√ Asal Usul Kota Depok : Sejarah, Presiden, Depok Tua

Diposting pada

Saat ini orang lebih mengenal kota Depok sebagai kota pelajar, khususnya dengan adanya kampus Universitas Indonesia (UI) dan beberapa kampus lainnya. Kawasan Margonda adalah kawasan yang paling hidup dan hampir selalu macet, karena banyak mall berdiri disana. Kawasan ini oleh warga Depok sering disebut sebagai kawasan Depok Baru.

√ Asal Usul Kota Depok : Sejarah, Presiden, Depok Tua

Sejarah Depok

Masyarakat Depok menyebut sebuah wiayah yang dikenal dengan nama Depok Lama. Karena wilayah inilah asal muasal dari kota Depok. Sejarahnya, kata Depok itu berasal dari kata padepokan, karena dahulu disana banyak tempat untuk melakukan semedi. Tetapi utak atik gatuk ada juga menyebutkan bila asal nama Depok merupakan berasal dari singkatan dari bahasa Belanda yaitu “De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen” yang mempunya arti jemaat Kristen yang pertama.

Menurut sejarahnya Kota Depok berawal dari seorang yang bernama Cornelis Chastelein yang mendatangkan seorang “budak” yang berasal dari luar Jawa (Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Timor). Namun, karena Cornelis Chastelein anti dengan perbudakan, jadi para penggarap tanah pertanian  tak disebut dengan “budak” melainkan dianggap seperti keluarga dan membentuk 12 marga.

Ke-12 marga iniah yang keudian menjadi cikal bakal penduduk dari kota Depok, dan memiliki status sebagai warga yang eksklusif karena dibedakan dengan para pendudukan lokal. Perbedaan ini karena mereka itu bisa berbicara bahasa Belanda, serta hidup seperti orang Eropa baik dalam berbusana maupun dari segi budayanya, anak-anak juga memperoleh pendidikan dan sekolah dengan bersepatu, berbeda dengan anak-anak penduduk lokal yang bertelanjang kaki. Sekolah di Depok pada zaman dahulu yang jadi saksi sejarah ialah Europeesch Lagere School (sekarang bernama SDN Pancoran Mas).

Kesenjangan ini pulalah yang kemudian memicu pengusiran dari warga lokal pada saat era kemedekaan, karena mereka semua dianggap sebagai antek penjajah, dan sekarang ini tinggal tersisa sedikit sekali keturunan dari ke-12 marga itu.

Depok Lama

Tak susah menemukan kawasan dari Depok Lama, jika dari stasiun UI, Anda cukup naik commuter line terus turun di tiga stasiun selanjutnya yaitu stasiun (Pondok Cina-Depok Baru-Depok Lama). Atau apabila Anda dari jalan Margonda, maka naiklah dari stasiun Pondok Cina terus turun di dua stasiun selanjutnya (Depok Baru- Depok Lama).

Menurut sejarahnya istilah dari Pondok Cina, ialah tempat untuk menginap para pedagang dari Cina yang kemalaman sesudah seharian berdagang di Depok. Cornelis Chastelein seorang pendiri kota Depok pada masa lalu, melarang para pedagang Cina tinggal dan menginap di kota Depok.

Dan sekarang Pondok Cina lebih dikenal dengan nama jalan Margonda Raya, jika Anda melihat bangunan tua yang berwarna putih yang memiliki arsitektur neo-classic, yang saat ini berupa cafe The Old House Coffee, merupakan salah satu bangunan peninggalan pada masa lalu yang dibangun oleh seorang arsitek Belanda. Sekarang sudah berdiri sebuah mall Margo City dan hotel disekitarnya.

Stasiun Depok merupakan stasiun tua yang saat ini beroperasi dengan jumlah empat jalur rel kereta api yang menghubungkan daerah Depok menuju Jakarta dan Bogor. Pada saat turun commuter line, Anda akan melihat jalan di kiri-kanannya banyak dari puluhan pedagang minuman dan makanan. Dan diantara para pedagang, berdiri sebuah gedung tua dulu pernah berfungsi sebagai seminari yang menghasilkan pendeta Kristen dan rohaniwan. Seminari ini adalah cikal bakal Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Jakarta. sekarang bangunan seminari ini dipergunakan menjadi sebuah gereja yaitu Gereja Kristen Pasundan.

Presiden Depok

Pada tahun 1861 Depok mempunyai pemerintahan yaitu presiden yang sudah diakui Kerajaan Belanda dan dibantu oleh Sekretaris, seorang Ahli Pembukuan dan juga dua orang Komisaris. Tercatat di dalam sejarah kota Depok, Johanes Matheis Jonathan, adalah presiden Depok ke-5 dan juga yang terakhir. Presiden dipilih berdasarkan oleh pemilihan umum.

Jika ingin mencari rumah presiden Depok pun tak susah, karena rumahnya berada di depan pada sebuah monumen yang dibangun tepat di halaman depan bekas istana presiden Depok. Di jalan ini juga ada bangunan tua yang direstorasi menjadi sebuah restoran Khasanti yang memasarkan berbagai kuliner asli Kota Depok. Namun, kuliner Depok ini masih sulit untuk dideteksi, karena kuliner Depok zaman dulu dipengaruhi kuliner Belanda, contohnya sup breinebon, makaroni, bistik dan lain sebagainya.

Gereja Tertua

Bangunan tua bersejarah lainnya ialah gereja tertua yang ada di Depok. Kota yang terkenal sebagai kota yang memiliki banyak gereja, ada kurang lebih 50 gereja yang ada kota Depok. Itu disebabkan karena Cornelis Chastelein mendirikan sebuah komunitas berbudaya Belanda berlandaskan dengan nilai-nilai dari Kristiani. Setiap pintu gereja, Anda akan melihat sebuah pahatan dari ke-12 marga. Namun, masyarakat Depok menyebut warga dan 12 marga serta para keturunannya dengan nama “Belanda Depok”. Gereja tertua ini sekarang berfungsi menjadi gereja GPIB Immanuel.

Yaitu Yayasan Lembaga Cornelis Chasletein yang saat ini menaungi aset-aset para komunal warga asli Depok. Dan juga berfungsi menjadi lembaga sosial serta pendidikan para keturunan 12 marga Depok. Di gedung juga anda bisa menyaksikan peninggalan-peninggalan masa lalu dari kota Depok.

Dan bagi para pecinta sejarah dan juga bangunan kuno, di kota Depok, khususnya di Depok Lama dapat anda jadikan daftar tujuan wisata untuk menjelajah masa lalu. Ada dua institusi diketahui pernah menyelenggarakan kegiatan Jelajah Depok ialah Jakarta Food Adventure dan Love Our Heritage.

demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id mengenai √ Asal Usul Kota Depok : Sejarah, Presiden, Depok Tua, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.

baca juga :

Baca Juga :  √ Asal Usul Kota Bengkulu : Sejarah, Pangeran Kerajaan, Empang Ka Hulu Asal Mula Nama Bengkulu

Baca Juga :  √ Cerita Rakyat Jawa Tengah : Legenda Gunung Wurung
Baca Juga :  √ Cerita Rakyat Jambi : Putri Cermin Cina dan Penjelasannya
Baca Juga :  √ Cerita Rakyat Bali