Etis Adalah

Diposting pada

Pengertian Etis

Definisi dari kata etis merupakan sesuatu hal yang itu berurusan atau berkaitan dengan moral atau pun prinsip-prinsip dari moralitas dan juga berkaitan dengan sesuatu yang benar ataupun salah dalam melaksanakan sesuatu.

Pengertian dari kata etis merupakan bertindak menggunakan cara konsisten terhadap suatu hal yang masyarakat juga individu biasanya berpikir jika hal itu merupakan nilai-nilai yang dianggap baik yang mencakup keadilan, martabat, kesetaraan, kejujuran, keragaman dan hak-hak dari suatu individu.


Pengertian Politik Etis

Pengertian dari politik etis yakni politik pada dasarnya adalah bertujuan rangkap seperti, pertama ialah agar dapat meningkatkan kesejahteraan dari penduduk pribumi, dan kedua ialah agar dapat menumbuhkan otonomi juga desentralisasi politik pada Hindia Belanda secara berkala. (Nagazumi 1989 : 27-28)

Definisi dari politik etis merupakan sebuah politik balas budi yang dimana pemerintah dari kolonial bertanggung jawab secara moral agar dapat meningkatkan kesejahteraan dari negara jajahannya ersebut. Tujuan dari pelaksanaan politik etis itu menurut dari van de venter yakni ada 3 yakni agar dapat meningkatkan pada sektor  seperti pada bidang irigasi, emigrasi  dan edukasi.

Dan sebagai makhluk sosial pada dasarnya kita hidup di masyarakat yang juga menganut suatu nilai-nilai tersendiri yang tak tertulis namun telah disepakati bersama yang dikena dengan etika. Nah, nilai-nilai tersebut juga kuat dipengaruhi dengan budaya masyarakat sekitarnya sehingga etika pada  tempat kita berada biasanya berbeda pada tempat lain. Apa yang biasa di lihat di daerah Sumatera Barat belum tentu hal tersebut dibenarkan di daerah Jawa Barat.


Contoh Perilaku Etis danTak Etis

Seperti contoh budaya cium pipi apabila sedang berjumpa antara sejenis ataupun juga dengan lawan jenis merupakan hal yang biasa dan dianggap buruk pada negara Amerika, namun, berbeda halnya apabila di kota Padang, dan jangan sekali-kali mencoba melakukannya jika tak mau dicap sebagai perempuan yang tak bermoral.

Karena ituah etika itu bersifat subjektif dan juga mencerminkan budaya pada suatu masyrakat yang dianutnya. Bahkan tak menutup kemungkinan dapat terjadi pengikisan nilai-nilai yang dianut dengan seiring berjalannya waktu serta pengaruh dari faktor luar masuk ke daerah tersebut.

Seperti contohnya zaman dahulu di kampung hubungan pertemana pria dengan wanita sangat terbatas, tak ada istilah pacaran kemudian pergi berdua-duaan. Dengan pengaruh zaman modern saat ini salah satunya akibat tontonan di televisi yang kemudian membuat nilai-nilai tersebut bergeser. Masyarakat malah memaklumi apabila melihat pasangan yang tak mempunyai ikatan sumai istri bergandengan, cipika-cipiki dinilai sebgai sesuatu yang wajar.

Secara singkat, pengertian dari etis merupakan semua tindakan yang sesuai terhadap etika atau pun nilai-nilai yang berlaku dan juga disepakati secara umum. Sebalikannya, pengertian tak etis merupakan apabila suatu hal yang menyalahi etika yang dianut pada suatu kelompok masyarakat. Karena dengan berdasar pada kesepakatan suatu kelompok masyarakat yang bersifat tak resmi dan tak tertulis itulah berlaku hukuman dari suatu tindakan tak etis yakni diberikan hukuman moral dari suatu kelompok masyarakat itu.

Baca Juga :  √Contoh Teks Laporan Hasil Observasi(LHO) : Pengertian, Ciri, Fungsi, Tujuan, Sifat, Struktur, Kaidah dan Contohnya

Seperti contoh perilaku yang tak etis apabila seorang perempuan hamil diluar pernikahan maka dipandang rendah, diperbincangkan, dan bahkan dapat diusir apabila tinggal pada suatu daerah yang begiu kuatnya menjaga pergaulan antara laki-laki dengan perempuan. Perempuan tak dapat dihukum menurut hukum undang-undang namun ia memperoleh hukuman moral pada suau kelompok masyarakat.

Tak cuma pada bentuk tak tertulis saja, ada juga peraturan-peraturan dan nilai moral yang sengaja dibuat tertulis agar dapat mengatur kode etik. Seperti contohnya pada kode etik jurnalistik dan juga kode etik kedokteran. Kode etik tersebut mengatur segala tindakan etis dan juga tak etis dalam profesinya dan akan selalu menjadi pedoman orang itu ketika menjalankan aktivitas dari profesinya.

Dan berikut penjelasan yang berkitan dengan pengertian etis beserta dengan contohnya. Semoga sobat dapat memahami pengertian dari kata etis secara umumyaaa.


Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Etis

Sebagai respons terhadap keputusan yang dapat dipertahankan secara etis, kerangka ini menyertakan persyaratan tradisional untuk profitabilitas dan legalitas. Serta persyaratan yang dapat ditampilkan filosofis secara penting dan baru-baru ini dituntut oleh pemangku kepentingan. Hal ini dirancang untuk meningkatkan pertimbangan etis dengan menyediakan:


  1. Pengetahuan dalam identifikasi dan menganalisis isu-isu penting yang harus dipertimbangkan dan pertanyaan atau tantangan yang harus diungkap;
  2. Pendekatan untuk menggabungkan dan menerapkan keputusan-faktor yang relevan ke dalam tindakan praktis.

Kerangka kerja pengambilan keputusan etis (EDM) menilai etiskalitas keputusan atau tindakan yang dibuat dengan melihat:


  1. konsekuensi atau diciptakan offness baik dalam hal manfaat atau biaya;
  2. hak dan kewajiban yang terkena dampak;
  3. keadilan yang terlibat;
  4. motivasi atau kebajikan yang diharapkan.

Penilaian Etis Motivasi dan Perilaku

Proses penilaian dampak pemangku kepentingan menawarkan kesempatan untuk menilai motivasi yang mendasari keputusan atau tindakan yang diusulkan. Apakah motivasi pengambil keputusan cenderung etis atau tidak.

Pendekatan Komprehensif untuk EDM

Pertimbangan

Uraian

Konsekuensialisme

Keputusan yang diusulkan akan menghasilkan keuntungan lebih besar dari biaya

Hak-hak, tugas atau deontologi

Keputusan yang diusulkan tidak menyinggung hak para pemangku kepentingan, termasuk pengambil keputusan

Kejujuran/kesetaraan atau Keadilan

Disribusi manfaat dan beban harus adil

Harapan kebajikan atau Etika kebijakan

Motivasi untuk keputusan harus mencerminkan ekspektasi kebajikan


Langkah-Langkah Menuju Sebuah Keputusan Etis

  1. Identifikasi fakta dan semua kelompok pemangku kepentingan serta kepentingan yang mungkin akan terpengaruh.
  2. Membuat peringkat para pemangku kepentingan serta kepentingan mereka.
  3. Menilai dampak dari tindakan yang diusulkan pada setiap kepentingan pihak yang berkepentingan

Tujuh langkah menuju sebuah keputusan etis menurut American Accounting Association (1993) yaitu:


  1. Tentukan fakta-apa, siapa, dimana, kapan dan bagaimana
  2. Menetapkan isu etis
  3. Mengidentifikasi prinsip-prinsip utama, aturan dan nilai-nilai
  4. Tentukan alternative
  5. Bandingkan nilai-nilai dan alternatif, serta melihat apakah muncul keputusan yang jelas
  6. Menilai konsekuensi
  7. Membuat keputusan anda.

Politik Etis

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa.

Munculnya kaum Etis yang di pelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi yang terbelakang.

Baca Juga :  √ Etika dan Etiket : Pengertian, Jenis, Contohnya

Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Van deventer yang meliputi:


  1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian
  2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi
  3. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan

Banyak pihak menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan tulisan-tulsian Van Deventer yang diterbitkan beberapa waktu sebelumnya, sehingga Van Deventer kemudian dikenal sebagai pencetus politik etis ini.

Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa Indonesia.

Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan sekali dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Salah seorang dari kelompok etis yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah Mr. J.H. Abendanon (1852-1925) yang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima tahun (1900-1905). Sejak tahun 1900 inilah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah.

Sementara itu, dalam masyarakat telah terjadi semacam pertukaran mental antara orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi. Kalangan pendukung politik etis merasa prihatin terhadap pribumi yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum pribumi agar melepaskan diri dari belenggu feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya.


Kriteria Pengambilan Keputusan Yang Etis

Pengambilan keputusan semata-mata bukan karena kepentingan pribadi dari seorang si pengambil keputusannnya. Beberapa hal kriteria dalam pengambilan keputusan yang etis diantaranya adalah:

  • Pendekatan bermanfaat (utilitarian approach), yang dudukung oleh filsafat abad kesembilan belas ,pendekatan bermanfaat itu sendiri adalah konsep tentang etika bahwa prilaku moral menghasilkan kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar.
  • Pendekatan individualisme adalah konsep tentang etika bahwa suatu tindakan dianggap pantas ketika tindakan tersebut mengusung kepentingan terbaik jangka panjang seorang indivudu.
  • Konsep tentang etika bahwa keputusan yang dengan sangat baik menjaga hak-hak yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
  • hak persetujuan bebas. Individu akan diperlakukan hanya jika individu tersebut secara sadar dan tidak terpaksa setuju untuk diperlakukan.
  • hak atas privasi. Individu dapat memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan di luar pekerjaanya.
  • hak kebebasan hati nurani. Individu dapat menahan diri dari memberikan perintah yang melanggar moral dan norma agamanya.
  • hak untuk bebas berpendapat. Individu dapat secara benar mengkritik etika atau legalitas tindakan yang dilakukan orang lain.
  • hak atas proses hak. Individu berhak untuk berbicara tanpa berat sebelah dan berhak atas perlakuan yang adil.
  • hak atas hidup dan keamanan. Individu berhak untuk hidup tanpa bahaya dan ancaman terhadap kesehatan dan keamananya.

Pilihan-pilihan Etis Seorang Manajer


  1. Tingkat prekonvesional mematuhi peraturan untuk menghindari hukuman. Bertindak dalam kepentingannya sendiri.
  2. Tingkat konvensional menghidupkan pengharapan orang lain. Memenuhi kewajiban sistem sosial. Menjujnjung hukum.
  3. Tingkat poskonvensional mengikuti prinsip keadilan dan hak yang dipilih sendiri. Mengetahui bahwa orang-orang menganut nilai-nilai yang berbeda dan mencari solusi kreatif untuk mengatasi dilema etika. Menyeimbangkan kepentingan diri dan kepentingan orang banyak.
Baca Juga :  √ Pencetus Politik Etis: Pengertian, Isi, Tujuan, Pencetus

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan YangEetis


  • Tahap perkembangan moral :

Tahap ini merupakan suatu tahap penilaian (assessment) dari kapasitas seseorang untuk menimbang nimbang apakah secara moral benar, makin tinggi perkembangan moral seorang berarti makin kurang ketergantungannya pada pengaruh- pengaruh luar sehingga ia akan makin cenderung berperilaku etis.

Sebagai misal, kebanyakan orang dewasa berada dalam tingkat menengah dari perkembangan moral, mereka sangat dipengaruhi oleh rekan sekerja dan akan mengikuti aturan dan prosedur suatu organisasi. Individu-individu yang telah maju

Ketahap-tahap yang lebih tinggi iu menaruh nilai yang bertambah pada hak-hak orang lain, tak peduli akan pendapat mayoritas, dan kemungkinan besar menantang praktik-praktik organisasi yang mereka yakini secara pribadi sebagai sesuatu hal yang keliru.


  • Lingkungan Organisasi

Dalam lingkungan organisasional merujuk pada presepsi karyawan mengenai pengharapan (ekspektasi) organisaisonal. Apakah organisasi itu mendorong dan mendukung perilaku etis dengan memberi ganjaran atau menghalangi perilaku etis yang tertulis, perilaku moral yang tinggi dari para seniornya, pengharapan yang realistis akan kinerja, penilaian kinerja sebagai dasar promosi bagi individu-individu, dan hukuman bagi individu-individu yang bertindak tak etis merupakan suatu contoh nyata dari kondoso lingkungan organisasional sehingga kemungkinan besar dapat menumbuh kembangkan pengambilan keputusan yang sangat etis


  • Tempat kedudukan kendali

Tempat kedudukan kendali tidak lepas dengan struktur organisasi, pada umumnya individu-individu yang memiliki moral kuat akan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengambil keputusan yang tidak etis, namun jika mereka dikendalai oleh lingkungan organisasi sebagi tempat kedudukannya yang sedikit banyak tidak menyukai pengambilan keputusan etis, ada kemungkinan individu-individu yang telah mempunyai moral yang kuatpun dapat tercemari oleh suatu lingkungan organisasi sebagai tempat kedudukannya yang mengizinkan atau mendorong praktik-praktik pengambil keputusan tak etis.


Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan Etis

  1. Menentukan fakta-fakta
  2. Mengidentifikasi para pemegang kepentingan dan mempertimbangkan situasi-situasi dari sudut pandang mereka
  3. Mempertimbangkan alternatif-alternatif yang tersedia juga disebut dengan “imajinasi moral”
  4. Mempertimbangkan bagaimana sebuah keputusan dapat memengaruhi para pemegang kepentingan, membandingkan dan mempertimbangkan alternatif-alternatif berdasarkan:
  5. Konsekuensi-konsekuensi
  6. Kewajiban-kewajiban, hak-hak, prinsip-prinsip
  7. Dampak bagi integritas dan karakter pribadi
  8. Membuat sebuah keputusan
  9. Memantau hasil

Langkah pertama dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab secara etis adalah menentukan fakta-fakta dalam situasi tersebut, membedakan fakta-fakta dari opini belaka, adalah hal yang sangat penting. Perbedaan persepsi dalam bagaimana seseorang mengalami dan memahami situasi dapat menyebabkan banyak perbedaan etis. Sebuah penilaian etis yang dibuat berdasarkan penentuan yang cermat atas fakta-fakta yang ada merupakan sebuah penilaian etis yang lebih masuk akal daripada penilaian yang dibuat tanpa fakta. Seseorang yang bertindak sesuai dengan pertimbangan yang cermat akan fakta telah bertindak dalam cara yang lebih bertanggung jawab secara etis daripada orang yang bertindak tanpa pertimbangan yang mendalam.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai Etis Adalah : Pengertian, Politik, Contoh, Pengambilan Keputusan, Penilaian, Langkah Keputusan, Kreteria, Pilihan, Faktor, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya