√ Cerita Putri Pandan Berduri

Diposting pada

Cerita Putri Pandan Berduri

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan ada sekumpulan orang Sampan atau orang Suku Laut. Mereka dipimpin oleh seorang Pemimpin yang gagah perkasa Batin Lagoi namanya.Untuk masuk ke kawasan Batin Lagoi tersebut, harus lewat sebuah betung yang ditumbuhi semak belukar yang rimbun.

Pada suatu hari, Batin Lagoi melewati pantai. Tengah berjalan santai, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan. Dengan perasaan takut, dia menerobos semak pandan tersebut dengan hati-hati. Tak berapa lama, dia melihat seorang bayi perempuan tergeletak beralaskan daun di antara semak pandan itu. Anak siapa ini? Mengapa berada di sini? Orang tuanya ke mana?kata  Batin Lagoi bertanya dalam hati.

Sesudah menengok ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya. Karena dia tidak memiliki anak, timbullah keinginan untuk mengangkat bayi itu sebagai anak. Dengan hati-hati, diambilnya bayi itu serta dibawanya pulang. Bayi itu lalu dia beri nama Putri Pandan Berduri. Dia merawat Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih-sayang seperti merawat seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi juga memberikan pelajaran budi pekerti yang luhur.

Waktu terus berjalan Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik rupanya. Tutur bahasa serta sopan-santunnya mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan Putri Pandan Berduri mengundang perhatiaan kagum para pemuda di Pulau Bintan. Tapi, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi mau putrinya menjadi istri seorang anak raja.

Sedangkan di Pulau Galang, ada seorang Raja yang memiliki 2 orang anak laki-laki  Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Sejak mereka kecil, Raja itu mendidik kedua anaknya supaya saling membantu dan saling menghormati.

Baca Juga :  √ Perubahan Amandemen : Penegrtian, Sejarah, Tujuan Dan Hasil

Sesudah keduanya dewasa, Raja Mau Julela sebagai batin di Galang. Hal ini lalu membuat Julela menjadi sombong. Dia sudah tidak peduli dengan adiknya, sampai hubungan mereka menjadi tidak harmonis lagi. Mereka juga menjalani hidup masing-masing secara terpisah.

Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi Dia sering mencaci serta memusuhi adiknya tanpa sebab. Pada suatu hari, Julela berbicara pada adiknya, Hei, Jenang bodoh! Suatu saat aku menjadi batin di kampung ini, maka kamu harus mematuhi semua perintahku. Kalau tidak, kamu akan aku usir dari kampung ini.

Jenang Perkasa sangat sedih mendengar ucapan abangnya tersebut. DIa merasa tidak lagi dianggap sebagai saudara. Hal tersebut menyebabkan Jenang Perkasa merasa semakin terasing dari keluarga. Oleh karena itu, timbullah keinginannya untuk pergi dari Pulau Galang.

Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar tak bertujuan. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, sampailah dua di Pulau Bintan. Di sana, dia tidak mengaku sebagai anak seorang raja. Dia selalu bertutur kata lembut pada setiap orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu sudah menarik perhatian Batin Lagoi.

Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan acara makan bersama orang-orang Suku Sampan lainnya. Tak ketinggalan juga Jenang Perkasa diundang dalam perjamuan tersebut. Jenang Perkasa juga pergi memenuhi undangan itu. Saat jamuan makan akan dimulai, dia memilih tempat yang agak jauh dari kawan-kawannya, Supaya air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang dia makan. Tanpa disadarinya, ternyata sejak dia datang sepasang mata sudah memerhatikan perilakunya, yang tak lain ialah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sangat mengesankan hati Batin Lagoi.

Baca Juga :  √ Pengertian Adaptasi : Tujuan, Jenis Beserta Contohnya

Setelah perjamuan, Batin Lagoi datang menghampiri Jenang Perkasa. Wahai, Jenang Perkasa! Aku sangat terkesan serta kagum dengan keelokan budi pekertimu. Bersediakah kamu aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri? kata Batin Lagoi. Dengan kerendahan hati saya bersedia menikah dengan putri tuan, jawab Jenang Perkasa dengan sopan.

Ternyata, Batin Lagoi telah lupa dengan cita-citanya untuk menikahkan putrinya dengan anak raja. Walaupun sebenarnya Jenang Perkasa adalah anak seorang raja, tetapi Batin Lagoi tidak mengetahui mengenai hal tersebut. Dia sungguh-sungguh tertarik dengan perangai Jenang Perkasa yang baik tersebut.

Seminggu kemudian, Jenang Perkasa langsung dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka diadakan sangat meriah. Berbagai macam minuman dan makanan dihidangkan. Tari-tarian pun dipergelarkan menghibur para pengantin serta para undangan. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup dengan bahagia.

Tak berapa lama kemudian Batin Lagoi mengangkat Jenang Perkasa sebagai Batin di Bintan untuk meneruskan dirinya. Jenang Perkasa memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang ada di Bintan.

Kepemimpinan Jenang Perkasa yang bijaksana tersebut terdengar oleh masyarakat Galang. Sampai suatu hari, datanglah sekumpulan orang dari Galang ke Pulau Bintan. Wahai, Jenang Perkasa! Kami sudah tau tentang kepemimpinanmu di Pulau Bintan ini. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengajak kamu kembali ke Galang mengggantikan abang kamu yang sombong itu sebagai Batin, kata salah seorang dari mereka. Tapi, Jenang Perkasa menolaknya. Dia lebih memilih menjadi Batin di Pulau Batin Sekumpulan orang dari Galang tersebut pun kembali dengan tangan hampa.

Sementara Jenang Perkasa hidup bahagaia dengan Putri Pandan Berduri. Mereka memiliki tiga orang putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, serta yang bungsu Batin Kelong.

Baca Juga :  √ Konsep Pembagian Kekuasaan Di Indonesia: Secara Horisontal dan Vertikal

Jenang Perkasa mendidik ke-3 anaknya dengan baik, supaya mereka tidak menjadi orang yang sombong. Dia berharap kelak mereka akan menjadi pemimpin suku yang bertanggung jawab. Maka pada ke-3 anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, lalu dinamakan dengan adat Kesukuan.

Sesudah beranjak dewasa, ke-3 anaknya itu memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi bersaa sukunya ke barat, serta Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ke-3 suku itu lalu menjadi suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Kalau mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yakni pada adat Kesukuan.

Tidak lama kemudian Jenang Perkasa meninggal dunia, disusulPutri Pandan Berduri. Meskipun keduanya telah tiada, namun anak-cucu merekabanyak sekali, sampai adat Kesukuan terus berlanjut. sampai sekarang, JenangPerkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahirpersukuan di Teluk Bintan. Sampai sekarang Suku Laut atau Suku Sampan ini masihbanyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Cerita Putri Pandan Berduri, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :