Cerita Rakyat Sumatera Barat

Diposting pada

Dongeng Bawang Merah Bawang Putih

Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Selai itu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya.”Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibu tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.”

“Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, terima kasih.” kata Bawang putih dan segera berlari kernbali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.

“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.

“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.

“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.

“Ya nek. Apa…nenek menemukannya.” tanya bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.

Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.

“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.

Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsung merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu.

Baca Juga :  Asal Usul Danau Toba

Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi.”Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

Pesan Moral dari Cerita Dongeng Bawang Merah Bawang Putih adalah selalu bersikap baik dengan tulus dan ikhlas pada orang lain tanpa berharap akan imbalan. Kebaikan yang kita lakukan selalu berbuah kebaikan pula, demikian pula dengan kejahatan yang hanya mengakibatkan kejahatan juga.

Temukan cerita rakyat Sumatera Barat menarik lainnya pada artikel kami berikut ini Cerita Dongeng Malin Kundang (Cerita Rakyat SumBar).


Asal Mula Danau Maninjau

Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, Sumatra Barat, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari sembilan laki-laki dan satu anak perempuan. Ayah dan ibu mereka telah meninggal dunia. Anak tertua bernama Kukuban. Sementara itu, si bungsu yang merupakan satu-satunya perempuan, bernama Siti Rasani atau Sani. Karena jumlah laki-laki bersaudara itu sembilan orang, penduduk sekitar sering menyebut mereka dengan Bujang Sembilan.

Semenjak orangtua mereka meninggal dunia, mereka diasuh oleh seorang paman, yaitu Datuk Limbatang yang biasa mereka panggil Engku. Datuk Limbatang mempunyai seorang anak lelaki bernama Giran.

Setelah menginjak dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Pada mulanya, mereka menyembunyikan hubungan tersebut. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak balk, akhirnya mereka mengungkapkan hubungan ini kepada keluarga masing masing. Kedua keluarga itu menyambut hubungan Sani dan Gani dengan suka cita.

Saat panen usai, warga di perkampungan itu melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua bersemangat mengikuti upacara ini, termasuk Kukuban dan Giran.

Kukuban dengan keahlian silatnya berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hal yang sama terjadi pada Giran. Akhirnya, keduanya bertemu pada pertandingan penentuan.

Ketika pertarungan berlangsung, keduanya mengeluarkah ke ahlian masing-masing. Kukuban sangat tajam melancarkan serangan-serangan kepada Giran. Suatu saat, ia melancarkan tendangan ke arah Giran, tetapi tendangan tersebut ditangkis dengan keras oleh Giran. Semua penonton tercengang ketika tiba-tiba Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban patah. la dinyatakan kalah dalam pertarungan.

Semenjak kejadian itu, Kukuban menyimpan dendam pada Giran. la tidak terima dikalahkan oleh Giran dan menyebabkan kakinya patah.

Suatu hari, Datuk Limbatang dan keluarganya datang ke rumah Bujang Sembilan untuk membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban menentang hubungan adiknya dengan Giran. Terjadilah perselisihan antara Kukuban dan Datuk Limbatang.

“Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui pernikahan Sani dengan anak Engku. Giran sudah mempermalukanku di depan penduduk dan ia juga mematahkan kakiku!” ujar Kukuban. Usaha Datuk Limbatang membujuk Kukuban agar memberikan persetujuannya tidak membuahkan hasil.

“Anakku, Kukuban, mengapa engkau membenci Giran? Semua menyaksikan bahwa kaulah yang menyerang Giran, ketika Giran terpojok ia menangkis tendanganmu sehingga kakimu patah. Giran tidak bersalah. Engku bukan membela anak Engku, tetapi memang begitulah kejadian yang sebenarnya.”

Namun, semua sia-sia. Kukuban tetap menolak memberikan restunya. Sani dan Giran tidak bisa menikah.

Betapa sedihnya hati Sani dan Giran. Giran Ialu mengajak Sani untuk bertemu di suatu tempat membicarakan masalah ini. Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai.

“Apa yang harus kita perbuat, Dik. Abangmu sangat tidak merestui hubungan kita,” keluh Giran.

“Entahlah, Bang. Semua keputusan ada di tangan Bang Kukuban. Dia benci, sekali kepada Abang;” isak Sani. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba, sarung yang dikenakannya tersangkut di sebuah ranting berduri dan melukai kakinya hingga berdarah. Sani merintih kesakitan “Adik, kamu terluka. Abang akan bantu mengobatinya,” ujar Giran. Lalu, Giran mengambil daun-daun obat di sekitarnya dan mengoleskan ramuan yang dibuatnya ke bagian luka kekasihnya.

Mereka berdua tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ternyata, Kukuban telah memanggil warga untuk mengawasi Sani clan Giran.

Melihat Giran yang sedang mengobati luka di kaki Sani, warga mempunyai prasangka yang buruk terhadap keduanya. Sani dan Giran digiring warga untuk diadili, karena dianggap telah melakukan perbuatan yang memalukan dan melanggar etika adat.

Sidang adat memutuskan bahwa mereka bersalah dan sebagai hukumannya keduanya harus dibuang ke Kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka bagi penduduk.


Cerita Malinkundang

Pada zaman dahulu di sebuah perkampungan nelayan Pantai Air Manis di daerah Padang, Sumatera Barat hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang. Mande Rubayah amat menyayangi dan memanjakan Malin Kundang. Malin adalah seorang anak yang rajin dan penurut.

Mande Rubayah sudah tua, ia hanya mampu bekerja sebagai penjual kue untuk mencupi kebutuhan ia dan anak tunggalnya. Suatu hari, Malin jatuh-sakit. Sakit yang amat keras, nyawanya hampir melayang namun akhirnya ia dapat diseiamatkan-berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya ia semakin disayang. Mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi. Kini, Malin sudah dewasa ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau ke kota, karena saat itu sedang ada kapal besar merapat di Pantai Air Manis.

“Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana. Menetaplah saja di sini, temani ibu,” ucap ibunya sedih setelah mendengar keinginan Malin yang ingin merantau.

“Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku,” kata Malin sambil menggenggam tangan ibunya. “Ini kesempatan Bu, kerena belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Aku ingin mengubah nasib kita Bu, izinkanlah” pinta Malin memohon.

“Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu Nak,” kata ibunya sambil menangis. Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Kemudian Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus, “Untuk bekalmu di perjalanan,” katanya sambil menyerahkannya pada Malin. Setelah itu berangkatiah Malin Kundang ke tanah rantau meninggalkan ibunya sendirian.

Baca Juga :  Asal Usul Nama Minangkabau

Hari-hari terus berlalu, hari yang terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut, “Sudah sampai manakah kamu berlayar Nak?” tanyanya dalam hati sambil terus memandang laut. la selalu mendo’akan anaknya agar selalu selamat dan cepat kembali.

Beberapa waktu kemudian jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. “Apakah kalian melihat anakku, Malin? Apakah dia baik-baik saja? Kapan ia pulang?” tanyanya. Namun setiap ia bertanya pada awak kapal atau nahkoda tidak pernah mendapatkan jawaban. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

Bertahun-tahun Mande Rubayah terus bertanya namun tak pernah ada jawaban hingga tubuhnya semakin tua, kini ia jalannya mulai terbungkuk-bungkuk. Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda dulu membawa Malin, nahkoda itu memberi kabar bahagia pada Mande Rubayah.

“Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan gadis cantik, putri seorang bangsawan yang sangat kaya raya,” ucapnya saat itu.


Cerita Batu Menangis

Dahulu kala kampung ini didiami oleh penduduk yang kerjanya bertani menangkap ikan ke danau. Penduduk yang berjiwa gotong-royong ini bisa mendirikan rumah-rumah besar yang bergonjong dan di antaranya ada yang bernama rumah gadang Gajah Maharam. Rumah-rumah yang didirikan oleh penduduk ini sangatlah rapatnya, sehingga atap rumah yang satu dengan yang lain hampir bersambungan.

Pada suatu hari terjadilah kebakaran yang sangat banyak memusnahkan rumah-rumah penduduk itu. Hampir seluruh kampung itu habis dilanda api. Penduduk kampung banyak yang jatuh melarat karena tidak bisa menyelamatkan harta benda. Dan bahkan padi di lumpung pun turut terbakar.

Dengan kejadian yang menakutkan ini banyaklah penduduk kampung berniat kembali mendirikan rumahnya di tempat-tempat yang dirasakan aman. Mereka mencari daerah-daerah di pinggiran kampung, ada yang di Kampung Jambu, Kayu Kalek, Sungai Rangeh, Panji dan Jalan Batuang. Pendek kata hampir seluruh penduduk berpikir demikian. Lebih baik mendirikan rumah di pinggiran hutan dan bahkan lebih dekat dengan sawah dan ladang.

Maka tinggallah sebahagian penduduk di kenegerian Bayur yang tidak bisa melepaskan mata pencahariannya ke danau menangkap ikan di samping ke sawah. Di antara penduduk itu tersebut pulalah seorang ibu dengan seorang anaknya perempuan. Suami perempuan ini telah lama meninggal. Dan anaknya ini termasuk cantik di kampung itu dan mulai menanjak dewasa.

Perempuan inilah yang bertanggung jawab membesarkan anaknya itu serta mendidiknya menurut adat dan agama. Namun anaknya ini kuranglah memperhatikan didikan orang tuanya itu. Kerjanya setiap hari mematut diri karena ia tahu benar akan kecantikannya. Ibunya yang telah tua itu dibiarkannya berpayah-payah mencari makan baik ke sawah maupun ke danau menangguk udang.

Pada suatu musim, padi di sawah menjadi rusak lantaran dimakan hama dan tikus. Banyak penduduk kampung itu yang kehabisan padinya di lumbung. Dengan keadaan ini tidaklah ke tinggal menimpa nasib perempuan berdua beranak ini. Sulitlah baginya untuk bersalang tenggang dengan orang berdekatan karena mereka pun bernasib yang sama pula dengannya. Ibu yang sangat sayang pada anaknya ini tidak mau melihat anaknya akan mati kelaparan. Maka olehnya diajaknya anak gadisnya itu ke Kampung Jambu dengan niatan meminjam pada ke familinya yang ada disana.

Dalam teriknya matahari berangkatlah dua beranak itu ke tempat yang dituju. Sang anak tidak lupa mengenakan baju yang indah-indah karena takut akan dikatakan orang dirinya buruk. Melihat karena anak gadis itu ibunya terpaksa saja membiarkan karena ia sendirian pun tidak mau mengecilkan hati anaknya. Di tengah jalan banyaklah orang yang memuji-muji kecantikan gadis ini bagaikan bidadari yang baru turun dari kayangan. Banyak anak-anak muda yang tergila-gila padanya.

Setelah mereka sampai di tempat yang dituju, mereka dijamu oleh famili tempat mereka akan meminjam padi. Anak gadis yang teranja-anja ini naik ke atas rumah seorang diri dengan melarang orang tuanya turut serta. Ibunya dibiarkannya duduk di halaman yang berpanas menunggu maksud mereka tercapai. Dengan hati yang mulai terluka ibu yang sangat sayang pada gadis itu menurut saja

Diatas rumah gadis itu dihidangkan orang makanan dan minuman yang enak-enak untuk melepaskan lapar dan dahaganya. Di kala orang yang punya rumah menjenguk ke halaman tampaklah olehnya seorang perempuan duduk dalam kepanasan. Karena hibanya si empunya rumah pada perempuan itu, maka bertanyalah ia pada si gadis.

“Siapakah gerangan yang duduk di halaman itu?”

Terkejut anak gadis itu mendengar pertanyaan yang tiba-tiba saja datangnya. Tiba-tiba pula ia mendapat pikiran untuk menjawab pertanyaan itu.

“Perempuan itu adalah orang suruhan hamba,” jawabnya dengan muka merah karena malu mengakui perempuan itu sebagai ibunya lantaran pakaiannya yang compang camping.

“Suruhkanlah ia naik boleh ia makan bersama-sama,” kata orang punya rumah.

“Jangan,” kata gadis itu dengan suara yang agak lantang.

“Jika terniat oleh ibu hendak menyedekahi ia makanan maupun minuman, berikan saja dengan tempurung.”
Orang yang empunya rumah menurutkan saja apa yang dikatakan gadis cantik itu. Perempuan yang di halaman itu diberinya makanan dan minuman yang diletakkan dalam tempurung.

Bukan main sedihnya hati ibu yang malang itu mengingatkan nasibnya. Air matanya jatuh bermanik-manik bagaikan kaca jatuh ke batu. Dengan hormat ia menolak keramaian hati orang yang empunya perutnya sangat lapar dan tenggorokannya kering bagaikan terbakar.

Matanya berkunang-kunang dan dunia ini seakan-akan gelap dipandangnya. Ia berdoa dalam hati semoga anak yang dicintainya itu ditunjuki juga jalan yang benar dan segala dosanya diampuni oleh Tuhan. Setelah haus dan lapar gadis itu lepas maka disampaikannya maksud dan tujuannya datang ke kampung itu hendak meminjam padi menjelang petahunan yang akan datang.

Lantaran kasihan melihat nasib dan cantiknya gadis itu, maka orang yang empunya rumah memperkenankan permintaannya. Padi mereka yang di lumbung disukatkan ke dalam sumpit yang dibawa gadis itu.

Setelah penyukatan padi itu selesai, maka berkatalah gadis yang durhaka itu pada ibunya: “Hai perempuan buruk, junjunglah olehmu sumpit ini agar lekas kita sampai di rumah.”

Sekali lagi perempuan yang bernasib malang ini mematuhi saja apa yang dikatakan oleh anaknya. Air matanya kembali berhamburan dan dalam hati ia berdoa semoga anak yang dicintainya itu kembali ditunjuki Tuhan jalan yang benar.

Baca Juga :  Ikan Sakti Sungai Janiah

Dijunjungnya padi itu dengan sisa kekuatannya yang masih ada. Tuhan akan menolong ia beroleh kekuatan dan jalananya pun cepat melintasi pematang-pematang yang tinggi jika dibandingkan dengan jalan anaknya yang tidak berbeban itu.

Sementara itu panasnya matahari semakin menjadi-jadi bagaikan membakar. Gadis yang durhaka itu tampak keletihan hausnya kembali terasa dan perutnya kembali lapar. Ia rasakan takkan mungkin meneruskan perjalanan itu.

Pada sebuah pematang yang agak tinggi, malang akan menimpa anak gadis itu, kakinya terantuk dan ia terjatuh. Dengan memekik ia memanggil ibunya meminta pertolongan. Namun orang tua yang telah berhati luluh itu tidak mengacuhkan panggilan anaknya itu, hingga terdengar sayup-sayup sampai.

Sebagai ibu yang masih tetap mencintai anaknya, ia melengong ke belakang. Betapa terkejutnya perempuan itu, di mana di tempat anaknya terjatuh itu telah berdiri saja sebuah batu yang besar sedang suara yang berhiba-hiba minta pertolongan masih saja terdengar. Ia segera berlari ke tempat datang suaranya itu. Dan ia meraung sejadi-jadinya melihat anaknya telah berobah saja menjadi batu. Seribu penyesalan datang di hatinya.

Mengapa ia tidak lekas datang membantu anaknya itu. Ia terus juga berhiba-hiba mengingatkan nasibnya yang akan tinggal seorang diri. Ia berusaha minta tolong pada orang kampung agar anaknya itu bisa dikembalikan sebagai mana sediakala. Namun Tuhan telah memperlihatkan kekuasaan-Nya terhadap orang yang durhaka, dan anak gadis itu tetap menjadi batu.

Hingga sekarang kita masih bisa melihat batu tersebut di mana setiap bulan puasa dari dinding batu itu akan kita lihat keluar air. Menurut kata orang batu itu menangis menyesali perbuatannya. Maka bernamalah “Batu Menangis

Asal Usul Kota Sawahlunto

Kota Sawahlunto merupakan salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota yang terletak 95 km sebelah timur laut kota Padang ini, dikelilingi oleh 3 kabupaten di Sumatera Barat, yakni kabupaten Tanah Datar, kabupaten Solok, serta kabupaten Sijunjung. Kota Sawahlunto mempunyai luas  tanah 273,45 km² yang terdiri dari 4 kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 54.000 jiwa. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, kota Sawalunto terkenal sebagai kota tambang batu bara. Kota tersebut sempat mati, sesudah penambangan batu bara dihentikan.

Sekarang kota Sawahlunto berkembang menjadi kota wisata tua yang multi etnik, sampai menjadi salah satu kota tua terbaik di Indonesia. Kota yang didirikan pada tahun 1888 ini, banyak berdiri bangunan-bangunan tua bekas peninggalan Belanda. Sebagian sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah setempat dalam rangka mendorong pariwisata dan mencanangkan Sawahlunto menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya.

Berikut Adalah Legenda Asal Mula Sawahlunto, zaman dahulu kala di Lunto, Sumatera Barat, terdapat sebuah kerajaan yang bernama Sitambago Raya. Rakyat hidup bahagia,Tanah mereka subur serta cuaca selalu baik. Hal tersebut membuat orang-orang dari kerajaan lain menjadi cemburu.

Raja Sitambago tau bahwa dia harus melindungi kerajaannya. Dia meminta semua orang di kerajaannya bergabung menjadi tentara. Dan raja mempersiapkan mereka sebagai prajurit yang kuat.

Mereka dilatih setiap hari siang dan malam dengan keras. Mereka dilatih dengan banyak keterampilan, seni bela diri, dan pula bagaimana memakai senjata. Mereka harus siap untuk melawan saat kerajaan lainnya menyerang mereka. Dan apa yang Raja Sitambago khawatirkan akhirnya menjadi kenyataan. Salah satu prajurit mengatakan kepadanya bahwa tentara dari Silungkang Raya akan menyerang kerajaan mereka.

Yang Mulia, saya melihat bahwa Raja Silungkang sedang mempersiapkan tentaranya, kata prajuritnya.

Apakah kamu yakin? kata Raja.

Ya, Yang Mulia. Saya pun mendengar bahwa mereka akan menyerang kita segera.

Hmm Aku tahu cepat atau lambat kita akan mesti berjuang. Sekarang, saya mau semua tentara harus siap. Mereka bisa menyerang kita setiap saat, ujar Raja.

Raja Silungkang mau memperluas kerajaannya. Dan dia benar-benar tertarik terhadap kerajaan Sitambago. Dia sudah mendengar bahwa kerajaan itu sangat subur. Dia berharap dengan menaklukkan kerajaan tersebut, dia akan sangat kaya! Silungkang adalah sebuah kerajaan besar. Dia mempunyai banyak tentara, dan mereka sangat berani dan kuat. Rajanya pun serakah dia tidak pernah merasa cukup atau puas.

Raja kerajaan Silungkang sedang menyiapkan serangan. Dan dia memberi tentaranya senjata yang amat mematikan. Raja tidak dapat menunggu lebih lama lagi! Pagi-pagi mereka langsung menyerang Kerajaan Sitambago.

Para prajurit dari Kerajaan Sitambago sudah siap. Raja memimpin tentaranya dengan berani Dan hal tersebut membuat tentara juga tidak takut. Mereka bertempur dengan gagah berani! Raja Silungkang kaget. Dia mengira Kerajaan Sitambago tidak mempunyai banyak tentara. Dan dia juga berpikir bahwa tentaranya pengecut Ternyata dia salah kira.

Raja Silungkang lau memerintahkan prajuritnya untuk mundur. Ia merencanakan serangan lain,Mereka akan menyerang Kerajaan Sitambago dari berbagai gerbang. Selain itu, dia meminta pasukannya untuk memakai senjata mematikan.

Pada hari selanutnya, tentara Silungkang Raya diserang lagi oleh Kerajaan Sitambago. Hal ini  merupakan perang yang mengerikan Dan membuat banyak tentara tewas. Mereka sudah perang selama beberapa hari namun masih belum ada tanda-tanda bahwa perang akan berakhir.

Ayo! Jangan menyerah! Kita mesti mempertahankan kerajaan kita! kata Raja Sitambago.

Para prajurit mendengar Raja mereka  Dan yang memotivasi mereka untuk melawan. Sementara itu Raja Silungkang pun memerintahkan prajuritnya untuk tidak menyerah.

Sudah waktunya untuk memakai senjata mematikan kami Gunakan sekarang kata Raja.

Lalu para prajurit dari Silungkang memakai senjata mematikan. Hanya dalam hitungan menit, prajurit Sitambago tewas. Rajanya tak menyerah. Sayangnya, dia pun ikut tewas.

Kerajaan Silungkang memenangkan perang. tetapi, mereka kehilangan banyak tentara. perang sdah membuat mereka menderita. Dan kerajaan tersebut dalam keadaan kacau yang sangat parah. Lalu mereka kembali ke kerajaan mereka.

Sesudah perang berakhir, orang-orang Sitambago mencoba untukmembangun kembali wilayah mereka dengan bertani,Mereka membuat banyak sawah.Dan karena kerajaan mereka ada di daerah Lunto, Lalu wilayah itu dikenalsebagai Sawah Lunto karena didaerah Lunto terdapat banyak sawah.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai Cerita Rakyat Sumatera Barat : Dongen Bawang Merah Putih, Asal Mula Danau Maninjau, Kisah Malinkundang, Batu Menangis, Asal Usul Kota Sawahlunto, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.