√ Cerita Pemikiran Tan Malaka : Beserta Sejarahnya

Diposting pada

Cerita Pemikiran Tan Malaka

Dia adalah seorang yang sudah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora. Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan sekarang mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini kaya gagasan filosofis, tapi juga lincah berorganisasi.

√ Cerita Pemikiran Tan Malaka : Beserta Sejarahnya

ORDE Baru sudah melabur hitam peran sejarahnya. Tapi, harus diakui, di mata sebagian anak muda, Tan memiliki daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa, menggali pemikiran dan langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya disebarluaskan melalui jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan dengan berbisik. Walau dalam perjalanan hidupnya Tan akhirnya berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sosoknya sering kali dikaitkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.

Perlakuan serupa menimpa Tan di masa Soekarno berkuasa. Soekarno, lewat kabinet Sjahrir, memenjarakan Tan selama 2 setengah tahun, tanpa pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat dia terlempar dari lingkaran kekuasaan. Saat PKI akrab dengan kekuasaan, Bung Karno memilih Musso orang yang sudah bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal partai ketimbang Tan. Sedangkan D.N. Aidit memburu testamen politik Soekarno pada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan kepada 4 nama salah satunya Tan jika Soekarno dan Hatta mati atau ditangkap. Akhirnya Soekarno sendiri membakar testamen itu. Testamen itu berbunyi kalau saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi pada seorang yang sudah mahir dalam gerakan revolusioner yaitu Tan Malaka.

politik

Politik memang kemudian menenggelamkannya Di Bukittinggi, di kampung halamannya, nama Tan cuma didengar sayup-sayup. Saat Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti Tan sejak 36 tahun lalu, mendatangi Sekolah Menengah Atas 2 Bukittinggi, Februari lalu, guru-guru sekolah tersebut terkejut. Sebagian guru tak tahu Tan pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang dulu bernama Kweekschool (sekolah guru) tersebut pada 1907-1913. Sebagian lain justru tahu dari murid yang rajin browsing di Internet. Mereka masih tak yakin, hingga kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi di balik lemari sekolah.

Di sepanjang hidupnya, Tan sudah menempuh pelbagai royan dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik, sampai Perang Dunia II. Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 ini adalah tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Dia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), serta Soekarno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).

Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu sudah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda radikal Sayuti Melik, contohnya mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno saat diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh kalau isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pleidoinya, Indonesia Menggugat.

W.R. Supratman pun sudah membaca habis Massa Actie. Dia memasukkan kalimat Indonesia tanah tumpah darahku ke dalam lagu Indonesia Raya sesudah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk Khayal Seorang Revolusioner. Di situ Tan antara lain menulis, Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri Kewajiban seorang yang tahu akan kewajiban putra tumpah darahnya.

Di seputar Proklamasi, Tan menorehkan perannya yang sangat penting. Dia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama pada proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan masih sebatas catatan di atas kertas. Tan menulis aksi itu uji kekuatan guna memisahkan kawan dan lawan. Setelah rapat ini, perlawanan pada Jepang makin berani dan gencar.

Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita yang sangat menarik. Poeze bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, contohnya Sayuti Melik, bekas Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam Malik, sudah memberikan kesaksian. Tapi kesaksian itu mesti didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tidaklah banyak. Memang ada rekaman film dari Berita Film Indonesia Tapi mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.

Poeze mengambil jalan berputar Dia menghimpun semua ciri khas Tan dengan mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang sudah didatangi Tan. Contohnya, selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Dia cuma membawa paling banyak 2 setel pakaian. Dan sejak keterlibatannya dalam gerakan buruh di Bayah, Banten, pada 1940-an, Dia selalu memakai celana selutut. Dia juga selalu duduk menghadap jendela setiap kali berkunjung ke sebuah rumah. Ini untuk mengantisipasi kalau polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Dia mempunyai 23 nama palsu dan sudah menjelajahi 2 benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer, 2 kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika Latin.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Cerita Pemikiran Tan Malaka : Beserta Sejarahnya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :

Read More  √ Profil dan Biografi R.A Kartini : Nama Lengkap, Pendidikan dan Keluarganya
Read More  √ Pengertian Ringkasan : Bentuk, Ciri, dan Contohnya
Read More  √ Pengertian Prosa Adalah : Daftar Isi, Ciri, Jenis dan Contohnya
Read More  √ Cara Kerja Enzim : Pengertian, Teori, Fungsi, Sifat, Biokatalisator