√ Asal Usul Sungai Mahakam

Diposting pada
√ Asal Usul Sungai Mahakam

Dahulu, di hulu Sungai Mahakam, ada sebuah pondok besar dihuni oleh tiga orangbersaudara. Saudara tertua adalahseorang gadis bernama Siluq, kedua bernama Ayus, serta yang bungsu bernamaOngo. Mereka mempunyai tabiatserta keahlianyang berbeda-beda, kecuali si bungsu yang masih kecil. Siluq ialah gadis yang gemar melakukan bebelian(ritual adat) dan bedewa (memuja dewa) guna mencari kesaktian. Hampir setiap hari gadis itu bersemedi sampai terkadang lupa makan danminum.

Sementara itu, Ayus yaitu seorang remaja lelaki yang ceroboh serta suka ikut campur urusan kakaknya. Ayus mempunyai badan besar dan kuat. Pohon besar bisa dengan mudah dicabutnya. Langkah kakinya sangat panjang sehingga ia bisa berlari secepat angin. Sedangkan si Bungsu yang masih berumur belasan tahun tidak mempunyai keahlian apapun kecuali makan dan tidur.

Suatu malam, Ayus dan Ongo tidak bisa tidur karena tilam (kasur) dan bantal mereka basah. Karena hujan lebat turun semalam suntuk sehingga mengakibatkan atap rumah mereka bocor, air hujan pun masuk ke dalam pondok mereka. Siluq tidak merasakan datangnya hujan dikarenakan sedang khusyuk bebelian dan bedewa.

Pagi harinya, Ayus dan Ongo ingin ke hutan untuk mencari daun serdang untuk mengganti atap rumah mereka yang rusak. Saat itu, Siluq trelihat masih bebelian dan bedewa. Sebenarnya, Ayus merasa kesal dengan kelakukan kakaknya seolah-olah tidak menghiraukan keadaan rumah mereka.

“Kak Siluq, hari sudah siang!” seru Ayus, “Aku dan Ongo ingin ke hutan mencari daun serdang. Selesai bebelian, kakak yang memasak untuk makan siang!”

Mendengar suara adiknya, Siluq pun terkejut dan sadar dari semedinya. Ia merasa kecewa karena semedinya belum selesai tetapi sudah dibangunkan adiknya.

“Baiklah, aku nanti yang akan memasak,” jawab Siluq kemudian berpesan pada kedua adiknya, “Sepulang dari hutan, jangan sekali-kali kalian membuka tutup periuk. Cukup kalian tambahkan kayu bakar apabila memang apinya mulai kecil.”

Baca Juga :  √Pengertian Pencemaran Udara: Penyebab dan Dampaknya

“Baik, Kak,” jawab Ayus dan Ongo.

Ketika Ayus dan Ongo berangkat ke hutan, Siluq mengambil beberapa lembar daun padi untuk dimasak. Setelah dibersihkan, daun padi itu di masukkan ke dalam periuk yang sudah diisi air. Dan ia kembali melanjutkan semedinya dan berdoa pada dewa supaya daun padi yang dimasak berubah menjadi nasi.

Menjelang siang, Ayus dan Ongo kembali dari hutan dengan membawa daun serdang. Mereka terlihat lelah dan lapar. Ayus pun langsung ke dapur. Alangkah kecewanya ia ketika melihat periuk nasi masih terjerang di atas tungku.

“Kenapa pancinya masih di atas tungku? Atau Jangan-jangan nasinya belum matang,”gumam Ayus .

Karena Ayus penasaran maka ia pun membuka penutup panci tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika melihat panci itu yang di dalamnya hanya ada beberapa lembar daun padi dan sebagian lainnya berupa nasi. Takut ketahuan oleh kakaknya, ia dengan cepat menutup panci itu.

Siluq baru saja selesai bebelian. Kemudian ia pergi ke dapur untuk memastikan apakah nasinya sudah tanak atau belum. Begitu dibuka penutup panci itu, dilihat masih ada beberapa lembar daun padi yang tersisa.

“Hai, bukankah seharusnya nasi ini sudah matang semua? Tetapi, kenapa masih ada lembar daun padi yang tersisa?” gumam Siluq heran, “Ini pasti perbuatan Ayus. Anak itu sudah melanggar pesanku.”

Siluq terlihat sangat marah. Karena perilaku adiknya itu, kini kesaktian memasak daun padi menjadi nasi telah hilang. Karena kesal, ia segera menghampiri Ayus yang sedang duduk beristirahat di samping pondok mereka.

“Hai, Ayus. Kamu sudah melanggar pesanku. Tidak ada guna lagi kita tinggal bersama. Lebih baik aku pergi dari sini. Aku akan tinggal di dekat pusat air. Di sana aku bisa bebas bebelian dan bedewa tidak ada yang mengganggu,” kata Siluq.

Baca Juga :  √Apa itu Surat Edaran: Pengertian, Ciri, Jenis, Fungsi, Bagian

Usai berkata demikian, Siluq mengemas pakaiannya. Sebelum pergi, ia membawa ayam jantan sakti kesayangannya. Kemudian Siluq menyusuri sungai menuju hilir dengan menggunakan rakit. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada adik-adiknya.

“Aku harus pergi sekarang. Jaga diri kalian baik-baik,” ujar Siluq.

Ayus terdiam. Ia menyesal atas perilakunya yang mengakibatkan kakaknya pergi. Ketika melihat rakit Siluq melaju dialiran sungai, dengan cepat ia berlari untuk menghadang kakaknya. Ayus kemudian mengambil batu-batu besar dan melemparkannya ke tengah Sungai Mahakam sampai terbentuk bendungan. Rakit Siluq pun mulai melambat ketika sudah dekat bendungan itu, ia menyuruh ayam saktinya berkokok.

“Berkokoklah, ayamku!” seru Siluq.

Ayam jantan itu pun berkokok dengan suara yang bisa menghancurkan bendungan Ayus. Rakit Suliq kembali melaju menuju ke hilir. Ayus kembali berlari kencang mendahului kakaknya untuk membuat bendungan lagi. Ketika ayam milik kakaknya berkokok lagi, bendungan itu hancur berkeping-keping. Hal tersebut terjadi berulang-ulang sampai rakit Siluq tetap bisa menghilir karena kesaktian suara kokok ayamnya.

Rakit yang tumpangi Siluq terus melaju sampai akhirnya tiba di muara Sungai Mahakam. Ayus tidak bisa lagi membuat bendungan karena tidak ada batu-batu besar di daerah itu. Dengan kekuatannya, ia menambak kuala sungai dan mengambil lumpurnya serta mencabut nipah-nipah yang tumbuh di pinggir sungai. Nipah-nipah tersebut lalu ditanam pada tambak buatannya sampai terbentuk hutan nipah. Setelahnya, Ayus menunggu rakit Siluq melewati tempat itu. Ketika rakit itu ingin melewati hutan nipah , ayam jantan Siluq berkokok sehingga hutan nipah itu pun hancur dan terbentuklah aliran-aliran sungai bernama Kuala Bayur, Kuala Berau, serta sejumlah delta di Kuala Mahakam.

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke laut lepas, Siluq berkata kepada Ayus.

Baca Juga :  √ Persamaan Kedudukan Warga Negara Beserta Penjelasannya

“Ayus, tolong jangan kau haling jalanku lagi.Biarkan aku mendekatkan diri pada Sang Hyang Dewata di pusat air,” pinta Siluq,“Aku akan bebelian sertabedewa guna menenteramkanjiwa. Dari sana, aku akan menjaga mu dan Ongo.” Setelah itu rakit Suliq tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di pusatair. Ayus sangat terkejut menyaksikan peristiwa itu. Ia benar-benar tidak bisa menahan kepergian kakaknya dan menyesal karena telahmelanggar janji.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai asal susul sungai mahakan , semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :