi. Masuk dan keluarnya air bervariasi secara musiman dan juga melalui karakteristik cekungan danau, air bawah tanah, cekungan aliran air (drainase), dan iklim.


  1. TSS (Total Suspended Solid) dan TDS (Total Dissolved Solid)

Zat padat tersuspensi (TSS) merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air.

Total Suspended Solid adalah semua zat padat (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel- partikel anorganik. Total Dissolved Solid merupakan jumlah kandungan zat padat terlarut dalam air juga mempengaruhi penetrasi cahaya matahari masuk ke dalam badan perairan. Jika nilai TDS tinggi maka penetrasi cahaya matahari akan berkurang, akibatnya proses fotosintesis juga akan berkurang yang akhirnya mengurangi tingkat produktivitas perairan.


  1. Cahaya

Cahaya memegang peranan penting dalam ekologi danau dan menentukan potensi fotosintesis, yaitu yang mensuplai oksigen terlarut dan makanan dalam air. Radiasi sinar matahari adalah sumber terbesar panas dan menentukan pola angin pada cekungan danau dan gerakan air. Pemanfaatan energi cahaya yang diterima di dalam danau menentukan produktivitas danau. Intensitas cahaya bervariasi terhadap musim dan kedalaman. Semakin dalam penetrasi cahaya dan semakin banyak cahaya yang masuk ke dalam danau maka produktivitasnya semakin tinggi. Organisme yang berfotosintesis meliputi fitoplankton (alga), perifiton, dan makrofita.

Tingkat penetrasi cahaya juga dipengaruhi oleh partikel-partikel dalam air, dengan kata lain kedalaman penetrasi cahaya ditentukan pada turbiditas (kekeruhan) air. Pada danau yang jernih, penetrasi cahaya meluas ke bagian bawah sampai kedalaman 20 meter atau lebih. Sebaliknya pada danau yang keruh, cahaya hanya dapat menembus pada zona euphotik yaitu kedalaman 3-5 meter. Ketika cahaya menembus ke dalam air, intensitas cahaya berkurang secara eksponensial, karena diabsorbsi oleh air.


  1. Suhu

Secara umum kedalaman danau terstratifikasi ke dalam 3 lapisan berdasarkan adanya penetrasi cahaya yang menyebabkan perbedaan suhu, yaitu lapisan epilimnion, metalimnion, dan hipolimnion. Epilimnion adalah lapisan paling atas dan hangat yang bercampur dengan baik. Di bawah epilimnion adalah metalimnion atau daerah termoklin, yaitu suatu lapisan air yang suhunya mengalami penurunan dengan sangat cepat. Hipolimnion adalah lapisan paling bawah yang sifatnya dingin. Perubahan dalam kerapatan pada metalimnion bertindak sebagai pencegah bercampurnya epilimnion dan hipolimnion. Termoklin digunakan sebagai istilah untuk menggantikan metalimnion.


  1. Warna Perairan

Warna sesungguhnya dari perairan adalah warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan terlarut, sedangkan warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh bahan terlarut, tetapi juga oleh bahan tersuspensi. Warna perairan timbul disebabkan oleh bahan organik dan anorganik, keberadaaan plankton, humus, dan ion-ion logam seperti besi dan mangan. Oksidasi besi dan mangan mengakibatkan perairan bewarna kemerahan dan kecoklatan atau kehitaman, sedangkan oksidasi kalsium karbonat menimbulkan warna kehijauan. Bahan-bahan organik seperti tanin, lignin dan asam humus dapat menimbulkan warna kecoklatan di perairan.

Baca Juga :  Jaringan Parenkim Pada Tumbuhan

Perairan yang berwarna dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air, sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Untuk kepentingan estetika dan pariwisata, warna air sebaiknya tidak melebihi 15 unit PtCo, sedangkan untuk kepentingan air minum warna air yang dianjurkan adalah 5–50 unit PtCo. Ciri-ciri penting perairan danau salah satunya ialah  warna air. Warna air danau bermacam-macam tergantung pada jenis dan kuantitas bahan terlarut dan tersuspensi, kualitas cahaya, dan faktor-faktor lain.


Anggaran Air di Danau

Parameter dasar anggaran air digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu pengisian air dan pengeluaran air. Perhitungan ini akan menyediakan informasi tentang ketersediaan air di dalam danau pada setiap waktu. Anggaran air di danau dihitung sebagai berikut:

anggaran air danau

Anggaran air ditentukan oleh kondisi hujan di area danau dan letak aliran sungai. Di daerah yang basah turunnya hujan lebih tinggi dibanding penguapan, sebaliknya di daerah kering penguapan lebih tinggi disbanding turunnya hujan. Anggaran air danau dapat dihitung dengan penggunaan teknik konvensional. Dengan metode konvensional menghitung anggaran danau dengan parameter seperti inflow permukaan, air hujan, penguapan danau, outflow permukaan, dan perubahan inflow dan outflow di bawah permukaan tanah (Sowono, 2010).


Perbedaan Macam-Macam Danau

Danau dapat digolongkan berdasarkan produktivitasnya. Produktivitas merupakan laju produksi yang dihasilkan oleh kelompok orgamisme, yang dinyatakan sebagai laju pertumbuhan bersih organisme. Perbedaan danau menurut produktivitasnya yaitu meliputi sebagai berikut:


  1. Danau Oligotrofik

Danau yang mengandung sedikit nutrien (miskin akan nutrien), biasanya dalam dan produktivitas primernya rendah. Sedimen pada  bagian dasar kebanyakan mengandung senyawa anorganik dan konsentrasi oksigen pada bagian hipolimnion lebih tinggi daripada epilimnion. Pada danau ini tanaman di dearah litoral jarang dan kerapatan plankton rendah, plankton “bloom” jarang karena makanan jarang tertimbun secara cukup untuk mendukung pertambahan populasi yang besar dari fitoplankton. Walaupun jumlah organisme pada danau ini rendah tetapi keanekaragaman spesies tinggi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa danau oligotrofik “masih muda” secara geologi dan hanya sedikit berubah sejak terbentuknya.


  1. Danau Mesotrofik

Merupakan danau transisi dari oligotrofik ke kondisi eutrofik. Konsentrasi oksigen menurun pada hipolimnion selama musim panas.


  1. Danau Eutrofik

Danau eutrofik merupakan danau yang mempunyai konsentrasi nutrient yang tinggi, produktivitas biomassa juga tinggi, dan transpariansinya rendah. Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen kadarnya rendah.


  1. Danau Hipertrofik

Danau ini merupakan danau yang telah mengalami eutrofikasi. Konsentrasi nutrient tinggi, produksi biomassa tinggi, dan transparensinya sangat rendah. Di hipolimnion sering terjadi kekurangan oksigen atau anoxia.


  1. Danau Distrofik

Merupakan danau yang sangat kaya bahan organik terutama berasal dari masukan eksternal danau.

Danau juga dapat dikategorikan menurut derajat dan pola frekuensinya. Kecepatan angin yang terbuka pada sebuah danau dan aliran air dalam danau adalah faktor terbesar yang menentukan tipe sirkulasi. Berikut adalah perbedaan danau menurut derajat dan frekuensi pola sirkulasinya:

  1. Danau Amiktik: danau yang airnya tidak pernah bercampur, membeku secara permanen
  2. Danau Meromiktik: lapisan paling dalam tidak pernah bercampur karena kerapatan air yang tinggi disebabkan oleh substansi terlarut atau karena dilindungi dari efek angin
  3. Danau Holomiktik: danau yang sepenuhnya bercampur
  4. Danau Oligomiktik: tidak bercampur setiap tahun, pencampuran tergantung pada kondisi iklim
  5. Danau Monomiktik: mencampur hanya sekali dalam setahun
  6. Danau Dimiktik: mencampur dua kali dalam setahun
  7. Danau Polimiktik: sering mencampur, biasanya pada danau tropik dengan angin besar

(Suwono, 2010).

Menurut Odum (1993), danau juga dapat dibedakan menjadi tipe danau khusus yaitu sebagai berikut:

  1. Danau dystrophic: airnya coklat, danau humus dan pasir terapung. Biasanya mengandung “humic acid” yang tinggi, danau pasir terapung mempunyai tepi yang terdiri dari gambut (pH biasanya rendah) dan berkembang menjadi pasir terapung gambut.
  2. Danau tua yang dalam dan terdapat biota yang endemik. Danau yang paling terkenal di Rusia adalah Danau Baikal, danau tersebut merupakan danau terdalam di dunia dan terbentuk karena pergerakan bumi pada zaman mesozaik (zaman reptil). 98% dari 384 jenis arthropoda merupakan binatang endemik, termasuk 291 amfipoda. 81% dari 36 jenis ikan merupakan endemik. Danau ini disebut juga juga “air tawar Australia”, hal ini karena binatang endemiknya. Belakangan diketahui bahwa danau ini terkena cemaran limbah.
  3. Danau asin di gunung pasir, terjadi pada pengairan sedimenter di daerah pada iklim kering dimana evaporasi lebih besar dari presipitasi, sehingga menghasilkan konsentrasi garam yang tinggi. Misalnya: Great Salt Lake, Utah. Terdapa beberapa jenis biota yang tahan terhadap salinitas yang tinggi.
  4. Danau alkali digunung pasir. Terjadi pada pengairan “igneous” di daerah dengan iklim kering, pH dan konsentrasi karbonat tinggi. Contoh: Pyramid Lake, Nevada.
  5. Danau yang asam atau basa berhubungan dengan daerah vulkanik yang masih aktif. Kondisi kimia sangat ekstrim, dengan biota yang amat berbatas. Contoh: beberapa danau di Jepang dan Filipina.
  6. Danau dengan strtifikasi kimia; meroctic (tercampur sebagian), sangat berbeda dengan kebanyakan danau, dimana air permukaan dan dasar tercampur secara berkala, beberapa danau terjadi terstratifikasi secara permanen karena adanya rembesan air asin dan pelepasan garam dari endapan. Hal ini menghasilkan perbedaan kerapatan yang tetap antara air permukaan dan air didalam danau. Batas antara lapisan yang tersirkulasi dan tidak tersirkulasi disebut kemoklin. Oksigen bebas dan organisme aerobik tidak ditemukan dalam dasar danau tersebut. Contoh: Big soda Lake di Nevada dan Hemmelsdorfersee di Jerman.
  7. Danau kutub, suhu permukaan tetap dibawah 4°C, atau naik untuk periode yang sangat pendek pada musim panas yang melelehkan es, sehingga sirkulasi dapat terjadi. Populasi plankton tumbuh dengan cepat selama periode ini, dan menyimpan lemak untuk musim dingin yang panjang.
Baca Juga :  Sistem Peredaran Darah Pada hewan

Zonasi Pada Danau

Salah satu zonasi danau adalah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga mengalami perubahan temperature yang drastis atau termoklin.

Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Penyebaran komunitas organisme di danau dipengaruhi oleh cahaya matahari, nutrient, suhu, kondisi lingkungan perairan, dan kondisi lingkungan di sekitar perairan, termasuk aktivitas antropomorfisme. Danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut :


  1. Daerah litoral

Daerah ini termasuk pada daerah yang dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal sampai ke dasar. Tumbuhan yang berada di daerah litoral merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air. Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (diatom), berbagai siput dan remis, serangga, crustacean, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti ular dan kura-kura, itik, angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.


  1. Daerah Limnetik

Daerah limnetic (pelagik) adalah kawasan perairan terbuka yang dapat ditembus cahaya. Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang, ganggang biru, dan bakteri. Ikan merupakan hewan yang paling banyak di danau dan memakan hewan invertebrata. Ada beberapa ikan yang makan ikan lainnya dan sedikit yang herbivor. Ikan memakan plankton, tumbuhan, dan invertebrata, dan selanjutnya ikan dimakan oleh karnivor seperti burung-burung, berang-berang, dan manusia. Proses ini berkaitan dengan pemerolehan energi.

Zona pelagik merupakan tempat utama bagi plankton dan nekton. Plankton terdiri atas fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton terdiri dari ganggang seperti Chlorella dan Volvox. Zooplankton adalah pemakan ganggang, tetapi ada juga yang karnivor, komunitas neuston ditempati oleh ikan-ikan.


  1. Daerah Profundal

Daerah afotik danau merupakan daerah yang yang dalam. Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi seluler setelah mendekom-posisi detritus yang jatuh dari daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.


  1. Daerah Bentik

Daerah ini merupakan tempat organisme mati dan bentos (flora dan fauna yang hidup di dasar danau pada substrat berupa lumpur dan pasir). Produsen utama bentik meliputi cyanobacteria dan ganggang eukaryotik. Penghuni terbesar zona ini kebanyakan cacing, larva lalat chironomid, dan moluska. Ada juga banyak binatang lebih kecil seperti cacing nematode dan ostracoda.


Kondisi Danau di Indonesia Saat Ini terkait Tingkat Kesuburan dan Pencemaran Danau

Kondisi yang terjadi pada danau saat ini sudah tidak sesuai peruntukannya karena telah terjadi percepatan penyuburan dan sedimentasi. Hal tersebut tidak terlepas dari aktivitas masyarakat seperti kegiatan perladangan berpindah yang telah berlangsung lama, misal pada daerah Gorontalo tepatnya Danau Limboto. Akibatnya terjadi kerusakan lingkungan yang ditandai adanya erosi, banjir pada musim hujan, dan kekeringan pada musim kemarau.

Dampak langsung yang terjadi pada perairan danau saat ini sudah terlihat seperti pendangkalan dan eutrofikasi sebagai akibat meningkatnya nutrien dan zat pencemar ke badan perairan danau. Cepatnya proses penyuburan dan sedimentasi pada danau mengakibatkan fungsí utama dari danau berkurang, seperti sebagai peredam banjir pada musim hujan dan penyedia air pada musim kemarau, serta sebagai habitat beberapa jenis ikan (Suryono dkk, 2010).

Eutrofikasi dan pencemaran merupakan permasalahan lingkungan yang berpengaruh terhadap perairan danau secara umum dimana akibat yang ditimbulkannya akan mempengaruhi kelangsungan hidup manusia. Eutrofikasi atau sering disebut pengkayaan unsur hara dalam perairan akan mengakibatkan perairan menjadi subur. Proses eutrofikasi sendiri merupakan proses alami yang akan terjadi pada setiap perairan tergenang namun dalam waktu yang cukup lama. Seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat seperti rumah tangga, industry, dan daerah pertanian (pupuk dan limbah ternak), maka akan memberikan masukan berupa unsur hara ke badan air danau dan jika proses pulih diri (self purification) terlampaui maka akan mempercepat proses eutrofikasi (Suryono dkk, 2010).

Menurut USEPA dalam HENDERSON-SELLER & MARKLAND (1987) secara umum suatu badan air yang telah mengalami proses eutrifikasi dapat ditandai adanya penurunan konsentrasi oksigen terlarut pada lapisan hipolimnion, kenaikan konsentrasi nutrien N dan P, kenaikan suspended solid (terutama material organik), penurunan penetrasi cahaya (kecerahan menurun), terjadi blooming alga, dan sedimen tinggi serta keragaman jenis alga rendah namun kelimpahan dan produktifitasnya tinggi (Suryono dkk, 2010).


Demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id tentang Danau : Pengertian, Jenis, Fungsi, Proses Terbentuknya, Sifat Fisik, Kimia, Anggaran Air, Perbedaan, Macam, Zonasi, Kondisi Danau Indonesia, semoga bermanfaat