√8 Prasasti Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Diposting pada
√8 Prasasti Peninggalan Kerajaan Pajajaran

1. Prasasti Cikapundung

Prasasti Cikapundung ditemukan oleh warga daerah di sekitar Sungai Cikapundung, Bandung pada tanggal 8 Oktober 2010. Dalam Batu Prasasti ini mempunyai tulisan Sunda kuno yang menurut perkiraan berasal dari abad ke-14. Tidak hanya ada huruf Sunda kuno, pada prasasti terdapat beberapa gambar seperti telapak tangan, wajah, telapak kaki dan juga 2 baris huruf Sunda kuno dengan tulisan ” unggal jagat jalmah hendap” dengan arti semua manusia di dunia ini dapat mengalami sesuatu apapun. Seorang peneliti utama dari Balai Arkeologi Bandung yaitu Lufti Yondri berkata kalau prasasti itu adalah Prasasti Cikapundung.

2. Prasasti Huludayeuh

Prasasti Huludayeuh terletak di bagian tengah sawah di Kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber setelah pemekaran Wilayang menjadi Kecamatan Dukupuntang, Cirebon. Prasasti ini sudah sejak lama diketahui oleh masyarakat sekitar akan namun untuk para arkeologi dan juga ahli sejarah baru mengetahui keberadaan prasasti itu di bulan September 1991. Isi dari prasasti itu terdiri dari 11 baris tulisan beraksa serta bahasa Sunda kuno. Naun batu prasasti itu ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak utuh serta membuat beberapa aksara juga ikut hilang. Permukaan batu prasasti itu juga sudah agak rusak serta beberapa tulisan sudah aus sehingga beberapa isi dari prasasti itu tidak bisa terbaca. Secara garis besar, prasasti ini menceritakan mengenai Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata yang berkaitan dengan beberapa usaha untuk membuat makmur negerinya.

Baca Juga :  √ Legenda Gunung Merapi

3. Prasasti Pasir Datar

Prasasti ini ditemukan pada sebuah perkebunan kopi yang berada di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi di tahun 1872 dan sekarang telah disimpan pada Museum Nasional Jakarta. Prasasti tersebut terbuat dari material batu alah yang masih belum ditranskripsikan sampai saat ini sebab isinya sendiri belum dapat diartikan.

4. Prasasti Perjanjian Sunda Portugis

Sejarah Kerajaan PajajaranPrasasti Perjanjian Sunda Portugis adalah prasasti dengan bentuk tugu batu yang berhasil ditemukan tahun 1918 di Jakarta. Prasasti tersebut menjadi tanda dari perjanjian Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Portugis yang dibuat oleh utusan dagang Kerajaan Portugis dari Malaka yang di pimpin Enrique Leme yang membawa beberapa barang untuk diberikan pada Raja Samian [Sanghyang] yaitu Sang Hyang Surawisesa seorang pangeran yang menjadi pimpinan utusan Raja Sunda.

Prasasti ini dibangun diatas permukaan tanah yang pula ditunjuk sebagai tempat benteng serta gudang orang Portugis. Prasasti ini ditemukan dengan cara melakukan penggalian ketika membangun sebuah gudang di bagian sudut Prinsenstraat yang sekarang menjadi jalan cengkeh dan puls Groenestraat yang sekarang menjadi jalan Kali Besar Timur I dan telah termasuk ke dalam wilayah Jakarta Barat. Sementara untuk replikanya sudah dipamerkan pada Museum Sejarah Jakarta.

5. Prasasti Ulubelu

Prasasti Ulubelu ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung tahun 1936. Meski ditemukan di Lampung, Sumatera Selatan, namun para sejarawan menduga jika aksara yang dipergunakan pada prasasti ini adalah aksara Sunda kuno yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Pajajaran itu. Anggapan ini pun dipekruat dengan wilayah dari Kerajaan Sunda yang juga termasuk wilayah Lampung. Setelah kerajaan Pajajaran runtuh oleh Kesultanan Banten, kekuasaan Sumatera Selatan itu dilanjutkan Kesultanan Banten. Isi dari prasasti ini ialah mantra mengenai permohonan pertolongan yang ditujukan pada para Dewa utama yaitu Batara Guru [Siwa], Wisnu dan Brahma serta Dewa penguasa tanah, air dan pohon supaya keselamatan dari semua musuh bisa didapatkan.

Baca Juga :  √ Legenda Damarwulan dan Sejarahnya

6. Situs Karangkamulyan

Prasasti ini ada di Desa Karangkamulyan, Ciamis, Jawa Barat yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh Hindu Buddha. Situs Karangkamulyan tersebut menceritakan tentang Ciung Wanara berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini kental dengan kisah pahlawan hebat yang memiliki kesaktian serta keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa serta hanya dimiliki oleh Ciung Wanara. Dalam area sekitar 25 Ha itu tersimpan berbagai benda mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang kebanyakan berupa batu.

Batu-batu itu tersebar dengan berbagai bentuk serta beberapa batu yang ada di dalam bangunan strukturnya iti dari tumpukan batu dengan bentuk yang hampir mmirip dan bangunan memiliki sebuah pintu yang membuatnya tampak seperti sebuah kamar. Batu-batu itu memiliki nama dan kisah yang berbeda-beda. Nama-nama itu diberikan oleh masyarakat sekitar yang diperoleh dengan cara menghubungkan kisah Kerajaan Galuh seperti pangcalikan atau tempat duduk, tempat melahirkan, lambang peribadatan, cikahuripan serta tempat sabung.

7. Prasasti Kebon Kopi II

Prasasti Kebon Kopi II adalah peninggalan dari Kerajaan Sunda Galuh yang ditemukan tidak jauh dari Prasasti Kebon Kopi I yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Tarumanegara. Tapi prasasti ini hilang karena dicuri pada sekitar tahun 1940-an. Seorang pakar bernama F.D.K Bosch pernah mempelajari prasasti itu serta menuliskan jika dalam prasasti ada tulisan bahasa Melayu kuno yang menceritakan mengenai seorang Raja Sunda menduduki tahtanya kembali dan menafsirkan angka tahun kejadian bertarikh 932 Masehi. Prasasti tersebut ditemukan di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat abad ke-19 ketika sedang dilaksanakan penebangan hutan untuk dibuat lahan kebun kopi lalu prasasti ini ada di sekitar 1 km dari batu prasasti Kebonkopi I yaitu Prasasti Tapak Gajah.

Baca Juga :  √ Fungsi Jaringan Saraf : Pengertian, Struktur dan Jenisnya

8. Prasasti Batutulis

Prasasti Batutulis diteliti tahun 1806 yaitu dengan pembuatan cetakan tangan Universitas Leiden di Belanda. Pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich pada tahun 1853 dan sampai tahun 1921 sudah terhitung 4 orang ahli yang juga meneliti isi dari Prasasti Batutulis itu, akan tetapi Cornelis Marinus Pleyte menjadi satu-satunya orang yang lebih mengulas mengenai lokasi dari Pakuan, sementara peneliti lain lebih fokus dalam megnartikan isi dari Prasasti.  Penelitian dari Pleyte itu dipublikasikan pada tahun 1911 lalu di dalam tulisannya yaitu Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg yang berarti menjadi angkat tahun pada Batutulis dekat Bogor.

Demikianlah artikel dari duniapendidikan.co.id tentang √8 Prasasti Peninggalan Kerajaan Pajajaran semoga dapat bermanfaat bagi yang membacanya

Baca Juga :