√ Catatan Sejarah : Kanibalisme, Dan Menurut Para Ahli

Diposting pada

Kanibalisme

Daftar Isi Artikel Ini

AwalMula Sejarah

Kanibalisme di Nusantara pertama disampaikan oleh Marco Polo penjelajah asal venesi,a Italia. Alkisah, tahun 1292 Marco Polo sedang menyusuri pesisir Sumatera. Di perjalanannya, dia terkejut ketika melihat ada masyarakat yang sedang mengkonsumsi daging manusia.

Tidak hanya di satu tempat saja, tetapi Marco Polo menyaksikan kembali praktik kanibalisme di kerajaan Dagroian, Aceh. Yang dimana masyarakat di sana memakan daging kerabatnya yang sedang sakit parah yang sudah tidak dapat diselamatkan lagi.

“Ketika salah satu dari kerabat mereka jatuh sakit, mereka akan memanggil seorang penyihir untuk datang dan mencari tahu apakah penyakit itu dapat sembuhkan atau tidak. Jika penyihir itu berkata orang itu akan mati, maka kerabat itu akan memanggil orang tertentu yang khusus untuk membunuh orang sakit tersebut. Ketika orang itu sudah mati, mereka memasaknya yang kemudian akan disantap seluruh badannya oleh seluruh kerabat,” tulis Marco Polo, “Para Kanibal serta raja-raja di Sumatera Utara tahun 1290-an,” dimuat  diSumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

“Menurut kepercayaan yang mereka anut,” catat Marco Polo, “kalau ada satu bagian saja yang tertinggal, maka bagian itu akan mengeluarkan cacing-cacing yang mati kelaparan. Bersamaan dengan kematian cacing-cacing tersebut, jiwa orang mati tadi akan mendatangkan dosa besar serta kesengsaraan. Oleh karena itu, mereka menyantap seluruh tubuh orang mati tadi.”

KanibalismeMenurut Para Ahli

Bukan hanya berkenaan dengan kepercayaan, kanibalisme juga dilaksanakan sebagai hukuman bagi yang kalah perang atau melanggar suatu peraturan. Oscar von Kessel seorang peneliti yang meneliti masyarakat Batak tahun 1844.

Pendapatnya, masyarakat Batak menganggap kanibalisme sebagai suatu perbuatan hukum terhadap pelanggaran seperti pencurian, perzinaan, mata-mata, ataupun pengkhianatan. Garam, merica merah serta lemon disediakan keluarga korban sebagai tanda menerima hukuman itu dan tidak balas dendam.

Baca Juga :  √Dialog Interaktif: Pengertian, Ciri, Tujuan, Manfaat,Unsur

Pengalaman yang sama dialami arkeolog Friedrich Schnitger. Ketika sedang penelitian di Padang Lawas, Sumatra Selatan tahun 1935, dia menemukan peninggalan seperti sebuah candi yang dipercaya sebagai sisa-sisa kerajaan Poli pada abad ke-12.

Pendapatnya, kerajaan ini berasal dari sebuah sekte mengerikan yang bernama Sekte Bhairawa yang memuja dewa-dewa berwujud mengerikan, seperti iblis. Mereka mempunyai ritual memakan daging manusia dalam upacara pemujaan dikuburan.

Menurut Schnitger pada “Reruntuhan Kerajaan Tak Bernama,” biasanya upacara ini dimulai setelah beberapa jam matahari terbenam. Manusia yang hidup akan dikorbankan lalu di ambil jantungnya oleh pendeta dan menuangkan darahnya ketengkorak untuk diminum sampai habis.

“Sebelum datangnya bangsa Eropa, kanibalisme merupakan hal lazim,” tulis Friedrich Schnitger, terdapat pada Sumatera Tempo Doeloe. “Seperti kami, siapa pun yang kenal dengan negeri dan penduduk diSumatera Utara pasti sudah paham bagaimana ilmu sihir, jampi-jampi, dan yang sejenisnya, memegang peranan yang sangat penting dikehidupan sehari-hari masyarakat ini.”

Menurut Bernard HM Vlekke, kanibalisme merupakan ritual karena unsur utama ialah panteistik, yaitu segala sesuatu dan makhluk yang memiliki “jiwa” dan “energi kehidupan.” “Kebiasaan kanibalisme serta pengayauan yang kini sudah punah bertujuan untuk mengambil-alih ‘energi kehidupan’ dari musuh yang telah terbunuh,” tulis Vlekke di Nusantara: Sejarah Indonesia.

Dalam kasus lain, kanibalisme berlaku bagi seorang yang dituduh sebabagi mata-mata serta tawanan perang. “Mereka bisa menangkap orang asing yang bukan dari daerahnya, mereka akan menahan orang tersebut. Apanila orang itu tidak sanggup menebus dirinya sendiri, maka mereka akan membunuh sertaa memakannya langsung di tempat,” tulis Marco Polo. “Itu merupakan kebiasaan yang sangat buruk dan juga menjijikan.”

Kanibalisme di Nusantara mulai menghilang setelah tahun 1890 pada pemerintahan kolonial Belanda yang melarang segala bentuk kanibalismeHindia Belanda.

Baca Juga :  √Proses Pencernaan Makanan : Mulut, Gigi, Lidah, Lambung dan Lainnya

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Catatan Sejarah : Kanibalisme, Dan Menurut Para Ahli, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :