√ Cerita Daerah Papua : Legenda Asal Usul Burung Cendrawasih

Diposting pada

Cerita Daerah Papua

Di daerah Fak-fak, tepatnya terletak di daerah pegunungan Bumberi, hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing betina tersebut mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan merupakan ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan juga bahagia di alam.

√ Cerita Daerah Papua : Legenda Asal Usul Burung Cendrawasih

Suatu hari, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu lama sudah mereka tempuh, tetapi mereka belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa capek karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada sebuah tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah.

Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan memberinya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina tersebut memakan suguhan segar itu. Anjing betina tersebut merasa segar dan kenyang.

Tetapi, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh diperutnya. Perut anjing tersebut mulai membesar dan semakin membesar . Perempuan tua itu mulai memeriksanya dan merasa yakin bahwa sahabatnya (anjing betina) tersebut bunting. Tak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan tersebut, si Perempuan tua bergegas memungut buah pandan untuk dimakannya, kemudian dia pun mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya.

Perempuan tua tersebut melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya kemudian memelihara anak mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki itu diberinya nama Kweiya.

Setelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, dia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam berbagai bahan makanan dan sayuran. Alat yang digunakan untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu), karenanya Kweiya hanya bisa menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang sudah rebah untuk membersihkan tempat itu sapai asap tebal mengepul ke langit. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka sudah menarik perhatian orang dengan adanya kepulan asap itu.

Konon ada seorang Pria Tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat sebuah tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Dia terdiam memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Rasa penasaran mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu muncul. Kemudian dia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, dia pun bergegas berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata banyak memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki akhirnya dia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.

Setibanya di tempat itu, ternyata yang ditemui ialah seorang pria tampan yang sedang membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan memakai sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, dia menghampiri kemudian memberi salam : weing weinggiha pohi (artinya, selamat siang), sambil memberikan kapak besi pada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba tersebut. Sejak saat itu pohon-pohon pun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang sedang beristirahat di pondoknya menjadi heran. Dia menanyakan hal tersebut kepada Kweiya, dengan alat apa dia menebang pohon itu sehingga bisa rebah dengan begitu cepat.

Kweiya nampaknya mau merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian dia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk bisa menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat lihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang sungguhan.

Karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya bergegas menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Sesudah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga bisa diterima sebagai teman hidupnya.

Dalam perjalanan menuju rumah, Kweiya memotong beberapa tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan bungkusan tebu tersebut di luar rumah. Di dalam rumah, Kweiya pura-pura merasa haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk dimakannya sebagai minum. Ibunya memenuhi permintaan anaknya kemudian keluar mau mengambil sebatang tebu. Tetapi saat ibunya membuka bungkusan tebu tadi, terkejutlah dia karena melihat seorang pria yang ada di dalam bungkusan itu. Serta merta ibunya menjerit ketakutan, namun Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Dia berharap supaya ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu sudah berbuat baik kepada mereka. Dia sudah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima usul anak nya, dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.

Setelah beberapa waktu, lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tersebut, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak tertua mereka. Sedangkan anak-anak yang lahir kemudian dianggap menjadi adik-adik kandung dari Kweiya. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, hubungan persaudaraan di antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri Kweiya merasa iri pada Kweiya.

Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya sepakat untuk mengeroyok Kweiya dan mengiris tubuhnya sampai luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya tersebut, Kweiya berdiam diri disalah satu sudut rumah sambil memintal tali dari kulit pohon Pogak Ngggein (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang, mereka bertanya dimana Kweiya berada, namun kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya. Kemudian adik bungsu mereka, yakni seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar certa itu Si ibu tua merasa iba pada anak kandungnya. Dia berusaha memanggil-manggil Kweiya supaya datang. Namun yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi Eek..ek,ek,ek,ek! sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya kemudian meloncat-loncat di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.

Ibunya yang melihat keadaan itu kemudian menangis tersedu- sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang sudah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang ada di sudut rumah. Ibu tua itu kemudian segera mencari koba-koba kemudian benang pintalannya itu disisipkan pada ketiaknya kemudian menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan suatu pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Ke-2nya berkelahi di atas pohon sambil berkicau dengan suara wong,wong,wong,wong,ko,ko,ko,wo-wik!!

Sejak saat itulah burung cendrawasih muncul di bumi. Ada perbedaan antara burung cendrawasih jantan dan betina, burung cendrawasih yang buluhnya panjang dinamakan siangga sedangkan burung cendrawasih betina dinamakan hanggam tombor yang artinya perempuan atau betina.

Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib  tersebut merasa menyesal kemudian saling menuduh siapa yang salah sampai ditinggalkan oleh ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sampai wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, kemudian mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka pergi ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak saat itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik dibandingkan dengan cendrawasih.

Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna bulu, tetapi mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir bulu yang indah itu justru mendatangkan malapetaka untuk mereka. Dia berpikir suatu saaat orang akan memburu mereka, termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa karena mereka tak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah bulu. Sekarang ayahnya kesepian dan sedih, Dia melipat kedua kaki kemudian menceburkan dirinya ke dalam laut dan  menjadi penguasa laut Katdundur.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Cerita Daerah Papua : Legenda Asal Usul Burung Cendrawasih, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :

Baca Juga :  √ Cerita Batu Batangkup Dari Riau
Baca Juga :  √ Asal Usul Telaga Warna
Baca Juga :  √ Asal Usul Salatiga
Baca Juga :  √ Asal Usul Kota Balikpapan