√ Dongeng Rakyat Jawa Tengah

Diposting pada

Dongeng Rakyat Jawa Tengah

  1. Cerita Dongeng Timun Mas

Alkisah, di suatu kampung di daerah Jawa Tengah, hiduplah seorang wanita paruh baya yang bernama Mbok Srini. Sejak ditinggal mati oleh suaminya beberapa tahun silam, dia hidup sebatang kara, karena tidak memiliki anak. Dia sangat mengharapkan kehadiran seorang anak untuk mengisi kesepian dihidupna. Tetapi, harapan itu telah pupus, karena suaminya suda meninggal dunia. Dia hanya menunggu keajaiban untuk bisa mendapatkan seorang anak. Dia sangat berharap keajaiban itu akan terjadi padanya. Untuk meraih harapan tersebut, siang malam dia selalu berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa supaya diberi anak.

√ Dongeng Rakyat Jawa Tengah

Pada suatu malam, harapan itu datang lewat mimpinya. Dalam mimpinya, dia didatangi oleh sesosok makhluk raksasa yang menyuruhnya pergi ke hutan tempat biasanya dia mencari kayu bakar untuk mengambil suatu bungkusan di bawah sebuah pohon besar. Saat terbangun di pagi hari, Mbok Srini hampir tak percaya dengan mimpinya semalam.

Mungkinkah keajaiban tersebut benar-benar akan terjadi padaku? Berkata dalam.

Tetapi, perempuan paruh baya tersebut berusaha menepis keraguan hatinya. Dengan penuh harapan, dia bergegas menuju ke tempat yang ditunjuk oleh raksasa itu. Sesampainya di hutan, dia segera mencari bungkusan tersebut di bawah pohon besar. Betapa terkejutnya dia saat menemukan bungkusan yang dikiranya berisi seorang bayi, namun ternyata hanyalah sebutir biji timun. Dalam Hatinya kembali bertanya-tanya.

Apa maksud raksasa tersebut memberiku sebutir biji timun? kata janda itu dengan bingung.

Di tengah kebingungannya, tanpa dia sadari mendadak sesosok makhluk raksasa berdiri di belakangnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Ha… ha… ha…! suara tawa raksasa itu.

Mbok Srini pun terkager kaget sambil membalikkan badannya. Betapa terkejutnya dia karena raksasa itulah yang hadir dalam mimpinya. Dia pun menjadi ketakutan.

Ampun, Tuan Raksasa! Jangan memakanku! Aku masih mau hidup, kata Mbok Srini dengan muka pucat.

Jangan takut, hai wanita tua! Aku tak akan memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak? tanya raksasa itu kepada mbok srini.

Be… benar, Tuan Raksasa! jawab kata Mbok Srini dengan gugup.

Kalau begitu, cepatlah tanam biji timun itu! Kelak kamu akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku ketika dia sudah dewasa. Anak itu akan kujadikan santapanku, kata raksasa itu.

Karena begitu besar keinginannya untuk mempunyai anak, tanpa sadar Mbok Srini menjawab,

Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak tersebut kepadamu.

Ketika Mbok Srini selesai menyatakan kesediaannya, raksasa tersebut pun menghilang. Wanita itu bergegas menanam biji timun itu di ladangnya. Dengan penuh harapan, setiap hari dia merawat tanaman itu dengan baik. 2 bulan kemudian, tanaman tersebut pun mulai berbuah. Tetapi anehnya, tanaman timun tersebut hanya berbuah satu. Semakin hari buah timun itu semakin besar melebihi buah timun pada umumnya. Warnanya pun sangat berbeda, yakni berwarna kuning keemasan. Saat buah timun masak, Mbok Srini memetiknya, kemudian membawanya pulang ke gubuknya dengan susah payah, karena berat. Betapa terkejutnya dia setelah membelah buah timun itu. dia melihat seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Saat akan menggendongnya, bayi itu pun menangis.

Ngoa… ngoa… ngoa… !!! suara bayi tersebut.

Alangkah bahagianya hati Mbok Srini mendengar suara tangisan bayi yang telah lama dirindukannya itu. Dia pun memberi nama bayi itu Timun Mas.

Cup… cup… cup..!!! Jangan menangis anakku sayang… Timun Mas! kata Mbok Srini.

Wanita paruh baya itu tak dapat lagi menyembuyikan kebahagiaannya. Tak terasa, air matanya pun menetes membasahi kedua pipinya yang telah mulai keriput. Perasaan bahagia itu membuatnya lupa pada janjinya bahwa dia akan menyerahkan bayi itu kepada raksasa itu ketika dia dewasa. Dia merawat dan mendidik Timun Mas dengan penuh kasih sayang sampai tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Janda tua itu sangat bangga, karena selain cantik, putrinya juga mempunyai kecerdasan yang luar biasa dan perangai yang baik. Oleh karena itu, Dia sangat sayang kepadanya.

Suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi oleh raksasa itu dan berpesan kepadanya bahwa seminggu lagi dia akan datang menjemput Timun Mas. Sejak itu, dia selalu duduk termenung seorang diri. Hatinya sedih, karena dia akan berpisah dengan anak yang sangat disayanginya tersebut. Dia baru menyadari bahwa raksasa itu ternyata jahat, karena Timun Mas akan dijadikan makanannya.

Melihat ibunya sering duduk termenung, Timun Mas juga bertanya-tanya dalam hati. Suatu sore, Timun Emas memberanikan diri untuk menanyakan kepada ibunya.

Bu, mengapa akhir-akhir ini Ibu selalu terlihat sedih?  kata Timun Mas.

Sebenarnya Mbok Srini tidak mau menceritakan penyebab kegundahan hatinya, karena dia tidak mau anak semata wayangnya itu ikut bersedih. Tetapi, karena terus didesak, akhirnya dia pun menceritakan perihal asal-usul Timun Mas yang selama ini dia rahasiakan.

Maafkan Ibu, Anakku! Selama ini Ibu merahasiakan sesuatu padamu, ujar Mbok Srini dengan wajah sedih.

Rahasia apa, Bu? tanya Timun Mas dengan penasaran.

Ketahuilah, Timun Mas! Sebenarnya, kamu bukan anak kandung Ibu yang lahir dari rahim Ibu.

Belum ibunya selesai bicara, Timun Mas tiba-tiba menyela.

Apa maksud, Ibu? kata Timun Mas.

Mbok Srini pun menceritakan semua rahasia tersebut sampai mimpinya semalam bahwa sesosok raksasa akan datang menjemput anaknya tersebut untuk dijadikan santapan. Mendengar cerita itu, Timun Mas kaget seolah-olah tidak percaya.

Timun tidak ingin ikut bersama raksasa itu. Timun sangat sayang kepada Ibu yang sudah mendidik dan membesarkan Timun, ujar Timun Mas.

Mendengar perkataan Timun Mas, Mbok Srini termenung lagi. dia bingung mencari cara supaya anaknya selamat dari santapan raksasa tersebut. Sampai pada hari yang sudah dijanjikan oleh raksasa itu, Mbok Srini belum juga menemukan jalan keluar. Hatinya juga mulai cemas. Dalam kecemasannya, tiba-tiba dia menemukan sebuah akal. Dia menyuruh Timun Mas berpura-pura sakit. Dengan begitu, pasti raksasa itu tak akan mau menyantapnya. Ketika matahari sudah mulai senja, raksasa itu pun mendatangi gubuk Mbok Srini.

Hai, Perempuan Tua! Mana anak itu? Aku akan membawanya sekarang, minta raksasa itu.

Maaf, Tuan Raksasa! Anak tersebut sedang sakit keras. Bila  kamu menyantapnya sekarang, pasti dagingnya tidak enak. Bagaimana kalau 3 hari lagi kamu datang kemari? Saya akan menyembuhkan penyakitnya dulu, bujuk Mbok Srini mengulur-ulur waktu sampai dia menemukan cara supaya Timur Mas bisa selamat.

Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu mesti berjanji akan menyerahkan anak itu kepadaku, ujar raksasa itu.

Setelah Mbok Srini menyatakan berjanji, raksasa tersebut pun menghilang. Mbok Srini kembali bingung mencari cara lain. Setelah berpikir keras, akhirnya dia menemukan cara yang menurutnya bisa menyelamatkan anaknya dari santapan raksasa itu. Dia akan meminta bantuan kepada seorang pertapa yang tinggal di suatu gunung.

Anakku! Besok pagi-pagi sekali Ibu akan pergi ke gunung untuk berjumpa pada seorang pertapa. Dia ialah teman almarhum suami Ibu. Barangkali dia dapat membantu kita untuk menghentikan niat jahat raksasa tersebut kata Mbok Srini.

Benar, Bu! Kita harus memusnakan raksasa itu. Timun tidak ingin menjadi santapannya, kata Timun Mas.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, berangkatlah Mbok Srini ke gunung tersebut. Setibanya di sana, dia langsung menemui pertapa itu dan menyampaikan maksud dia datang kesini.

Maaf, Tuan Pertapa! Maksud kedatangan saya kemari mau meminta bantuan kepada Tuan,ujar Mbok Srini.

Apa yang dapat kubantu, Mbok Srini? tanya pertapa tersebut.

Mbok Srini pun menceritakan masalah yang lagi dihadapi anaknya. Mendengar cerita Mbok Srini, pertapa itu juga bersedia membantu.

Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar ya! kata pertapa itu sambil berjalan masuk ke dalam ruang rahasianya.

Tak lama kemudia, pertapa itu kembali sambil membawa 4 buah bungkusan kecil, Kemudian Memberikan kepada Mbok Srini.

Berikanlah bungkusan ini pada anakmu. Ke-4 bungkusan ini masing-masing berisi biji timun, jarum, garam serta terasi. Bila raksasa itu mengejarnya, suruh sebarkan isi bungkusan ini! kata pertapa itu.

Setelah mendapat penjelasan tersebut, Mbok Srini pulang membawa ke-4 bungkusan itu. Sesampainya di gubuknya, Mbok Srini menyerahkan ke-4 bungkusan tersebut dan menjelaskan tujuannya kepada Timun Mas. Sekarang, hati Mbok Srini mulai agak tenang, karena anaknya sudah memiliki senjata untuk melawan raksasa itu.

2 hari kemudian, Raksasa itu pun datang untuk menagih janjinya pada Mbok Srini. Dia sudah tidak sabar lagi ingin membawa dan menyantap daging Timun Mas.

Hai, perempuan tua! Kali ini kamu harus menepati janjimu Kalau tidak, kamu juga akan kujadikan santapanku! kata raksasa itu.

Mbok Srini tak gentar lagi menghadapi ancaman itu. Dengan tenang, dia memanggil Timun Mas supaya keluar dari dalam gubuk. Tak berapa lama, Timun Emas pun keluar kemudian berdiri di samping ibunya.

Jangan takut, Anakku! Kalau raksasa itu akan menangkapmu, segera lari dan ikuti petunjuk yang sudah berikan kepadamu,Mbok Srini membisik kepada Timun Mas.

Baik, Bu! kata Timun Mas.

Melihat Timun Mas yang benar-benar telah dewasa, rakasasa itu semakin tak sabar ingin langsung menyantapnya. Ketika dia mau menangkapnya, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya. Raksasa itu juga mengejarnya. Tak ayal lagi, terjadilah kejar-kerajaan antara makhluk raksasa tersebut dengan Timun Mas. Setelah berlari jauh, Timun Mas mulai kecapaian, sementara raksasa tersebut semakin mendekat. Akhirnya, dia pun mengeluarkan bungkusan pemberian pertapa.

Pertama-tama Timun Mas menebar biji timun yang telah diberikan oleh ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya mendadak berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun itu menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Tetapi, raksasa itu bisa melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.

Timun Emas pun langsung melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum itu berubah menjadi rerumbunan pohon bambu yang tinggi dan runcing. Tetapi, raksasa itu bisa melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, meskipun kakinya berdarah-darah karena tertusuk bambu tadi.

Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ke-3 yang berisi garam kemudian menebarkannya. Seketika itu juga, hutan yang sudah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, tetapi raksasa itu tetap berhasil melewatinya dengan mudah. Timun Emas pun mulai cemas, karena senjatanya hanya sisa satu. Kalau senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka tamatlah riwayatnya. Dengan penuh keyakinan, dia pun melemparkan bungkusan terakhir yang isinya terasi. Seketika itu juga, tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba menjelma menjadi lautan lumpur yang mendidih. Alhasil, raksasa itu lansung tercebur ke dalamnya dan tewas seketika. Maka selamatlah Timun Emas dari kejaran serta santapan raksasa itu.

Dengan sekuat tenaga, Timun Emas berlari menuju ke gubuknya untuk menemui ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini langsung berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sejak saat itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Dongeng Rakyat Jawa Tengah, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :

Read More  √ Cerita Dongeng Batu Menangis
Read More  √ Cerita Daerah Papua : Legenda Asal Usul Burung Cendrawasih
Read More  √ Cerita Batu Batangkup Dari Riau
Read More  √ Asal Usul Telaga Warna