Cerita Daerah Papua

Diposting pada

Asal Usul Nama Papua

Sekitar tahun 1646, Kerajaan Tidore member nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai Papa-Ua, yang sudah berubah dalam sebutan menjadi Papua. Dalam bahasa Tidore artinya tidak bergabung atau tidak bersatu ( not integrated ). Dalam bahasa melayu berarti rambut keriting. Memiliki pengertian lain, bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja yang memerintah.
Pada tahun 1511 Antonio d’Arbau, pelaut asal Portugis menyebut wilayah Papua dengan nama “Os Papuas” atau juga Ilha de Papo.

Berikutnya, pada tahun 1528, Alvaro de Savedra, seorang pimpinan armada laut Spanyol beri nama pulau Papua Isla de Oro atau Island of Gold yang artinya Pulau Emas. Ia juga merupakan satu-satunya pelaut yang berhasil menancapkan jangkar kapalnya di pantai utara kepulauan Papua. Dengan penyebutan Isla de Oro membuat tidak sedikit pula para pelaut Eropa yang dating berbondong-bondong untuk mencari emas yang terdapat di plau emas tersebut.


Luas Dataran Papua

Pada tahun 1545, pelaut asal Spanyol Inigo Ortiz de Retes member nama Nueva Guinee. Dalam bahasa inggris disebut New Guinea. Ia awalnya menyusuri pantai utara pulau ini dank arena melihat cirri-ciri manusianya yang berkulit hitam dan berambut keriting sama seperti manusa yang ia lihat di belahan bumu Afrika bernama Guinea, maka diberi nama pulau ini Nueva Giunee/Pulau Guinea Baru.

Nama Papua dan Nueva Guinea dipertahankan hampir dua abad lamanya, baru muncul nama Nieuw Guinea dari Belanda, dan kedua nama tersebut terkenal secara luas diseluruh dunia, terutama pada abad ke-19. Penduduk Nusantara mengenal dengan nama Papua dan sementara Nieuw Guinea mulai terkenal sejak abad ke-16 setelah nama tersebut tampak pada peta dunia sehingga dipakai oleh dunia luar, terutama di Negara-negara Eropa.
Pada tahun 1956, Belanda kembali mengubah nama Papua dari Nieuw Guinea menjadi Nederlands Nieuw Guinea. Perubahan nama tersebut lebih bersifat politis karena Belanda tak ingin kehilagan pulau Papua dari Indonesia pada zaman itu.

Pada tahun 1950-an oleh Residen JP Van Eechoud dibentuklah sekolah Bestuur. Di sana ia menganjurkan dan memerintahkan Admoprasojo selaku Direktur Sekolah Bestuur tersebut untuk membentuk dewan suku-suku. Di dalam kegiatan dewan ini salah satunya adalah mengkaji sejarah dan budaya Papua, termasuk mengganti nama pulau Papua dengan sebuah nama lainnya.
Tindak lanjutnya, berlangsung pertemuan di Tobati, Jayapura. Di dalam turut dibicarakan ide penggantian nama tersebut, juga dibentuk dalam sebuah panitia yang nantinya akan bertugas untuk menelusuri sebuah nama yang berasal dari daerah Papua dan dapat diterima oleh seluruh suku yang ada.

Frans Kaisepo selaku ketua Panitia kemudian mengambil sebuah nama dari sebuah mitos Manseren Koreri, sebuah legenda yang termahsyur dan dikenal luas oleh masyarakat luas Biak, yaitu Irian.

Dalam bahasa Biak Numfor “Iri” artinya tanah, “an” artinya panas. Dengan demikian nama Irian artinya tanah panas. Pada perkembangan selanjutnya, setelah diselidiki ternyata terdapat beberapa pengertian yang sama di tempat seperti Serui dan Merauke. Dalam bahasa Serui, “Iri” artinya tanah, “an” artinya bangsa, jadi Irian artinya Tanah bangsa, sementara dalam bahasa Merauke, “Iri” artinya ditempatkan atau diangkat tinggi, “an” artinya bangsa, jadi Irian adalah bangsa yang diangkat tinggi.

Secara resmi, pada tanggal 16 Juli 1946, Frans Kaisepo yang mewakili Nieuw Guinea dalam konferensi di Malino-Ujung Pandang, melalui pidatonya yang berpengaruh terhadap penyiaran radio nasional, mengganti nama Papua dan Nieuw Guinea dengan nama Irian.
Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisepo pernah mengatakan “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108).

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, dan semakin terpojoknya Belanda oleh dunia internasional dalam rangka mempertahankan Papua dalam wilayah jajahannya, pada 1 Desember 1961, Belanda membentuk negara boneka Papua. Pada tanggal tersebut Belanda memerintahkan masyarakat Papua untuk mengibarkan bendera nasional baru yang dinamakan Bintang Kejora. Mereka menetapkan nama Papua sebagai Papua Barat.
Sedangkan United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), sebuah badan khusus yang dibentuk PBB untuk menyiapkan act free choice di Papua pada tahun 1969 menggunakan dua nama untuk Papua, West New Guinea/West Irian.

Berikutnya, nama Irian diganti menjadi Irian Barat secara resmi sejak 1 Mei 1963 saat wilayah ini dikembalikan dari Kerajaan Belanda ke dalam pangkuan Negara republik Indonesia. Pada tahun 1967, kontrak kerja sama PT Freeport Mc Morran dengan pemerintah Indonesia dilangsungkan. Dalam kontrak ini Freeport gunakan nama Irian Barat, padahal secara resmi Papua belum resmi jadi bagian Indonesia.
Dunia internasional mengakui secara sah bahwa Papua adalah bagian Negara Indonesia setelah dilakukannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969.

Dan kemudian pada tanggal 1 Maret 1973 sesuai dengan peraturan Nomor 5 tahun 1973 nama Irian Barat resmi diganti oleh Presiden Soeharto menjadi nama Irian Jaya.
Memasuki era reformasi sebagian masyarakat menuntut penggantian nama Irian Jaya menjadi Papua. Presiden Abdurrahman Wahid memenuhi permintaan sebagian masyarakat tersebut. Dalam acara kunjungan resmi kenegaraan Presiden, sekaligus menyambut pergantian tahun baru 1999 ke 2000, pagi hari tanggal 1 Januari 2000, dia memaklumkaan bahwa nama Irian Jaya saat itu diubah namanya menjadi Papua seperti yang diberikan oleh Kerajaan Tidore pada tahun 1800-an.
Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua Barat).


Sejarah Penemuan Pulau Papua

dari sekian tatanan sumber daya hutan adat Papua, salah satu sumber  penghasilannya adalah sebagai penghasil rempah-rempah yang cukup terkenal  pada 1521 yang merupakan cikal bakal penemuan pulau Papua oleh maritim
Spanyol dan Portugis, yaitu rempah-rempah yang disebut dengan nama ‘Buah  Pala’ dan juga bulu burung sebagai hiasan yang diperoleh dari burung Cenderawasih.  Sejarah penemuan pulau Papua sebenarnya tercatat sebagai bagian  dari wilayah perburuan rempah rempah yang dilakukan oleh bangsa  Spanyol dan Portugis.

Sebagaimana  yang dicatat bahwa pada awal abad  ke-16 negara-negara Eropa mulai  dalam bidang penemuan maritim  semakin relatif. Spanyol juga terlibat  dalam sebuah pergerakan  kebangkitan, terutama bidang maritim dan mengetahui banyak tempat-tempat harta karun, termasuk Pulau Papua. Portugis  telah mengibarkan benderanya di Papua dengan penjelajahan menggunakan kapal layar yang  sering disebut-sebut sebagai Portuguese fleet.

Baca Juga :  √ Perbedaan Pendudukan Dan Bukan : Penegrtian Dan Aspeknya

Pada abad ini, bangsa Spanyol sudah terlalu jauh terlibat dalam sebuah pergerakan  kebangkitan maritim dan telah berhasil berlayar mengelilingi samudra raya dan mengetahui  banyak tempat penghasil harta kekayaan seperti juga pulau Papua sebagai salah satu kepulauan  penghasil rempah-rempah dan bulu burung yang diperoleh dari hutan adat. Pada abad ini, Inggris  belum meluncurkan angkatan lautnya, sementara itu, Belanda juga belum mendirikan armada angkatan lautnya, sedangkan Portugis sudah lama melakukan perjalanan maritim dan telah menguburkan Raja mereka – Cucu besar Edward III di Inggris – melalui sebuah perusahaan yang  telah mengangkat nama “Henry sebagai sang Navigator”.

Perjalanan berlayar yang dilakukan oleh maritim Spanyol pada mulanya mereka secara  perlahan-lahan berlayar dengan menggunakan kapal layar dan mereka menyusuri pantai barat Afrika, sedikit demi sedikit satu kapten  telah melanggar jarak ketentuan batas  yang dilalui oleh pendahulunya,  sampai akhirnya pada tahun 1497,  mereka berhasil mengelilingi Cape wilayah Afrika selatan benua tersebut itu. Selanjutnya Portugal secara berani  dan terang-terangan melewati batasan  yang lebih jauh dari ribuan mil dan  menapaki bentang luas perairan di  wilayah timur, dan mulai menancapkan bendera di berbagai pelabuhan di samudera Hindia, sebagaimana dilukiskan dalam peta ‘desliens’. (Lihat peta dunia ‘Desliens’- 1566).

Karena Portugis merasa mampu menjelajahi dan telah menancapkan benderanya di berbagai benua  sehingga hal itu mendorong keinginan mereka untuk berlayar lebih jauh ke Timur untuk mencari  kepulauan rempah-rempah. Mereka lalu menemukan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa,  Timor-Timor, Seram, Kepulauan Aru, dan Gilolo (Papua), mereka lalu mencapai maluku yangtelah didambakan, terkenal dan banyak memiliki rempah-rempah atau disebut dengan julukan ‘Spice Island’ dan akhirnya Portugis bekerja dan membangun benteng dan mendirikan stasiun perdagangan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh Inggris di Afrika selatan dan ditempat lainnya.


Peta Papua “New Guinea” Pertama

Pada tahun 1545 Inigo Ortiz de Retez  memerintahkan San Juan untuk berlayar ke  New Guinea (Papua). Mereka berlayar dari Tidore di Maluku, pada awal tahun dan membuat penemuan yang luas di pantai utara Os Papuas, atau Papua New Guinea.  Kemudian Bangsa Portugis dan Bangsa  Spanyol menggambar peta NEW GUINEA  (peta Papua) untuk pertama kalinya sehingga dikembangkan secara sempurna  oleh Hindia Belanda, Amerika dan Jepang  lebih menyempurnakannya seperti yang kita  ketahui sekarang ini. Pada awalnya, Portugis  dan Spanyol m menggambarkannya sebagai unggas Guinea, Cenderawasih, sebagaimana  pada gambar.

Peta Guinea Nova ini bahwa ide atau wawasan mereka tentang bentuknya  Pulau itu belum sempurna namun sudah  tergolong benar. Pada waktu itu ada gagasan asli tentang bentuk suatu negara Papua namun belum sesuai. Namun demikian, beberapa fitur utama penemuan dari Bangsa Portugis dan Bangsa Spanyol di Papua dan New Guinea sampai dengan tahun 1545, hingga sekarang masih  rabun bagi sebagian sejarawan.


Sejarah Politik Papua

a. Papua dalam Penjajahan

Secara internasional persoalan Papua menjadi suatu sorotan utama, walaupun secara nasional Indonesia mengatakan bahwa persoalan Papua adalah persoalan Indoensia, Oleh karena  demikian, maka orang Papua pun berusaha menyuarakan hak-haknya kepada dunia, dan  berusaha untuk berbicara dengan Indonesia melalui perundingan damai, dan Dialog damai agar  tercapai adanya suatu kepuasan politik dan kesejahteraan bagi rakya Papua.  Papua dalam sejarah-Pemerintah Belanda dan Inggris memasuki tanah Papua dan  memberi nama baru “New Guinea dan kemudian disebut Papua New Guinea”.

Kedua negara  kerajaan itu membagai Papua menjadi West Papua New Guine dan East Papua New Guine. West  Papua New Guinea dikuasai pemerintah kerajaan Belanda dan East Papua New Guinea dikuasai  oleh pemerintahan kerajaan Inggris dan Jerman.  Papua Timur membentuk negara berdaulat dengan nama Papua New Guinea. Cakupan wilayahnya mulai dari Western Province dan Sundown Province sampai Samarai dan kepulaun  Manus, Rabaul, Bougenville dan sekitarnya. Sedangkan Papua Barat menjadi bagian dari Negara  Kesatuan Republik Indonesia melalui PEPERA 1969, yang secara hukum internasional telah  terjadi banyak kesalahan oleh Indonesia, Belanda, Amerika Serikat dan PBB. Wilayahnya
meliputi Raja Ampat sampai Merauke.

Peradaban Papua

1. Pendidikan Zaman Pendudukan Asing Di Tanah Papua

a. Kedatangan Orang Portugis dan Spanyol di Tanah Papua Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, bangsa Portugis dan Spanyol terus menelusuri laut Maluku dan terus ke Timur hingga Papua pada tahun 1521, untuk mencari sumber rempah-rempah, hingga akhirnya menemukan pulau Maluku yang di idam-idamkan dan diberi julukan Spice Island. Penelusuran ini akhirnya mereka menguasai pulau-pulau Maluku seperti Ternate, Tidore, Ambon, Bacan, hingga akhirnya Gilolo atau Papua di kuasainya. Tujuan utama daripada penguasaan kepulauan ini tidak lain adalah dalam misi mencari rempah-rempah.

Selain pencarian rempah-rempah, mereka selalu di ikuti oleh misionaris Roma Katolik. Setelah mereka menemukan daerah baru, yang mereka kerjakan adalah menjadikan masyarakat setempat untuk memeluk agama Roma Katolik. Setelah mereka di baptiskan, langkah selanjutnya adalah kepada mereka (penduduk) diberi pendidikan agar agama yang baru dianut itu dapat dipertahankan dan terus berkembang. Agama Kristen Katolik pertama kali di kembangkan di kepulauan Maluku.

Yang pertama tama mengembangkan agama Kristen Katolik di Maluku adalah dari Ordo Franciskan, namun kemudia mereka terdesak oleh Ordo Yezuit di bawah pimpinan Franciscus Xaverius, dimana ia menjadi peletak dasar katolicisme di wilayah Maluku. Untuk mengembangkan agama Kristen Katolik itu, penguasa Portugis di Maluku Antonio Galvano pada tahun 1536 mendirikan sekolah seminary (seminary school).

Mungkin inilah lembaga pendidikan pertama yang dibentuk sebagai sekolah di Maluku dan Indonesia. Di seminary itu, diajarkan agama Kristen Katolik dan baca tulis huruf latin, dan juga diajarkan bahasa latin, karena pada abad itu, bahasa latin sebagai bahasa ilmiah yang populer di dunia. Pendudukan Portugis dan Spanyol di Maluku dan Papua tidak bertahan lama, karena pada akhirnya Belanda dapat mengusir mereka, dan kemudian mengambil alih harta kekayaan Gereja Katolik, termasuk lembaga pendidikannya dan diserahkan kepada Zending Protestan.

Akhirnya pada tahun 1855 dua penginjil kristen Protestan dari Jerman Otow dan Geisler tiba di Mansinam Manokwari Kowawi Papua, dan mengucapkan doa kepada Tuhan: Dengan Nama Tuhan Kami Menginjak Tanah Ini. Selain itu, Otow dan Geisler membuat suatu pesan dalam batu nizan di pulau Mansinam Kowawi, bahwa: Di atas Batu ini saya meletakkan peradaban bangsa ini, walaupun bangsa lain berkembang dan bangkit memimpin bangsa lain namun bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri.

Otow dan Geisler sebagai orang Pertama yang memberitakan pengajaran injil kristen melalui Kristen Protestan, selain itu juga mereka berdua melakukan pendidikan atau mengajar masyarakat setempat dengan tujuan agar pengajaran Kristen Protestan dapat di ajarkan kepada seluruh orang Papua. Akhirnya apa yang diperjuangkan Otow dan Geisler dapat tercapai. Awalnya mereka menangkap seorang anak muda dan membawanya dan mendidiknya bahasa Jerman dan akhirnya anak tersebut dapat mengerti bahasa Jerman selanjutnya ia di ajari alkitab dengan tujuan agar injil kristan dapat disampaikannya kepada keluarga, masyarakat dan berkembang hingga keseluruhan orang Papua. Otow dan Geisler dianggap sebagai bapak pencerahan bagi orang Papua pada abad 18, selain itu,
mereka sebagai Bapak Peradaban orang Papua.

Baca Juga :  √ Otonomi Daerah : Solusi Beserta Masalahnya

Cerita Daerah Papua

Di daerah Fak-fak, tepatnya terletak di daerah pegunungan Bumberi, hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing betina tersebut mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan merupakan ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan juga bahagia di alam.

√ Cerita Daerah Papua : Legenda Asal Usul Burung Cendrawasih

Suatu hari, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu lama sudah mereka tempuh, tetapi mereka belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa capek karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada sebuah tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah.

Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan memberinya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina tersebut memakan suguhan segar itu. Anjing betina tersebut merasa segar dan kenyang.

Tetapi, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh diperutnya. Perut anjing tersebut mulai membesar dan semakin membesar . Perempuan tua itu mulai memeriksanya dan merasa yakin bahwa sahabatnya (anjing betina) tersebut bunting. Tak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan tersebut, si Perempuan tua bergegas memungut buah pandan untuk dimakannya, kemudian dia pun mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya.

Perempuan tua tersebut melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya kemudian memelihara anak mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki itu diberinya nama Kweiya.

Setelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, dia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam berbagai bahan makanan dan sayuran. Alat yang digunakan untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu), karenanya Kweiya hanya bisa menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang sudah rebah untuk membersihkan tempat itu sapai asap tebal mengepul ke langit. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka sudah menarik perhatian orang dengan adanya kepulan asap itu.

Konon ada seorang Pria Tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat sebuah tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Dia terdiam memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Rasa penasaran mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu muncul. Kemudian dia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, dia pun bergegas berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata banyak memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki akhirnya dia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.

Setibanya di tempat itu, ternyata yang ditemui ialah seorang pria tampan yang sedang membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan memakai sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, dia menghampiri kemudian memberi salam : weing weinggiha pohi (artinya, selamat siang), sambil memberikan kapak besi pada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba tersebut. Sejak saat itu pohon-pohon pun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang sedang beristirahat di pondoknya menjadi heran. Dia menanyakan hal tersebut kepada Kweiya, dengan alat apa dia menebang pohon itu sehingga bisa rebah dengan begitu cepat.

Kweiya nampaknya mau merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian dia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk bisa menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat lihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang sungguhan.

Karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya bergegas menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Sesudah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga bisa diterima sebagai teman hidupnya.

Dalam perjalanan menuju rumah, Kweiya memotong beberapa tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan bungkusan tebu tersebut di luar rumah. Di dalam rumah, Kweiya pura-pura merasa haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk dimakannya sebagai minum. Ibunya memenuhi permintaan anaknya kemudian keluar mau mengambil sebatang tebu. Tetapi saat ibunya membuka bungkusan tebu tadi, terkejutlah dia karena melihat seorang pria yang ada di dalam bungkusan itu. Serta merta ibunya menjerit ketakutan, namun Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Dia berharap supaya ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu sudah berbuat baik kepada mereka. Dia sudah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima usul anak nya, dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.

Setelah beberapa waktu, lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tersebut, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak tertua mereka. Sedangkan anak-anak yang lahir kemudian dianggap menjadi adik-adik kandung dari Kweiya. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, hubungan persaudaraan di antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri Kweiya merasa iri pada Kweiya.

Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya sepakat untuk mengeroyok Kweiya dan mengiris tubuhnya sampai luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya tersebut, Kweiya berdiam diri disalah satu sudut rumah sambil memintal tali dari kulit pohon Pogak Ngggein (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang, mereka bertanya dimana Kweiya berada, namun kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya. Kemudian adik bungsu mereka, yakni seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar certa itu Si ibu tua merasa iba pada anak kandungnya. Dia berusaha memanggil-manggil Kweiya supaya datang. Namun yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi Eek..ek,ek,ek,ek! sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya kemudian meloncat-loncat di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.

Ibunya yang melihat keadaan itu kemudian menangis tersedu- sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang sudah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang ada di sudut rumah. Ibu tua itu kemudian segera mencari koba-koba kemudian benang pintalannya itu disisipkan pada ketiaknya kemudian menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan suatu pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Ke-2nya berkelahi di atas pohon sambil berkicau dengan suara wong,wong,wong,wong,ko,ko,ko,wo-wik!!

Baca Juga :  √Apa itu Dividen: Pengertian, Teori, Jenis, Tujuan, Pengaruh

Sejak saat itulah burung cendrawasih muncul di bumi. Ada perbedaan antara burung cendrawasih jantan dan betina, burung cendrawasih yang buluhnya panjang dinamakan siangga sedangkan burung cendrawasih betina dinamakan hanggam tombor yang artinya perempuan atau betina.

Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib  tersebut merasa menyesal kemudian saling menuduh siapa yang salah sampai ditinggalkan oleh ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sampai wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, kemudian mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka pergi ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak saat itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik dibandingkan dengan cendrawasih.

Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna bulu, tetapi mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir bulu yang indah itu justru mendatangkan malapetaka untuk mereka. Dia berpikir suatu saaat orang akan memburu mereka, termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa karena mereka tak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah bulu. Sekarang ayahnya kesepian dan sedih, Dia melipat kedua kaki kemudian menceburkan dirinya ke dalam laut dan  menjadi penguasa laut Katdundur.


Luas Pulau Papua

Pulau Papua atau Guinea Baru (bahasa Inggris: New Guinea, bahasa Indonesia: Nugini) atau yang dulu disebut dengan Pulau Irian, adalah pulau terbesar kedua (setelah Tanah Hijau) di dunia yang terletak di sebelah utara Australia. Pulau ini dibagi menjadi dua wilayah yang bagian baratnya dikuasai oleh Indonesia dan bagian timurnya merupakan negara Papua Nugini. Di pulau yang bentuknya menyerupai burung cendrawasih ini terletak gunung tertinggi di Indonesia, yaitu Puncak Jaya (4.884 m).

Nama Irian digunakan dalam Bahasa Indonesia untuk mengacu terhadap pulau ini juga terhadap provinsi, sebagaimana “Provinsi Irian Jaya”. Nama ini diusulkan pada tahun 1945 oleh Marcus Kaisiepo,[1] saudara dari Gubernur yang akan datang Frans Kaisiepo. Nama ini diambil dari Bahasa Biak yang berarti beruap, atau semangat untuk bangkit. Nama ini juga digunakan dalam bahasa pribumi lain seperti Bahasa Serui, Bahasa Merauke dan Bahasa Waropen.[1] Nama ini digunakan sampai tahun 2001 di mana pulau beserta provinsinya kembali dinamakan Papua. Nama Irian yang awalnya disukai oleh penduduk asli Papua, sekarang dianggap sebagai nama yang diberikan oleh Jakarta.


Gambar Peta Papua

peta pulau papau

Suku di Pulau Papua

  • Suku Amungme

Suku Amungme (juga dikenal sebagai Amui, Hamung, Amungm, Amuy, Dalma atau Uhunduni) adalah kelompok orang dengan populasi sekitar 17.700 orang yang tinggal di dataran tinggi provinsi Papua dari Indonesia. Bahasa mereka disebut Dhamal.

Keyakinan tradisional masyarakat Amungme yaitu animisme. Orang-orang Amungme tidak memiliki gagasan tentang “dewa” yang terpisah dari alam di mana roh-roh dan alam adalah satu dan sama.

Mereka mempraktekkan pertanian berpindah, melengkapi mata pencaharian mereka dengan berburu dan meramu. Amungme sangat terikat dengan tanah leluhur mereka dan menjadikan pegunungan sekitarnya adalah tempat yang disucikan.


  • Suku Arfak

Suku Arfak adalah Masyarakat Pegunungan Arfak yang tinggal di sekitar Kota Manokwari, Provinsi Papua Barat. Suku Arfak terdiri dari 4 sub suku antara lain:

  • Suku Hatam.
  • Suku Moilei.
  • Suku Meihag.
  • Suku Sohug.

Setiap suku ada Kepala Sukunya, dalam satu suku terdapat beraneka ragam marga, misalnya Suku Moilei, ada marga Kowi, Saiba, Mandacan, Sayori, Ullo, Ayok, Indow, Wonggor dan masih banyak marga lainnya. 5 suku 5 Bahasa artinya bahwa setiap suku terdapat 1 bahasa dan budaya yang berbeda-beda.


  • Suku Asmat

Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.


  • Suku Bauzi

Suku Bauzi, disebut juga dengan Baudi, Bauri atau Bauji, merupakan satu dari sekitar 260-an suku asli yang kini mendiami Tanah Papua. Oleh lembaga misi dan bahasa Amerika Serikat bernama Summer Institute of Linguistics (SIL), suku ini dimasukan dalam daftar 14 suku paling terasing. Badan Pusat Statistik (BPS) Papua pun tak ketinggalan memasukan suku Bauzi kedalam daftar 20-an suku terasing yang telah teridentifikasi. Bagaimana tidak, luasnya hutan belantara, pegunungan, lembah, rawa hingga sungai-sungai besar yang berkelok-kelok di sekitar kawasan Mamberamo telah membuat suku ini nyaris tak bersentuhan langsung dengan peradaban modern. Kehidupan keseharian suku ini masih dijalani secara tradisonal.


  • Suku Dani

Dani adalah salah satu dari sekian banyak suku bangsa yang terdapat atau bermukim atau mendiami wilayah Pegunungan Tengah, Papua, Indonesia dan mendiami keseluruhan Kabupaten Jayawijaya serta sebagian kabupaten Puncak Jaya.


Rumah Adat Papua

NAMA RUMAH ADAT PAPUA, baik Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat, keduanya sama-sama disebut Honai.

Secara morfologis, honai berasal dari dua kata, yaitu “Hun” yang artinya pria dewasa dan “Ai” yang artinya rumah. Secara harfiah, honai berarti rumah laki-laki dewasa. Namun bukan hanya dihuni oleh laki-laki dewasa, kaum perempuan juga mempunyai honai hanya saja dalam pengistilahannya berbeda. Untuk kaum wanita, hanoi disebut “Ebeai”. Seperti halnya honai, Ebeai terdiri dari dua kata, yakni “Ebe” atau tubuh dalam pengertian kehadiran tubuh dan “Ai” yang berarti rumah.

rumah papua

Walaupun rumah adat antara Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua Timur sama-sama disebut Honai, namun ada juga suku Arfak di Papua Barat yang mendirikan Mod Aki Aksa, artinya rumah kaki seribu.

Rumah yang terdiri dari satu lantai kayu dengan atap yang dibuat dari daun-daun sagu atau jerami ini memiliki ciri khas yaitu memiliki desain berbentuk kerucut serta memiliki atap yang terbuat dari jerami dan memiliki pintu yang kecil serta lantainya disangga oleh tiang pilar penyangga. Rumah ini dibuat tertutup dengan model tanpa dan hanya memiliki dua buah pintu yaitu depan dan belakang. Disebut rumah kaki seribu karena memiliki tiang penyangga di bagian bawah rumah yang banyak.

 

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai Cerita Daerah Papua : Asal-Usul, Sejarah, Peta, Politik, Peradaban, Gambar, Suku, Luas Dataran, Rumah Adat, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.