√ Burung Punai : Asal-Usul Dan Makna Ceritanya

Diposting pada

Asal Usul Burung Punai

Daftar Isi Artikel Ini

Diceritakan pada zaman dahulu di daerah Pelalawan, Riau, tinggallah sepasang suami istri serta seorang anak laki-lakinya bernama Bujang. kehidupan mereka sangat miskin, tetapi keduanya sangat menyayangi anak semata wayangnya. Mereka berharap dengan berdoa pada Tuhan supaya anaknya nanti menjadi anak shaleh, berbudi luhur, berilmu pengetahuan serta berguna untuk masyarakat.

√ Burung Punai : Asal-Usul Dan Makna Ceritanya

Orang tuanya bekerja keras mencari rezeki halal untuk modal mendidik si Bujang. Setiap hari Ayahnya pergi ke ladang serta mencari ikan di sungai untuk di jual ke desa tetangga. Walaupun berjalan berhari-hari sambil membawa beban berat, Ayahnya tidak mengeluh ataupun merasa lelah demi. Uang hasil penjualan tersebut, tabungnya sedikit demi sedikit. Ia hidup hemat dengan makan serta berpakaian seperlunya. Ia senantiasa berdoa pada Tuhan supaya diberikan kesehatan untuk mencari rezeki demi masa depan bujang.

Beberapa Bulan kemudian Si Bujang tumbuh menjadi anak yang sehat, lincah serta cerdas membuat orang tuanya bangga dan bahagia.

Setelah besar, Bujang diserahkan kesurau di kampung untuk belajar mengaji. Sejak saat itu ia jadi rajin pergi mengaji bersama teman-temanya. Kalau kampungnya kena banjir, ayahnya selalu mengantar Bujang dengan perahu kecil serta ketika pulang dijemput ibunya.

Terdapat suatu kebiasaan di Pelalawan, jika air surut serta tanah sudah kering, maka anak-anak akan main gasing. Tetapi, banyak orang tua yang tidak suka hal itu karena anak-anaknya akan terlalu asyik bermain sampai lupa segalanya.

Suatu hari musim bergasing itupun tiba. Bujang beserta temannya asyik bermain gasing dari pagi sampai petang. orangtuanya gelisah. Bujang beberapa hari ini tidak pergi mengaji bahkan guru mengajinya sering ke rumah untuk. Hal ini membuta orangtuanya kesal.

Disuatu petang, si Bujang baru pulang bermain gasing yang sudah ditunggu orang tuanya. Melihat itu emaknya menyambu bujang dengan pertanyaan, “Jang, sudah berapa hari kamu tidak mengaji ke surau? Kamu tetap asyik bermain gasing sampai lupa segalanya. Apa tidak bosan bermain gasing, Jang? Kamu ingin emak kasih makan gasing?” Mendengar hal itu Bujang hanya diam sambil menunduk.

Setelah itu ayahnya berkata. “Jang, ayah lihat kamu asyik bermain gasing saja. Bahkan kamu sampai lupa makan-minum, terutama mengaji. Sejak bermain gasing, kamu tidak membantu emakmu lagi. Apa kamu dapat kenyang makan gasing?” ucap sang ayah.

Si Bujang hanya diam tidak berani membantah, karena merasa salah. Tetapi, omelan orang tuanya tidak melekat di hatinya semua perkataan itu masuk telinga kanan keluar dari telinga kiri. Waktu ayahnya ke ladang, ia pergi bermain gasing lagi setiap harinya. Orang Pelalawan berkata, “jika anak sudah kena hantu gasing, ia tidak bisa bekerja apa pun.”

Bujang tidak pulang beberapa hari sampai ayahnya sudah tidak mau mencarinya lagi. Pada malam hari, Ayah berkata pada istrinya, “mungkin ini resiko dari memanjakan anak. Si Bujang semakin dimanja tambah menjadi-jadi. Oleh sebab itu, dari sekarang kita biarkan saja, tidak perlu dihiraukan.” Mendengar ucapan suaminya, sang Istri hanya mengangguk.

Mereka sudah dikecewakan oleh anaknya sehingga mereka jengkel dan ketika keladang tidak pernah lagi memasak nasi untuk si Bujang.

Pada suatu hari sebelum keladang, ibunya memasak gasing serta talinya digulai untuk si Bujang. Melihat orang tuanya berangkat keladang, si Bujang pulang ke rumah. Karena merasa kelaparan, ia membuka periuk hanya ada sebuah gasing. Lalu membuka belanga, isinya gulai tali gasing. Karena kecewa, si Bujang menangis seraya bernyanyi:

Sing… Tali gasing

alit gasing dan buah keras

sampai hati ibu!

ditanaknya saya gasing

digulainya tali gasing

menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya

makan buah kayu ara.

Tumbuh bulu sehelai, lalu ia menyanyi lagi:

Sing… Tali gasing

alit gasing dan buah keras

sampai hati ibu!

ditanaknya saya gasing

digulainya tali gasing

menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya

makan buah kayu ara.

Tumbuh bulu sehelai lagi, ia pun terus bernyanyi:

Sing… Tali gasing

alit gasing dan buah keras

sampai hati ibu!

ditanaknya saya gasing

digulainya tali gasing

menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya

makan buah kayu ara.

Si Bujangpun terus bernyanyi, sampai badannya ditumbuhi bulu. Lalu berubahlah si Bujang jadi seekor Burung Punai. Ia terbang ke arah jendela, lalu terbang ke atap dan terbang tinggi di udara. Dari udara ia melihat orang tuanya. lalu ia hinggap di atas sebuah pohon kayu ara tinggi di ladang. Kemudian Ia bernyanyi lagi.

Mendengar nyanyian Burung Punai, ibu Bujang berujar pada suaminya, “Bang, coba dengar suara burung bernyanyi dipohon itu! Tampaknya suara anak kita si Bujang.” Ayah Bujang berdiri serta berhenti menyiangi rumput. Lalu mendengar baik-baik suara burung itu.

Sing… Tali gasing

alit gasing dan buah keras

sampai hati ibu!

ditanaknya saya gasing

digulainya tali gasing

menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya

makan buah kayu ara.

Setelah mendengarkan suara itu dengan jelas, “Benar, istriku! Itu suara anak kita bujang,” ujar sang Ayah yakin.

Lalu emaknya berteriak “Kemarilah, Nak! Ini ada nasi… !” Dari atas pohon itu, burung punai menjawab, “Tidak, Emak…! aku sudah jadi Burung Punai. Aku makan buah kayu ara.” lalu burung itu pun mematuk serta memakan buah. Sang Ayah melihat itu merasa kasihan, ia mengambil kapak untuk menebang pohon itu. Burung Punai pindah ke pohon yang lain setelah pohon itu tumbang. Kemudian ia bernyanyi lagi.

 “kesinilah, anakku! emak bawakan nasi untukmu!” bujuk emaknya supaya burung punai jelmaan si bujang mendekat. “Tidak, Emak! Aku sudah jadi burung. Saya hanya makan buah kayu ara,” tolak Burung Punai itu.

Karena Burung Punai itu tidak mau mendekat, Ayah Bujangpun menebang semua pohon ara tempat burung itu hinggap. Maka Burung Punaipun akan terbang ke pohon lainnya sambil bernyanyi lagu yang sama.

Tidak terasa, kedua orang tuanya sudah meninggalkan ladang. Sampai pada suatu hari perbekalan mereka habis dan tidak tahu jalan pulang. Karena kelaparan kedua orang tua Bujangpun meninggal di hutan. Sedangkan si Bujang tetap jadi Burung Punai selamanya.


Makna Cerita

Cerita rakyat tersebut mengandung nilai-nilai moral yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ada dua nilai moral yang bisa dipetik dari cerita diatas, yaitu pentingnya mendidik seorang anak dan akibat jadi anak yang durhaka. Sikap dalam mementingkan pendidikan anak tercermin adri sikap orang tua si Bujang yang selalu bekerja keras mencari nafka untuk masa depan anaknya. Sedangkan sifat durhaka tercermin pada si Bujang yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tuanya sehingga ia berubah menjadi seekor burung punai.


demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Burung Punai : Asal-Usul Dan Makna Ceritanya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :

Baca Juga :  √ Asal Usul Bunga Kemuning : Sejarah, Kisah dan Peristiwa nya
Baca Juga :  √ Bekasi Kota Patriot : Asal-Usul, Sejarah, Dan Perubahan Struktur
Baca Juga :  √ Asal Usul Telaga Warna Beserta Sejarah
Baca Juga :  √ Asal Usul Danau Toba : Cerit Zaman Dahulu Kala